Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 520 : Makam Di Tengah Pulau


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Sebastian tempat itu memang terlindungi oleh ombak ganas yang mampu menghancurkan sebuah kapal serta jika melihat ke atas ada kumpulan awan gelap yang dengan senang mengeluarkan kilatan petir dari sana. Terlepas bagaimana situasinya aku bisa melihat sebuah pulau cerah yang di sekitarnya memiliki air yang tenang berada di belakangnya.


"Jadi di sana rumahmu."


"Iya, kalian pakai mutiara itu lalu ikuti aku."


kami hanya menurut lalu melompat ke dalam air tanpa melepaskan pakaian kami dan seperti yang diduga kami jelas bisa bernapas di dalam air.


Livia dan Alteira berenang di belakangku dan kurasa kami telah bergerak semakin dalam dan dalam menembus kedinginan air laut, sejauh ini tidak ada tanda-tanda hiu hingga kami sampai di pulau yang kulihat sebelumnya.


Di sini udara lebih hangat dari yang kami pikirkan, sementara Livia dan Alteira memeras pakaian mereka yang basah aku kembali bertanya pada Sebastian.


"Aku sama sekali tidak melihat Hiu apa mereka sudah pergi?"


"Mereka masih ada di sini, aku tidak tahu tapi mereka selalu menjadikan waktu siang hari sebagai perburuan."


"Jadi begitu."


Beberapa ikan bermunculan di samping Sebastian termasuk keluarganya.


"Sayang, syukurlah kau sudah kembali."


"Istri dan anakku kalian baik-baik saja."


Aku seperti melihat drama seekor ikan sekarang, mari kesampingkan hal itu dulu. Kami datang karena diminta untuk mengalahkan para hiu dan setelah selesai kami bisa pergi dari sini.


Aku melirik ke arah Alteira dan Livia yang sedang menyusun kayu bakar lalu membakarnya.


"Kalian sedang menghangatkan diri."

__ADS_1


"Tidak, kami sedang membuat persiapan untuk memanggang ikan hiu itu."


Mereka benar-benar ingin melakukannya, para ikan mulai ketakutan dan pergi.


"Kalian tidak berniat memakan kami juga."


"Kami tidak mungkin memakan ikan yang bisa bicara."


"Itu melegakan," ucap istri Sebastian.


Di pulau ini kaya dengan energi sihir yang cukup besar, mungkin ada sesuatu yang membuatnya seperti itu jadi aku mencoba berkeliling untuk mencarinya dan menemukan sebuah makam di tengah pulau.


Ini kuburan penyihir kurasa.


Meski dia sudah mati energi mananya mengalir dengan alami, ada sedikit tulisan di atas nisannya yang mengatakan.


Sungguh mencurigakan.


Mungkin saja yang terkubur di sini adalah raja iblis atau semacamnya. Kurasa mana penyihir ini yang membuat seluruh area di sini menjadi aneh itu juga yang mempengaruhi ikan hingga bisa berbicara dengan manusia.


Livia dan Alteira muncul dari belakangku.


"Ada apa tuan, apa anda menemukan sesuatu?" tanya Livia lebih dulu.


"Iya, bagaimana menurut kalian?"


"Mencurigakan."


Benar kan.

__ADS_1


"Menulis wanita cantik.. paling dia hanya zombie atau Undead yang jelek," Alteira menambahkan.


"Mari coba, kalau tidak sesuai mari hancurkan."


"Ide bagus."


Aku sedikit memberikan manaku pada batu nisan tersebut, bunyi dentuman petir menggema ke udara bersama angin yang tiba-tiba muncul begitu saja.


Kurasa ini terkutuk, kuburan itu terbelah selanjutnya sebuah peti menyeruak dari dalamnya.


Dengan ragu-ragu aku membukanya dan melihat sosok wanita dengan rambut hitam serta gaun hitam berdiri di sana, di bagian tangan cukup berenda dan bagian depan lebih pendek dibandingkan bagian belakang.


Alteira meletakkan tangannya di dada wanita tersebut.


"Memang benar tubuhnya bagus, ini juga terasa kenyal."


"Anu, bisakah kau tidak melakukan itu."


"Dia hidup."


Dari awal sudah dikatakan seperti itu bukan, tapi dia jelas-jelas termasuk Undead kelas atas, kurasa.


"Namaku Viloe Hesvania, seorang putri dari kerajaan ini."


"Putri dari kerajaan ini, maksudnya kerajaan ikan," ucap Livia.


"Eh? Ikan? Tunggu, dimana aku, ini bukan di kerajaanku."


Sepertinya anak buahnya menguburnya di tempat ini lalu memasang penghalang disekitar pulau, aku turut berduka untuknya.

__ADS_1


__ADS_2