Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 406 : Sebuah Kejanggalan


__ADS_3

Di lantai lima kami mengahadapi musuh yang merepotkan, itu terdiri dari serangga kumbang raksasa dengan kulit setebal besi.


Beberapa dari kami terluka hanya lewat tanduknya, sebagai pencegahan Farida menyembuhkan mereka dengan baik.


Aku bersyukur bahwa ada Arch Priest di kelompok ini, Dalius memutar tubuhnya selagi mengayunkan pisau kembar di tangannya, gerakannya cukup cepat seolah dia menari-nari di udara.


Kendati demikian tubuhnya terlempar ke belakang setelah menyemburkan darah dari mulutnya, Livia datang menggantikannya, tebasan yang dia buat sekarang sangatlah kuat hingga mampu merobek kulit tebal itu dan aku menyelesaikan sisanya dengan tombak angin.


Hampir semua orang telah kelelahan dengan nafas yang tersengal-senggal.


Harty dan aku masih memiliki tenaga namun menunggu waktu saja hingga kami juga akan mengalami hal sama. Valentine telah mencapai batasnya.


Dari langit kumpulan kumbang yang lain mulai berterbangan mendekat. Harty merubah dirinya menjadi seekor naga sementara aku melompat di tubuhnya.


"Maaf Lion, kami hanya menghambatmu," ucap Dalius.


"Tidak, kalian juga sudah berjuang sejauh ini."

__ADS_1


Itu bukanlah kebohongan melainkan perkataanku yang jujur, dengan jumlah sebanyak ini siapapun akan kesulitan.


"Harty kita maju."


"Laksanakan."


Aku menarik dua pedang lalu mengayunkannya bersamaan dengan Harty yang melesat dengan kecepatan suara. Kumbang-kumbang itu terpotong dengan mudah jika bukan karena pedang ini dibuat dari sisik Wyvern hampir sulit menebas mereka.


Aku melompat ke atas untuk mengirim tebasan berikutnya, Harty di bawahku mencengkeram dua kumbang ke tangannya lalu meremukkannya hingga berubah jadi batu sihir.


Aku yang berada di atasnya menyelimuti pedang dengan sihir air dan dua naga meluncur mengincar targetnya, menghancurkannya dengan baik sebelum akhirnya aku kembali mendarat di punggung Harty.


"Kerja bagus, mari kembali mendarat."


"Ngomong-ngomong Lion, apa kau menyadari sesuatu?"


"Sesuatu?"

__ADS_1


"Maksudku ada hal aneh tentang tempat ini, misal kenapa tidak orang lain lagi selain kita di sini dan juga monster yang keluar jauh lebih banyak saat kita berkumpul dengan mereka."


"Jika dipikirkan memang benar, bukannya Labirin Besar ini adalah tempat favorit bagi petulang, itu aneh jika hanya kita yang ada di sini."


"Ini mungkin hanya tebakanku... tapi ada semacam sesuatu yang mencegah orang masuk ke dalam Labirin Besar setelah kita, sebelum masuk aku melihat kumpulan orang-orang hanya berdiri di luar labirin, kupikir mereka sedang menunggu rekan mereka tapi jika dipikirkan itu aneh."


Aku diam memikirkannya namun tidak bisa menemukan jalan permasalahannya tapi Harty segera melanjutkan.


"Aku pernah membaca sebuah buku tentang penciptaan labirin, di sana dikatakan bahwa pengaturan serta penempatan monster dilakukan oleh pemilik labirin tersebut, ada kemungkinan."


Aku memotong tepat di akhir penjelasan Harty.


"Di antara kita ada pemilik labirin yang menyamar."


"Benar sekali, kita belum tahu tujuannya kuharap itu bukan suatu yang buruk."


Kami segera mengabaikan pembicaraan kami sebelumnya dan berdiri seolah tak terjadi apapun, tubuh kami sudah lelah karena pertarungan tak henti-hentinya.

__ADS_1


Di lantai berikutnya kami memutuskan untuk beristirahat selagi merawat luka-luka kami, kami tinggal sementara waktu di dalam gua di bawah air terjun, ada monster di luar dan sebisa mungkin kami mencegah agar pertarungan tidak terjadi.


Aku memanggang beberapa tusuk sate yang mana kubagikan secara merata, Dalius, Farida, Siel dan juga Theo sebenarnya siapa pemilik dari labirin ini.


__ADS_2