
Jika seseorang dalam keterpurukan apa yang akan dia lakukan dengan tangannya.
Apa dia akan mengulurkannya untuk meminta pertolongan? Ataukah dia akan berdiri untuk balas dendam?
Dan jika ada harapan di dalam hatinya apa dia akan meminta seseorang untuk menyelamatkannya ataukah menutup hatinya dalam sebuah kegelapan dan mengutuk akan kekurangan dunia ini.
Semua hal hanya bisa dijawab dengan bagaimana kau memilih.
Aku telah muncul di sebuah hutan yang telah mengering seutuhnya, pemandangan langit di dunia bawah bukanlah berwarna biru dan memiliki matahari kuning yang bersinar hangat melainkan langit oranye dengan matahari semerah darah yang mengeluarkan sebuah hal yang disebut kesepian.
Aku menarik katanaku saat menyadari beberapa pasang mata telah mengawasiku dari segala arah, bahkan di dunia yang ditinggali para iblis sosok monster tidaklah luput. Mereka menggerakkan kaki mereka menampilkan ujung gigi berjeruji dengan mata merah yang dipenuhi kebencian.
Jika ada makhluk yang disebut Cerberus maka makhluk ini adalah salah satunya, ketiga kepala mengawasiku dengan air liur di wajah mereka.
Ukuran mereka setinggi dua meter dan sayangnya jumlahnya bukan satu melainkan banyak dan sulit menghitungnya. Aku sekarang berpenampilan seperti wanita meski begitu kekuatanku tetaplah sama.
__ADS_1
Aku menarik nafas untuk mengatupkan mulutku dan berteriak.
"Majulah."
Mendapatkan provokasi dariku, mereka melesat maju, salah satu menyerang dari depan yang mana kutebas menjadi dua bagian, Cerberus yang lain melompat sehingga aku bersalto ke belakang sebelum melompat ke dahan pohon.
Walau mereka tidak memiliki daun pepohonan dahannya masih bisa kubuat sebagai pijakan, di saat aku melompat para Cerberus mengejarku dari bawah. Aku melompat untuk mengulurkan tanganku mencipta sihir di sana.
"Inferno."
Api melesat membakar mereka dalam sekejap, saat mendaratkan kakiku sekitar lima Cerberus telah melompat di atasku.
Aku menebas mereka seolah semua itu bukankah masalah, salah satu menyergapku dari belakang sebelum taringnya menancap di tubuhku pedangku lebih dulu menembus jantungnya. Tanpa ragu kulemparkan tubuh yang kehilangan nyawanya itu ke samping.
"Jika kalian masih tidak menyerah maka kalian akan mati secara mengenaskan seperti ini."
__ADS_1
Para Cerberus mulai menggeram lalu berbalik untuk meninggalkanku begitu saja, mereka jelas bisa tahu bagaimana perbedaan kekuatan di antara kami. Dengan ini aku tidak perlu membuang waktu untuk pertarungan yang tidak dibutuhkan.
Menyarungkan pedangku kembali, aku melangkahkan kaki untuk mencari jalan keluar dari hutan ini, beberapa kelelawar bermunculan di atas langit bahkan suara gagak bisa terdengar dari segala arah.
Kau bisa mengatakan bahwa hutan ini terasa angker atau sebagainya.
Aku telah berjalan seharian. Walau pemandangan di dunia bawah berbeda saat malam hari semuanya terlihat sama.
Ada bintang dan bulan yang bersinar dan kurasa semuanya tampak normal juga, aku menyalakan api untuk memanggang beberapa ikan yang kuambil di sungai terdekat, penampilan ikan ini malah terlihat menakutkan dengan warna merah darah serta mulut berjeruji.
Ikan tetaplah ikan jadi kurasa mereka memiliki rasa yang sama, jika pun ini beracun aku memiliki tubuh yang kebal.
Setelah menimbang-nimbang, aku menggigit ikan tersebut dan selanjutnya berlari ke semak-semak untuk muntah di sana.
Rasanya benar-benar tidak enak, aku melirik ke arah ikan yang kutinggalkan hingga seekor gagak muncul untuk memakannya dan dalam sekejap gagak itu jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Jadi makanannya beracun yah," kataku mendesah pelan.
Jika begini aku harus segera menemukan desa ataupun kota demi mendapatkan makanan.