Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 483 : Seharian Bersama Para Istri Bagian Empat


__ADS_3

Kami berdua muncul di bawah air terjun yang mencapai ratusan meter tingginya, saat air itu jatuh ke bawah itu menghasilkan percikan yang berbahaya yang mana air tersebut mengalir lebih tenang ke bawahnya.


Dan di situlah area yang bisa kita pakai untuk berenang, tak hanya airnya bersih air ini juga paling menyegarkan karena berada di atas ketinggian hutan.


"Ngomong-ngomong Misa, kenapa kau malu saat berenang di danau di Elfdian? Bukannya kamu bukan tipe pemalu."


"Soal itu karena kalau berenang aku lebih suka telanjang."


"Jadi seperti itu, tunggu... maksudmu kau suka telanjang."


"Benar, rasanya sangat bebas jika tanpa pakaian."


Setelah melepaskan seluruh pakaiannya ia melompat masuk selagi melambaikan tangan ke arahku.


"Hora, suamiku cepat masuklah kita berenang bersama.. kalau bisa telanjang juga."


Meski tidak ada siapapun kecuali kami aku jelas tidak bisa melakukannya. Setelah merapikan pakaian Misa aku juga turun ke sungai hanya dengan celana pendek.


Itu terasa dingin saat sedikit menyentuh kakiku.


"Jangan begitu, cepat masuk."


"Misa."


"Hehe."


Dia menarik lenganku untuk membuatku jatuh ke air, pertama terasa dingin tapi tiba-tiba terasa tidak terlalu buruk juga.


Kami berdua saling mencipratkan air ke wajah masing-masing sebelum membiarkan arus dari sungai membawa kami sedikit jauh dari air terjun dan untuk kembali ke sana kami berenang.


"Lion lebih cepat lagi aku bisa menang loh."


Memangnya dia ini ikan salmon kah? Gerakannya benar-benar sangat cepat, setelah seharian bermain air kami menghangatkan diri di depan api unggun selagi membuat sup hangat.

__ADS_1


"Ini sangat menyenangkan, Lion lain kali mari datang lagi kemari."


"Tentu saja."


"Ngomong-ngomong Lion, sebenarnya aku sedang hamil sekarang."


Mendengar itu aku seketika terdiam.


"Apa itu benar?"


"Um."


"Seharusnya kau tidak boleh datang ke tempat berbahaya seperti ini, kita harus kembali dan menghangatkanmu secepatnya," aku panik.


"Tenanglah ini bukan apa-apa."


"Kita harus kembali... pakai pakaianmu."


"Lion ini."


Aku seharusnya merahasiakan dulu hal itu paling tidak sampai hal ini selesai.


Dengan ramuan yang diberikan oleh pemilik toko obat di Elfdian aku merasa memiliki tenaga lagi pada pagi harinya.


Setelah Misa, selanjutnya adalah Harfilia, dia adalah istri dengan penampilan dewasa dan memiliki tingkat keibuan sangat tinggi. Janda yang berpengalaman memang yang terbaik.


"Hora, jangan terlalu jauh denganku silahkan jika Lion ingin menyentuh dadaku."


Semua orang yang mengawasi kami tidak segan untuk memberikan tatapan kebencian padaku.


"Kami suami istri, maaf atas keributannya."


Karena terlalu nempel aku malah di bawa ke pos penjaga, ini pertama kalinya aku digelandang ke sana.

__ADS_1


"Dengar Harfilia, kita harus menjaga sopan santun di tempat umum."


"Ini kesempatanku, aku tidak ingin melewatkan untuk membuat adik untuk Nibela."


Aku mendesah pelan.


"Mari lakukan di penginapan saja."


"Pesona dewasaku memang selalu berhasil."


Kami hanya menyewa sehari di penginapan meskipun pada sore harinya aku sudah keluar bersama Harfilia.


"Setelah melakukan itu aku sedikit lapar, Lion kau mau makan apa?"


"Biar kulihat menunya."


Kami berada di kota di benua manusia jadi semua makanan di sini terbilang baru.


"Bagaimana kalau menu sup jagung serta sayuran saja, makanan seperti itu lebih sehat bukan."


Aku terkejut.


Seorang dengan tingkat keibuan memang beda.


"Ada apa, apa kau tidak menyukainya?"


"Tidak... istri yang lain lebih suka daging, jadi aku tidak percaya bahwa Harfilia menawarkan sayuran."


"Aku juga suka daging tapi terlalu banyak makan daging juga tidak baik jika tidak diimbangi sayuran."


Aku menangis senang, akhirnya ada istriku juga yang berfikiran begitu.


"Mari pesan semuanya."

__ADS_1


"Baik."


__ADS_2