
"Kau semakin menyebalkan Amnesty."
"Ara, apa kau marah... bisakah aku menghabiskan tehku dulu sebelum kita bertarung."
"Aku harus menendang pantatmu."
"Itu tidak bisa, semua pria memuja pantat indahku."
"Pria lebih suka dada besar."
Rion menciptakan tanaman yang merambat dari bawah kakinya yang langsung menerjang ke arah Amnesty, itu menghancurkan semuanya di sana kecuali Amnesty sendiri yang bergerak ke samping.
Dia memunculkan musket di tangannya kemudian menembakan laras panjangnya yang berupa peluru sihir.
Dengan beberapa tembakan tanaman Rion hancur berantakan, Amnesty mengarahkan ujung moncongnya pada Rion selagi tersenyum jahil.
"Kurasa sulit untuk menendang pantat indahku."
"Kenapa kau mengatakan indah, itu benar-benar menjijikan."
Peluru kembali ditembakkan, Rion membuat pertahanan dengan pohon yang tubuh di depannya, saat Amnesty bergerak ke sampingnya dia mengirim tinju yang dengan mudah musuhnya hindari.
"Rion, itu masih belum cepat.. kau harus memukulku melebihi kecepatan peluru untuk bisa mengenaiku."
"Gak."
Dengan pegangan musket Amnesty menghantam perut Rion sehingga tubuhnya terlempar ke ujung pulau, di detik-detik akhir dia bisa bertahan nyaris kakinya terjerumus ke bawah sayangnya musuhnya benar-benar mempermainkan Rion.
Dia berdiri di dekatnya selagi mengirim tendangan, Rion menangkap kaki Amnesty.
"Bagaimana bisa? Ah, skill dosa mematikan kah."
__ADS_1
"Tepat sekali."
Rion melempar tubuh Amnesty hingga dia menjauh darinya, mata Rion kini hanya dipenuhi kegelapan di mana cahaya tidak masuk sedikitpun. Saat ia mengarahkan tangannya seluruh tanaman menjerat tubuh Amnesty seolah sedang mempermainkannya.
Ini jelas sebuah pertarungan tidak beradab di mana satu sama lain hanya mencoba mempermalukan lainnya.
"Ah, hentikan... ini, ini memalukan."
Sementara Rion tertawa jahat Amnesty tampak terengah-engah dengan pipi memerah.
Tak lama dari udara beberapa musket tambahan bermunculan lalu menghancurkan jeratan Amnesty yang bisa membuatnya menarik nafas lega.
"Serangan yang kejam."
"Itu belum apa-apa."
Setiap musket kini menembakan peluru mereka, Rion mengelak dengan kecepatan tinggi hingga setiap dia bergerak hampir sulit untuk menentukan arahnya seolah dia benar-benar menghilang meski begitu pakaiannya sempat terkena hingga itu terlihat compang-camping di bagian tertentu.
Rion yang terdiam dicengkeram dadanya kemudian dilemparkan ke pulau melayang yang ada di bawahnya, tidak hanya satu dia menembus beberapa pulau sebelum menghancurkan salah satu patung dewi.
"Apa yang kau lakukan? Patungku hancur."
"Kau bisa membangunnya lagi nanti," jawab Rion acuh tak acuh dan lalu melompat ke belakang ketika sebuah roket dijatuhkan padanya.
Dia mendarat di pulau di bawahnya sementara pulau yang terkena ledakan tampak berlubang dengan dewi yang meratapi di sebelahnya.
"Rumahku."
Sang pelaku jatuh dari langit dan mendarat dengan anggun tanpa melepas musket di tangannya.
"Jika terkena serangan barusan itu lebih baik dibanding terkena serangan berikutnya yang akan kukeluarkan," ucap Amnesty tersenyum sombong.
__ADS_1
"Itu bukan apa-apa, nah Amnesty apa kau menyadari sesuatu di bawah rokmu."
"Itu.. eh? Mana, hilang."
Amnesty yang meraba-raba roknya akhirnya menyadari sesuatu yang janggal, saat di mengalihkan pandangan kembali dia melihat Rion sedang memegang CD miliknya.
Itu memiliki warna putih bersih tanpa kotor sedikitpun.
"Ka-kau, sejak kapan? Ah, saat aku dililit tadi."
"Aku akan menjadikannya pusaka keluarga, dan mengatakan bahwa ini punya ratu para dewi... mereka akan senang membayar berapapun untuk melihatnya."
Amnesty menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Aku jelas tidak akan membiarkannya, berikan padaku."
Bagaimanapun orang melihatnya ini memang pertarungan tidak beradab.
"Elemental Bridge... Jalan Kehancuran."
"Pelindung."
Doar, doar, doar.
Dengan susah payah ia akhirnya mendapatkan barang miliknya dan lalu memakainya di tempat sebelum mengarahkan ujung senapannya dan berkata.
"Arrow Shooter."
Amnesty menciptakan lingkaran sihir raksasa dan dari sana bola angin diluncurkan dengan kecepatan tinggi.
Menahannya adalah pilihan yang salah jadi Rion menghindarinya dan itu menghancurkan pulau lainnya, dan dewi yang bersedih kembali bertambah banyak.
__ADS_1