
Para mayat hidup mulai mengabaikan para penduduk untuk menyerang kami berdua.
Aku mengulurkan tanganku untuk menciptakan kobaran api raksasa, entah tubuh atau pakaian mereka semua terbakar hangus.
Seperti yang kuduga dua orang masih bisa berdiri tanpa terluka sedikitpun.
Dengan tombak yang dialiri listrik serangan apiku berhasil ditangkis, sementara itu Linda memainkan belati lalu menerjang ke arahku yang mana ditahan oleh belati yang sama dari Nibela.
"Aku akan mengatasi ini, Lion."
"Aku mengerti."
Aku berlari ke samping dan saat itu juga si pengguna tombak petir mengejarku, ini sedikit aneh kenapa orang kuat sepertinya bisa mati.
Terlebih tubuhnya benar-benar dikendalikan oleh sihir.
Dia menembakan petir ke arahku yang mana kuhindari dengan santai, lautan ledakan senang tiasa menggema di sekelilingku, material terangkat ke udara bersamaan asap yang menyembul sebagai tanda kerusakan.
Aku memutar diriku untuk mempersempit jarak kepada si pengguna pedang, kuayunkan pedang Rion untuk menciptakan bilah angin yang meluncur kepadanya.
Dan itu bertubrukan dengan petir sebelum akhirnya kami saling berhadapan secara langsung, dalam pertempuran ini aku juga terus memperhatikan pertarungan Nibela.
Aku melompat ke belakang sebelum secara terus-menerus menyerang ke depan. Kilatan cahaya mewarnai pertarungan ini.
"Water Magic... Water Slash."
Prang.
"Tombak itu juga memiliki kemampuan menyerap berbagai sihir."
"Sepertinya begitu, Lion menghindar," ucap Rion.
Sebuah petir meluncur ke arahku dan aku mengelak sedikit dan itu menciptakan ledakan raksasa yang menelan seluruh bangunan yang terkena secara langsung.
__ADS_1
"Benar-benar kuat."
Aku menggunakan Magic Tree untuk mengikat si pengguna tombak, ketika dia disibukkan dengan tanaman yang terus-menerus tak henti mengikatnya kuayunkan pedangku membelah tubuhnya menjadi dua bagian sebelum jatuh ke tanah.
Akan lebih baik jika aku membakarnya menjadi debu agar dia tak bisa dihidupkan lagi.
Sementara itu Nibela masih bertarung dengan Linda, keduanya melesatkan senjata mereka hingga saling membelakangi.
Setelah keheningan yang terasa lama itu, tubuh Linda terpotong beserta tangannya. Nibela hanya menyeka air mata di wajahnya saat aku membakar tubuh Linda seutuhnya.
"Beristirahatlah dengan tenang."
Tak lama kemudian semua penduduk mulai bermunculan untuk mengutarakan rasa terima kasihnya, di antara mereka ada seorang pria tua dengan tongkat yang datang mendekat.
"Atas nama penduduk kota ini kami sangat berterima kasih telah menyelamatkan kota kami."
"Dan kau ini?"
Tanda tanya muncul di kepalaku.
"Bukannya kau yang mengendalikan mayat ini?"
"Mana mungkin aku bisa melakukannya aku hanya manusia biasa, aku memang suka uang tapi aku bukan orang yang tega melakukannya dan juga aku hanya menarik pajak dari orang yang singgah ke kota ini."
Aku mencengkeram kerah bajunya.
"Kau mengatakan yang sebenarnya."
"Benar."
"Tapi menurut komandan kaulah yang melakukannya."
"Jangan bercanda dialah orang yang pertama mengatakan bahwa pria yang sebelumnya yang kau kalahkan terbunuh."
__ADS_1
"Sial... kita ditipu."
Aku melepaskan tanganku darinya.
"Mungkinkah?"
"Dia dalangnya, dia bekerja sama dengan raja Iblis."
"Mustahil."
"Nibela kita kembali sekarang."
"Baik."
Aku merangkul pinggang Nibela hingga dia menunjukkan wajah cemberut, aku memperlakukannya seperti gadis kecil.
Saat Harty masih terbang berkeliling kota ini, aku melompat hingga kami berdua berada di atasnya.
Aku menurunkan Nibela secara perlahan.
"Kita harus cepat kembali, Valentine dan orang bernama Risela dalam masalah."
"Kenapa bisa?"
"Komandan itu yang mengkhianati kerajaan ini."
"Heh? Itu mengejutkan padahal dia menyuruh kita membantunya."
"Dia mungkin hanya ingin mengetahui kemampuan semua orang yang menentang raja iblis."
"Aku akan menambah kecepatannya, tolong pegangan."
Kuharap mereka baik-baik saja.
__ADS_1