
Di depan api unggun aku menghentikan kedua orang bodoh ini yang ingin mengambil makanan Valentine.
"Jangan menyentuhnya ini hanya untuk Valentine," teriakku kepada Rion dalam wujud elfnya serta Harty yang terus mengeluarkan asap dari mulutnya.
Dia baru saja memakan arang panas karena penasaran dengan rasanya.
"Bukannya kau memperlakukan Valentine sangat baik? Ini tidak adil."
Rion berkata itu selagi terlentang di tanah sembari mengibas-ngibaskan tangannya. Dari awal dia memang tidak terlihat seperti dewi.
Aku menjawab penuh keyakinan.
"Sosok Valentine terlihat seperti bangsawan, bagaimana cara dia bicara pakaiannya maupun tingkah lakunya mencerminkan hal itu, karena itulah aku tidak tega membiarkannya untuk memakan daging katak."
"Curang... aku juga ingin makan daging burung," potong Rion.
"Kalau begitu, biar aku saja yang makan katak kalian."
"Hentikan Valentine mereka hanya rakyat jelata bahkan jika mereka memakan pakan ternak itu tidak masalah."
"Masalah pala lu... aku ini seorang dewi loh, tingkatku di atas para bangsawan. Lihat tubuhku juga, ini ciri dari seorang yang lebih dari bangsawan, apa ini masih meragukan?"
"Iyah, selain dadamu aku tidak tahu mana yang baik darimu."
"Jurus rahasia Rion."
Dia melompat ke arahku lalu mencekik leherku dengan pahanya selagi menggodaku.
"Kau menyukai hal mesum kan, coba lakukan padaku."
"Dasar dewi genit, aku tidak akan terpengaruh olehmu... bukannya kau bilang kau tidak tertarik padaku?"
__ADS_1
"Yang lalu biarlah lalu sekarang yah sekarang."
"Kau hanya ingin mengikatku agar menghamili
mu, jika punya anak aku tidak akan pergi darimu."
"Tepat sekali, ini langkah antisipasi saja."
"Tetap saja ogah."
"Bersiaplah untuk mati."
Harty maupun Valentine hanya menikmati daging burung tersebut selagi melihat kami berdua yang sedang asik bergulat.
Ada sebuah pergerakan di dalam semak-semak hingga Valentine mengambil topengku lalu memasangkannya di wajahku yang sedang ditindih oleh dewi genit ini.
Kami mengalihkan pandangan ke arah semak-semak dan yang muncul dari sana seorang gadis kecil bertelinga kelinci yang tampak kehilangan keseimbangannya lalu ambruk ke depan.
Aku mencoba mendorong tubuh Rion menjauh, di saat seperti ini malah dia yang paling kuat.
"Berhentilah memeroloti celanaku dewi sialan."
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku memakan daging burungnya."
"Daging apanya? Makanan itu sudah habis dimakan Harty."
"Mustahil."
Akhirnya dia melepaskanku setelah melihat Harty menjilat bibirnya dengan puas.
Aku berjalan mendekat ke arah Valentine yang duduk di samping gadis itu untuk merapalkan sihir penyembuhan ringan.
__ADS_1
Sihir penyembuh adalah sihir dasar yang bisa dipelajari semua orang.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia hanya kelelahan seolah ada sesuatu yang mengejarnya," tepat saat Valentine mengatakannya seekor Dog Hunter dengan kepala tiga muncul di depan kami.
Keenam matanya terarah padaku kemudian melompat cepat. Aku hendak menjatuhkannya dengan beberapa sihir akan tetapi Harty sudah melompat jauh di atasnya.
Dia mengangkat tinjunya dan selanjutnya pukulan itu menghantam tubuh Dog Hunter hingga merebas ke dalam tanah.
"Kau terlalu berlebihan Harty."
"Aku ingin tahu rasanya, apa makhluk ini enak jika dimakan?"
Pikirannya tidak jauh dari kata makanan, di sisi lain aku menggendong gadis kecil tersebut untuk membaringkannya di atas dedaunan dekat api unggun yang menghangatkan layaknya sebuah perapian.
Ini sudah malam hari dan hanya cahaya bulan saja yang menjadi penerangan kami.
Aku duduk selagi bersandar di dinding pohon sementara Rion menguap lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kau masih belum tidur?"
"Aku hanya sedang memikirkan banyak hal saat di dunia itu."
"Meski kau berniat meninggalnya dunia itu, kau masih mengingatnya, manusia memang aneh."
"Entah kenangan menyakitkan atau membahagiakan hal itu tetap saja berharga, karena itulah kami disebut hidup."
"Aku tidak mengerti, untuk sekarang pinjamkan pahamu, aku ingin tidur."
Sebelum aku menyetujuinya dia sudah melakukannya dan tertidur pulas.
__ADS_1