
Rumia mengangkat tongkatnya dan dalam sekejap lima Titan berhasil dikendalikan, aku melirik untuk melihat sekeliling kurasa para pasukanku juga mengalami hal sama.
Kelima raksasa itu membuka mulutnya dan dengan sekali ayunan aku menebas mereka dalam sekejap, untuk sesaat aku bisa melihat pemandangan mereka yang sebelumnya adalah manusia.
Bagaimana pun kini telah terlambat untuk menyelamatkan mereka.
Rumia tampak sedikit terkejut namun hanya butuh sesaat untuknya pulih, di saat yang sama Gracia telah muncul di belakangnya bersiap mengayunkan pedang.
Pedang itu memotong tangan Rumia sebelum dia menggunakan sihirnya, dengan wajah kosong Rumia hanya bisa melihat tangan yang menyemburkan darah ke udara.
"Kenapa ini terjadi, harusnya manusia mati, jika kalian tidak ada suamiku dan putriku tidak perlu mati oleh kalian, dan kami masih bisa hidup bersama."
Gracia menyarungkan kembali pedangnya dan berbalik untuk menghilangkan armor yang dikenakannya.
"Kita hanya berada di telapak tangan orang yang membuat peperangan ini terjadi, jika kau tidak menyerah bahkan sulit untuk memiliki hidup normal bagi para Titan ke depannya."
"Apa maksudmu? Sudah jelas manusia yang telah mengambil tanah kami, mereka adalah monster yang mengerikan.. kalian juga berperang untuk demi manusia bukan."
"Kau salah paham, kami tidak bertarung untuk satu ras, kami bertarung untuk dunia."
__ADS_1
"Haha jangan bercanda.. dunia, manusia hanya makhluk serakah."
Gracia menatap dingin ke arah Rumia.
"Lalu apa bedanya denganmu, kau membuat manusia menjadi Titan dan sekarang kau berfikir bahwa kau bukan monster... keluargamu terbunuh tapi sekarang kau bahkan membunuh keluarga yang tidak bersalah, jangan bercanda... kau lebih jahat dari apa yang kau benci itu."
Kepercayaan diri yang kulihat dari Rumia kini telah lenyap, dia hanya duduk dengan bahu terkulai lemas. Sementara satu tangannya sudah hilang.
Aku mendekat dan melanjutkan.
"Masih belum terlambat untuk kau membuat pilihan benar, aku akan menciptakan rumah baru bagi kalian, bahkan tidak akan ada siapapun yang bisa mengganggu kalian nanti. Maka dari itu berhentilah melawan dan ikutlah dengan kami, Nibela akan menjadi penguasa negara dan berusaha membuat kalian hidup damai."
Rumia tertawa.
Sebelum aku dan Gracia tahu apa yang terjadi tubuh kami dihempaskan oleh angin besar, di mana Rumia berdiri telah digantikan oleh sosok Titan setinggi 70 meter dengan baju besi yang dibalut api.
Dia meraung ke arahku.
"Grrraaaaah."
__ADS_1
Aku bisa mengerti apa yang dia inginkan, dibanding hidup damai dia memilih untuk mati, dia telah kehilangan keluarganya dengan tragis hingga alasan untuk hidup telah hilang saat itu juga.
Ini adalah sesuatu yang menyedihkan.
Titan Rumia berlari ke arahku dengan langkah lebar, dia terus mendekat tanpa peduli apapun yang dihancurkan di sekelilingnya.
"Lion?" ucap Rion dalam bentuk pedangnya terdengar khawatir.
"Tidak ada jalan lagi, aku akan mengabulkan harapan terakhirnya."
"Kau ingin menanggungnya sendiri?" potong Aira.
"Tak masalah, ia hidup sangat menderita hal yang bisa aku lakukan bukanlah apa-apa."
Aku memasukan pedang Aira ke dalam sarungnya sementara pedang Rion telah kupegang dengan dua tanganku.
Aku memasukan sihir ke dalamnya lalu mengayunkannya dengan cepat, di jarak lima meter tubuh raksasa Rumia terhenti, baju besi yang menyelimutinya hancur bersamaan tubuhnya yang roboh ke samping.
Untuk sekilas saja bayangan satu keluarga yang tampak bahagia muncul di depan mataku, dia adalah Rumia, suaminya dan putrinya yang masih kecil yang tersenyum senang.
__ADS_1
Aku menundukkan wajahku untuk menahan air mataku dan bergumam.
"Aku ingin segera membuat dunia ini jadi lebih baik."