Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 104 : Hari Pembataian


__ADS_3

"Cih... aku penasaran kenapa para roh selalu berkurang ternyata kalian di perbudak oleh manusia."


"Mungkinkah ratu datang kemari untuk menyelidiki semuanya."


"Aku sengaja membuat diriku tertangkap, tapi setelah tahu apa yang direncanakan Venus benar-benar mengerikan."


Aku segera menyela.


"Dengan kata lain bahwa Kizuna sudah tahu yang sebenarnya."


"Benar sekali, aku hanya ingin tahu apa yang akan kau katakan di sini?"


"Kurasa tidak perlu, aku tadinya ingin menjelaskan soal Titan yang sebenarnya."


"Soal itu kah, yah... kita sama-sama tahu jadi tidak perlu dibahas lagi, untuk sekarang kita tidak boleh terlihat mencolok satu sama lain."


"Aku mengerti, mari pergi Charlotte."


"Sudah kukatakan tidak ada gunanya datang kemari."


Aku hanya melihat keduanya menghilang dari balik pintu sementara kedua pelayanku menarik nafas lega.


Selanjutnya akan ada kelas sihir karena itu mari bersiap-siap.


Sihir dibagi beberapa elemen, setiap orang hanya bisa menggunakan sihir sesuai kecocokan mereka dan memiliki dua atau lebih adalah sesuatu yang jarang.


"Kalian melakukannya dengan baik."


Di ruangan itu guru yang mengajari kami adalah seorang wanita pendeta, dia wanita yang baik hingga kami lebih nyaman diajar olehnya sampai akhirnya waktu berjalan dua Minggu.


Pelatihan yang kami lakukan semakin lama semakin berat, khususnya kami harus pergi ke dungeon untuk menjelajahi setiap lantai.


Tak kurang seratus Monster harus kami lawan jika ingin selamat, dan menjual seluruh material monster ke negara dengan harga kecil.


Semua ini tidak jauh beda seperti kerja paksa namun secara lembut. Ada yang mengeluh, ada yang menerimanya, dan ada juga yang depresi, beberapa orang mulai terbiasa sampai akhirnya sesuatu yang mengejutkan telah dimulai.


Di depan kami Venus mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

__ADS_1


"Hanya beberapa dari kalian yang akan lulus dari sini, saling bunuhlah satu sama lain, yang menang akan mendapatkan semuanya."


Keheningan mencekam terasa diantara kami semua.


"Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati, aku."


SRAK.


Darah disemburkan dari tubuh seorang wanita yang kukenal sangat lemah.


"Apa ini?"


Dan orang yang menebas dipenggal kepalanya beberapa saat kemudian.


Dua orang melompat ke arahku.


Rose dan Nia memperingati.


"Tuan menghindar, kau akan dibunuh."


Kizuna datang dan menebas keduanya tanpa ampun, darah memuncrat ke wajahnya hingga dia menyekanya dengan tangan.


"Jika kau tidak mau bertarung kau akan mati, hiduplah dan rubah semua ini."


"Bukannya mereka semua teman kita."


"Lupakan soal teman, dari awal aku sudah menduga hal ini... orang bernama Venus itu memanggil kita kemari bukan sebagai pahlawan melainkan pembunuh, dari 40 orang dia akan menyeleksi kita dengan cara ini dan dia akan melakukannya pemanggilan berikutnya."


"Mustahil."


Satu orang lagi muncul tepat di depan Kizuna, tanpa ampun dia menusuk jantungnya.


"Kita ini adalah pemanggilan yang ke sembilan yang dilakukannya, dengan kata lain ini adalah pemangilan yang terakhir sebelum melawan Titan.... bunuhlah seseorang jika kau tidak mau mati sekarang."


"Sial."


Aku bangkit dengan dua pedang di tanganku lalu menebas siapapun yang menyerangku.

__ADS_1


Seusai latihan kami sering menghabiskan makan malam bersama. Tertawa bersama tapi sekarang kami saling membunuh satu sama lain.


"Ti-tidak... gwaaaah."


Ini adalah neraka.


Hanya 10 orang yang masih berdiri di tempat ini, Venus yang menyaksikan bertepuk tangan kegirangan.


"Bagus sekali dengan ini kalian lolos dan akan ditempatkan di tembok suci Maria.. Pastikan kalian melakukan tugas kalian dengan benar, seperti yang kukatakan kalian bisa mendapatkan apapun yang kalian inginkan sebagai hadiah."


Orang ini iblis.


Di koridor itu aku berjalan bersama Kizuna.


Satu orang pria yang bersandar di dinding berkata ke arah kami.


"Dunia ini sudah rusak, yang harus kita lakukan hanya membunuh Titan... jika nanti kau menggangu, aku akan membunuhmu."


Kizuna berdiri di depanku.


"Apa maksudmu Marshell?"


"Sudah jelas dia gemetaran tadi, jika bukan karena kau dia sudah mati sekarang.. aku tidak ingin kau menggangguku saat kita bertugas nanti."


"Kau? Bisa melakukan hal tadi tanpa ragu."


"Sudah jelas bisa, hidup kami dipertaruhkan dan juga kami tidak ingin kehilangan kesenangan ini."


"Ugh."


Kizuna menggigit bibirnya.


Saat tangan Marshell terjulur ke arah dadanya aku segera menghentikannya.


"Tidak ada yang harus dibahas lagi, kami pergi."


"Aah, selamat menikmati harimu."

__ADS_1


__ADS_2