Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 88 : Ibukota Kerajaan Negara Api


__ADS_3

Dalam hal menyembunyikan diri, aku adalah orang yang tepat, di atas sebuah bangunan besar di ibukota kerajaan api aku menyelinap di antara para penjaga.


Sekarang aku mengenakan topeng jadi tidak akan ada orang yang mengenaliku.


Dengan sedikit teknik mencongkel jendela aku masuk lalu berjalan mengendap-endap.


Rion yang ada di pinggangku berkata dengan nada malas.


"Bukannya kau terlalu hebat dalam hal ini, mungkin di dunia lamamu kau sering menyelinap ke rumah orang untuk menyerang para gadis yang tertidur pulas."


"Aku bukan orang seperti itu," kataku memprotes.


Aku sering menonton film karena itu aku hanya sedang menirunya, menggunakan sedikit sihir, pintu yang kokoh terbuka dengan mudah.


Kamar yang terlihat nyaman tampak berada di sudut pandangku.


"Dia tidak ada di sini," ketika aku bergumam hal itu, pintu yang berada di sampingnya terbuka menampilkan seorang gadis telanjang tanpa mengenakan apapun.


Dia membatu dengan tubuh gemetaran.


"Awawa penjahat kelamin, aku akan dinodai."


Dia berlari masuk lalu menutup pintu.


"Yang barusan ekpresi yang bagus."


Seperti biasa perkataan Rion terdengar jahat.


Penampilan gadis barusan mirip sekali Rosvalia tapi kurasa di tipe yang sedikit lebih imut dan feminim.


Rambutnya juga tidak bergaya bor melainkan lurus dengan baik sampai pinggul.


Aku mengetuk pintu kamar.


"Tolong buka pintunya."


"Tidak akan, aku tidak mau melakukan itu."


"Kau ini bicara apa? Aku datang untuk menyelamatkanmu lebih tepatnya aku ingin membawamu pergi dari sini atas permintaan adikmu."


"Rosvalia."


Pintu sedikit terbuka.


"Apa itu benar, apa kamu hanya ingin membuatku lengah."


Rion dalam bentuk pedang berubah menjadi elf, dia duduk di ranjang sebelum membaringkan tubuhnya.


"Di sini nyaman."

__ADS_1


Mari abaikan saja.


"Apa yang kukatakan benar, lihat ini..."


Aku mengeluarkan surat dan juga kipas yang dititipkan padaku.


"Benar sekali."


Dia membuka pintunya selagi mengambil barang yang kusodorkan padanya.


"Anu nona Olivia, apa kau suka mandi tanpa membawa handuk untuk menutupi tubuhmu."


"Kyaaa.."


"Guakh."


Dia menampar wajahku hingga aku menabrak dinding.


"Ah~Ah~kau baik-baik saja?"


"Jangan khawatir Lion adalah tipe orang yang menjadikan rasa sakit sebagai kenikmatan."


"Aku tidak seperti itu."


Aku mulai menjelaskan semua rencanaku pada Olivia yang sudah mengenakan pakaian.


"Aku hanya ingin mengembalikan dunia ini pada seharusnya, dan kurasa Rosvalia maupun kakaknya bisa bersama-sama membangun kerajaan sayangnya mungkin kau tidak akan menjadi seorang ratu."


"Tidak, aku tidak tertarik hal seperti itu.. yang kuinginkan hanya menjalani hidup santai, tapi aku senang bahwa adikku baik-baik saja, kami semua berfikir dia telah diculik oleh pria jahat dan dijadikan pelampiasan."


"Kenapa kau selalu berfikir ke sana?"


Aku jelas kebingungan.


"Jika begitu aku menerima tawarannya akan tetapi aku punya syarat... biarkan aku yang menjelaskan semua ini pada orang tuaku."


"Aku tidak keberatan soal itu, seperti yang aku katakan negara angin sedang dalam kesulitan maka dari itu aku akan membantu semua keuangan di sana."


"Terima kasih... kakakku telah membuat banyak hutang hingga penduduk dan negara menderita aku benar-benar sangat berterima kasih terlebih telah menyelamatkanku yang harus menikah karena politik."


"Itu bukan apa-apa, tapi aku memiliki satu permintaan lagi."


"Apa itu?"


"Tolong nikahi aku juga. Sebelum datang kemari aku berfikir bahwa siapapun yang bisa menyelamatkanku aku akan menikahinya bahkan wanita juga, tolong lakukan itu."


Rion memandang kami dengan tatapan prihatin.


"Kau sangat putusasa rupanya, jika sejauh ini Lion kau tidak bisa menolaknya."

__ADS_1


Aku hanya mendesah pelan.


"Aku mengerti, mari pergi."


"Baik."


Aku menggendong Olivia di depan selagi melompat dari bangunan satu ke bangunan lainnya sebelum keluar dari dalam kota di mana naga Harty, Valentine dan Nibela sudah menungguku.


Aku melepaskan topengku.


"Seekor naga."


"Dia rekan kami."


Aku menaikan Olivia ke atas punggung Harty.


"Sekarang di kota sedang terjadi keributan jadi mulai sekarang kalian akan tinggal di benua iblis tapi sebelum itu tolong antarkan Olivia dulu ke kerajaannya."


"Bukannya kita sudah mendapatkan kekuatan api dan sebaiknya kita pergi ke kerajaan lain?" tanya Valentine.


Aku menggelengkan kepalaku lalu melanjutkan.


"Aku tidak bisa meninggalkan kerajaan ini, ada ancaman Raja Iblis Barat di sini jadi aku akan tinggal dan menyamar sebagai siswa akademi beberapa bulan saja selagi mengalahkan mereka."


"Tapi itu terlalu lama."


"Maafkan aku, awalnya aku hanya ingin Valentine dan Harty juga menjalani hidup normal, tapi jika kalian terus mengikutiku akan hanya ada hal mengerikan yang akan menyertai kalian berdua."


"Lion?"


"Nibela juga akan menyusul setelah kami menyelamatkan ibunya."


Tepat saat aku mengatakan itu Valentine melompat ke arahku, dia tanpa ragu mengambil ciuman dariku, dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku sementara aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.


Ini membuatku Shock.


Valentine yang kaku ternyata jauh lebih angresif.


Dia menarik bibirnya dan berkata.


"Aku akan menunggumu, jadi pastikan sesekali mampir ke sana."


"Tentu saja, Harty tolong jaga yang lainnya."


"Serahkan padaku."


Aku, Nibela dan Rion hanya melihat kepergian mereka dari kejauhan.


Hal yang barusan tidak akan bisa aku lupakan dalam waktu singkat.

__ADS_1


__ADS_2