Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 134 : Kembali Ke Dungeon


__ADS_3

Memikirkannya sekarang akan hanya sia-sia saja, yang harus kulakukan adalah menyelesaikan urusanku di benua ini dan kemudian kembali ke benua iblis untuk menjalankan rencana berikutnya.


Awalnya aku hanya ingin mencoba hidup santai beberapa bulan di akademi Gracia, sayangnya itu sesuatu yang mustahil.


Setelah kekacauan yang disebabkan para Titan, aku bersama Gracia, Nibela dan Atlas kembali berkumpul.


Aku menceritakan apa yang dikatakan Ranger pada mereka hingga semuanya langsung terasa berat.


"Benar-benar sebuah perang besar, aku akan menyerahkan kekuasaan akademi ini pada wakilku dan ikut dalam pertarungan ini, apa kau tidak keberatan Lion?" kata Gracia.


"Aku akan senang jika banyak orang membantu, aku akan menyelamatkan Dewi Aira jadi beliau juga akan berpartisipasi dalam peperangan ini."


Atlas menambahkan.


"Betapa mengerikannya perang besar, dengan begitu apa para dewi akan bertarung dengan dewi lainnya?"


"Benar, jadi bagaimana dengan Dewi Suci Amnesty?" aku mengarahkan pertanyaan itu pada Gracia yang terkejut karenaku, bagaimana pun Amnesty adalah Dewi suci yang mengirimkan Gracia sebagai tujuh pahlawan mahkota dewi.


Jika dia menolak bergabung dengan kami maka dia juga akan bertarung dengan kami.


Tepat saat memikirkannya sebuah suara terdengar dari arah Rion yang duduk mendengarkan. Di sampingnya ada seorang wanita mengenakan gaun merah dengan rambut panjang merah indah berkilauan.

__ADS_1


Dadanya hampir menyamai Rion dan kurasa pasti dia seorang dewi, melihat reaksi Gracia yang langsung berlutut memberi hormat sudah jelas dia Dewi Amnesty.


"Hey Rion, bukannya barusan dia mengatakan hal kasar tentangku."


"Lion memiliki kepribadiannya sendiri aku tidak bisa berbuat banyak."


Aku tersenyum masam.


"Bukannya kalian bermusuhan?"


"Kami memang pernah bertarung satu sama lain tapi bukan berarti kami tidak bisa berteman sekarang."


Ini saat Rion mengamuk di alam dewi untuk membalas dendam saat dia dijatuhkan ke dunia ini.


"Hari ini aku memutuskan untuk mendukung kalian jadi aku akan melakukan apapun yang kubisa, dan Gracia tolonglah jangan bersikap formal. Kau bisa meniru sikap Lion loh."


"Yah, itu terlalu berlebihan untukku... Lion manusia sampah dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan."


"Aku tidak seperti itu," selaku dan Amnesty menambahkan.


"Aku akan sedikit membantu kalian nanti, kalau begitu aku harus pergi.. sebagai dewi aku banyak sekali hal yang harus kulakukan."

__ADS_1


Dia menghilang dalam sekejap.


Begitu juga aku yang harus segera menyelesaikan urusanku di negeri wilayah suci.


Di dungeon itu, aku maupun Rion bertemu kembali dengan Diona yang memasang wajah cemberut karena kami membiarkannya sendirian di sini dan hanya dijaga oleh sekumpulan Lamia.


Dengan sering berhubungan dengan para monster kuharap dia akan bisa terbiasa nantinya.


Tak lama White Tiger muncul dengan informasi yang kubutuhkan.


"Kau akhirnya kembali, aku sudah mencari tahu apa yang terjadi di atas permukaan.. Priest agung akan pergi ke ibukota dalam waktu dua hari lagi untuk pelantikannya sebagai penguasa baru, saat itu kota hanya dijaga oleh Solo dan beberapa pasukannya.. jadi kita bisa menyerang dan mengambil alih kotanya."


"Itu bagus meski begitu kita tidak bisa meremehkan orang bernama Solo. Aku yakin dia bukan orang biasa."


"Baik, lalu bagaimana soal demi-human?"


"Sayangnya kita terlambat, mereka telah dibunuh."


"Jadi kita tidak bisa menuduh Priest agung dalam konspirasi ini."


"Seperti itulah," kataku lemas.

__ADS_1


Aku bisa saja membuat Atlas menceritakan apa yang terjadi di khalayak umum namun perkataan gadis buta hanya akan dianggap sesuatu yang mengada-ada, itu bukan sesuatu yang bisa kukatakan begitu saja.


Paling tidak aku akan menemukan cara yang lain untuk menyampaikan kebenarannya.


__ADS_2