
"Wah... kalian datang lebih cepat dari yang kubayangkan, mungkinkah kau punya kenalan naga."
Sikap Symponia berubah drastis, tadinya dia adalah roh tipe keren dan misterius dan sekarang dia hanya orang bodoh yang bersemangat.
"Darah ini beraroma harum, aku akan meminumnya."
Saat dia meminumnya dia tersedak.
"Begitulah sifatnya, sedikit-sedikit dia keren tapi sedikit-sedikit dia seperti orang bodoh."
"Apa kau mengatakan sesuatu Charlotte?"
"Bukan apa-apa.. bagaimana rasa darah naga?"
"Enak sekali, aku sangat puas.. akan lebih baik jika aku bisa memintanya lagi lain kali."
"Kau pasti punya kesempatan itu jika ikut dengan kami."
Sialan si Charlotte, dia menjual Harty.
Aku hanya memasang wajah bermasalah lalu menepuk pelan punggung Paula agar dia sedikit maju.
"Soal kontraknya."
"Roh selalu menempati janjinya maka dari itu, aku akan menjadi senjatamu.. dengan ini kau adalah pemilikku, bayangkan saja senjata apa yang kau inginkan maka aku akan berubah seperti itu."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu.."
Cahaya menelan keberadaan Symponia, dalam beberapa saat cahaya tersebut semakin bersinar dan selanjutnya sebuah busur telah menggantikan sosok wanita tersebut.
Paula meraihnya dan itu pas di tangannya.
"Dia memilih senjata busur, itu cukup jarang bagi pahlawan ambil," ungkap Kizuna.
Aku bisa mengerti itu, panah biasanya tidak terlalu efektif saat pertarungan jarak dekat tapi di sisi lain itu sangat membantu untuk memberikan dukungan bagi yang bertarung di barisan depan.
Jika seperti ini aku yakin bahwa party kami cukup kuat saat melawan Titan. Titan 70 Meter itu yang harus kami waspadai selain Titan 80 meter yang menjadi pemimpinnya.
Untuk mencoba senjatanya kami keluar dari hutan lalu mengambil tempat di sisi tebing yang indah yang dipenuhi dengan tanaman bunga di sekelilingnya.
Aku duduk di batu selagi merawat pedangku sementara Kizuna dan Paula saling bersaing untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Sepertinya tidak ada batasan dari pahlawan, mereka semua bisa membuat sihir sebebas yang mereka inginkan.
Kizuna melirik ke arahku lalu mengangguk sebagai tanda bahwa kami diikuti. Kupikir itu Titan akan tetapi ternyata yang muncul adalah beberapa pahlawan yang telah mengepung kami dari segala arah.
Jumlahnya sekitar 20 orang dengan senjata berbeda di masing-masing tangannya, Charlotte yang paling marah.
"Kalian menjadikan roh-rohku sebagai senjata, kalian sudah keterlaluan."
"Apa maksudmu? Venuslah yang menyerahkan mereka untuk kami. Roh itu terasa nikmat saat ditiduri bukan begitu kawan-kawan."
__ADS_1
"Benar sekali."
Charlotte mendecapkan lidahnya.
"Jika begini roh wanita dari tempatku tidak akan ada yang perawan lagi... aku akan membuat perhitungan dengan Venus."
Akibat kontrak senjata, roh hanya akan mengikuti perintah pemiliknya bahkan jika harus melawan ratunya sendiri, di sisi lain roh juga cenderung menyukai jiwa manusia karena itu mereka tidak keberatan untuk ditiduri.
Aku menarik pedangku untuk bersiaga.
Dibanding melawan Titan, melawan manusia sangat merepotkan.
"Kami diperintahkan untuk membunuh pahlawan pengkhianat Kizuna, jika kau menyerah aku akan memberikan kematian yang mudah untukmu," yang berkata itu adalah pria berambut merah dengan pedang di tangannya.
Salah satu temannya memotong.
"Dia cukup cantik bagaimana kalau kita bersenang-senang dengannya dulu."
"Itu ide...."
Perkataan si rambut merah terpotong saat Kizuna muncul di belakang pria sebelumnya yang mencoba melontarkan pelecehan verbal.
Kepalanya terbang dan dari leher yang terpotong darah menyembur bagaikan air mancur membasahi seluruh rambut dan pakaiannya.
Dia berkata dengan dingin saat semua orang tercengang.
__ADS_1
"Aku ragu kalian bisa memuaskanku."
Ya ampun, dia benar-benar mengerikan.