Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 103 : Senjata Untuk Membunuh Titan


__ADS_3

Setelah mendapatkan sedikit penjelasan kami semua diberikan asrama pribadi yang terlihat mewah, tak hanya aku ada dua wanita berpenampilan seperti pelayan juga yang menemaniku.


Salah satu wanita berambut abu-abu bernama Rose dan satu lagi wanita dengan rambut merah muda Nia.


Mereka bukan manusia mereka adalah artefak suci yang terbuat dari roh yang diberikan oleh pihak kerajaan ini, dengan menggunakan mereka bahkan zirah besi yang menutupi Titan bisa dihancurkan dengan mudah.


Berbeda dengan peserta lain aku mendapatkan dua senjata, dari awal bukan kami yang memilih tapi mereka yang memilih penggunanya.


Aku membaringkan tubuhku di ranjang terlentang.


"Ada suara aneh dari kamar sebelah apa yang mereka lakukan?"


"Mereka sedang melakukan hubungan intim, kudengar dengan melakukan itu bisa mempererat hubungan satu sama lain, apa tuan ingin melakukannya juga?" tanya Rose sopan.


"Tidak, aku tidak sebejat itu."


"Benarkah? Kami memiliki tubuh bagus apa tidak sayang?" tambah Nia.


"Yah mungkin lain kali."


Aku mengatakannya agar keduanya tidak tersakiti, aku melanjutkan.


"Apa ada jalan untuk bisa keluar dari negara ini?"


"Itu mustahil tuan, jika kau melakukannya kau pasti akan dibunuh... pada dasarnya, kerajaan ini hanya mementingkan dirinya sendiri."


"Soal kami bisa kembali?"


"Itu hanya kebohongan, Nia dan aku sudah lama mengawasi kerajaan ini.. kami berpura-pura terperangkap di gudang penyimpanan namun sebenarnya kami lebih sering berkeliaran di luar."


"Jadi begitu, dan penjelasan kalian dengan Titan berbeda jauh dengan apa yang dikatakan Venus."


"Aah, konflik ini telah terjadi 4000 tahun, dan sepertinya pihak Ortodok suci ingin menggunakan kalian sebagai pion saja."


"Apa pahlawan lain menyadarinya?"

__ADS_1


"Tidak, hanya kita saja yang tahu."


"Aku sarankan tuan jangan mengatakan ini kepada siapapun atau mungkin anda akan terbunuh... paling tidak kita ikuti peraturan mereka sampai kita ditempatkan di kota tertentu dan dari sana kita akan bisa melarikan diri," ucap Nia mengambil tempat tidur di sampingku sementara Rose mengambil sisi lain dan bertanya.


"Memangnya apa yang ingin tuan lakukan?"


"Saat dipanggil ke sini, seorang gadis terjebak denganku.. aku rasa dia terlempar ke dunia ini juga, aku ingin segera menemukannya."


"Kami mengerti, kami adalah roh kontrakmu.. kami akan selalu berada di pihakmu."


"Terima kasih."


Pagi berikutnya kami semua dipaksa pergi ke area pelatihan bersama, di sini kami berlatih keras dengan artefak suci yang masing-masing kami miliki.


Rose dan Nia berubah menjadi pedang kembar yang masing-masing berwarna hitam.


Aku hanya mengayunkannya secara asal-asalan agar tidak menarik perhatian pengawas, dibanding penuh kebebasan kami jelas hidup seperti sebuah alat.


"Untuk sekarang latihan kalian sudah selesai, sore hari ada latihan sihir sampai saat itu kalian bisa beristirahat."


Hanya orang-orang bodoh yang menjawab itu dengan senang, aku diam-diam memberikan secarik kertas pada Amari dan ia mengangguk mengiyakan.


Dia adalah orang yang kutanyai sebelumnya.


Di sampingnya ada gadis kecil dengan pakaian gothic dan rambut ungu sepinggul yang merupakan artefak suci miliknya berupa katana.


Dia memolototiku penuh permusuhan.


"Apa yang anda berikan pada gadis muda itu?"


"Aku ingin memberikan informasi sesungguhnya padanya, aku memang berniat untuk merahasiakannya namun kedepannya akan sulit jika harus seorang diri."


"Tuan ingin membuat sekutu."


"Benar, apa kalian keberatan."

__ADS_1


"Kami hanya menuruti permintaan tuan dan juga soal kemarin."


"Baiklah kita lakukan."


"Terima kasih banyak," Rose dan Nia mengenakan kembali pakaian mereka dan saling merapikan rambut mereka yang berantakan.


Diam-diam aku minta maaf pada Paula karena sudah menginjak tangga kedewasaan lebih dulu darinya.


Tidak, dia wanita mungkin saja dia lebih dulu melakukannya.


Selagi aku memikirkan hal bodoh di kepalaku, sebuah ketukan terdengar dari pintu yang mana yang masuk merupakan Amari Kizuna.


Mulai sekarang aku akan memanggilnya Kizuna saja.


"Sudah kubilang master, Anda seharusnya tidak datang ke kamar pria... lihat dia baru saja melakukan itu dengan pelayannya."


"Tenang Charlotte, itu wajar dia pria jadi sulit untuk menahannya."


"Humph... jika dia macam-macam padamu aku akan memenggal kepalanya."


Aku tanpa sadar menelan ludah selagi memegangi leherku.


Rose dan Nia memelukku seolah ketakutan.


"Sebelumnya aku tidak mengenalnya tuan tapi tidak salah lagi, dia Charlotte yang itu."


"Kalian berdua benar-benar tidak sopan... apa yang kalian maksud dengan itu, sialan."


"Maafkan kami."


Kizuna memiliki ekpresi sulit di wajahnya dia tersenyum masam selagi menggaruk pipinya.


"Jadi siapa dia?"


"Dia ratu para roh," keduanya berkata di waktu bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2