Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 445 : Di Bawah Cahaya Malam


__ADS_3

"Mengetahui semuanya bukan berarti mampu membuat perubahan, kalian semua akan mati di sini."


Boneka dalam jumlah banyak mengepung kami yang mana masing-masing dari mereka tidak melemparkan pisau seperti sebelumnya melainkan menyerang secara langsung, selain bertarung tidak ada yang bisa kami lakukan.


"Kami akan mengatasi yang di sini, Lion majulah."


Semua orang lebih memilih menyerahkan semuanya padaku, jika demikian apa boleh buat. Aku melangkah maju dengan dua pedang yang berhasil menebas beberapa boneka.


Pria mumi menghentakan kakinya dan sebuah boneka lain muncul di bawah kakinya, itu mengejutkan bahwa dia juga memiliki koleksi boneka yang berbeda yaitu sebuah kelabang raksasa terbuat dari kayu.


Sebuah pipa keluar dari mulutnya dan dari sana asap ungu menyembur membungkusku dalam aroma yang menyengat. Sayangnya aku kebal dengan racun maka dari itu aku menghembuskannya dengan sihir angin kepada pemiliknya hingga dia melompat ke belakang.


Dia takut dengan racunnya sendiri rupanya.


Aku pun menyusulnya, dia menggunakan pagar rumah sebagai pijakan untuk melompat ke tempat tinggi, kupikir sebelumnya lawanku hanya orang gila yang suka membunuh ternyata tebakanku salah.


Pria mumi ini bukan sekedar membunuh dia juga memiliki visi dan misi yang menurutnya benar walaupun itu menyimpang.

__ADS_1


Kelabang di belakangku mengejarku jadi aku mengurusnya lebih dulu, kugunakan sihir angin untuk melesatkan beberapa bilah yang memotongnya menjadi beberapa bagian, itu membuatnya tak bergerak dalam hitungan detik saja.


"Cih, merepotkan saja."


Pria mumi berdiri di atas genteng selagi menatapku dalam diam, sampai sekarang aku masih penasaran bagaimana dia bisa melihat, di bawah cahaya bulan purnama perban di tangannya mulai berkibar tertiup angin.


Selanjutnya itu memanjang lalu mengikatku seperti sebuah jaring laba-laba, dengan kuat dia melemparkanku jatuh ke salah satu rumah membuatnya berlubang, di dalam sana ada pria dan wanita yang sedang melakukan adegan dewasa dan aku hanya mendesah pelan.


"Maaf menggangu."


"Kyaaaa."


"Maaf mengganggu."


Rumah yang kulewati jelas hancur dan dari lubang yang diciptakan sosok pria mumi masih berdiri di tempatnya, perban yang di gunakannnya bukan perban biasa, saat aku berniat memotongnya perban itu menjadi semakin kuat.


Aku melompat ke atas bangunan di dekat pria mumi dengan menggunakan sihir teleportasi.

__ADS_1


"Apa perban itu yang membuatmu masih hidup sampai sekarang, kau mengambil energi kehidupan orang-orang yang kau bunuh untuk terus hidup bukan."


Dia tidak menjawab jadi itu benar.


Selain ingin membalas dendam fakta bahwa dia dikendalikan perban itu tak terbantahkan, saat aku memeriksa mayat yang digantung di menara jam energi kehidupan mereka telah diambil di saat-saat terakhir, demi menyembunyikan itu pria mumi menciptakan goresan tanda x di tubuh mereka seolah mereka benar-benar dibunuh dengan cara seperti itu.


Sayangnya aku tidak sebodoh itu.


Perban itu kembali menyerangku, aku melompat dan itu terus mengikutiku kemanapun aku bergerak, jatuh ke bawah, naik ke atas, bergerak ke samping sesuatu yang kulakukan sekarang tapi aku tidak pernah menurunkan penjagaanku.


Perban ini hanya sebagian dari kekuatannya, kekuatannya sesungguhnya masihlah pengendali boneka. Setelah boneka yang digunakannya masih disibukan oleh anggota partyku sekarang dia menggunakan orang-orang yang berlarian sebagai boneka, singkatnya boneka hidup."


"Sekarang bagaimana kau mengatasi ini?"


Benar-benar licik.


Salah satu perban melilit kakiku dan sekali lagi aku jatuh menukik tanah dengan keras, seberapa aku berusaha memotongnya hanya berakhir sia-sia.

__ADS_1


Aku jelas tidak ingin memotong kakiku demi lolos dari serangan ini.


__ADS_2