Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 281 : Restoran Emas


__ADS_3

Mereka benar-benar menjadikan emas sebagai bahan tambahan.


Hanya saja.


"Kenapa makananku batangan emas asli."


"Haha aku hanya bercanda ini pesananmu."


Manajer tempat ini suka sekali bercanda, aku yakin bahwa dia sebenarnya pelawak di malam hari sedangkan siang hari menyamar jadi penunggu restoran ini.


Aku mengalihkan pandangan ke arah Livia.


"Bagaimana rasanya?"


"Manis, sayangnya emasnya tidak berasa."


Sudah jelas kan, emas tetaplah emas bukan sesuatu yang memiliki rasa manis, pahit ataupun asam mereka hanya dibuat sebagai koin uang dan perhiasan.


Tapi mendekorasi dengan sesuatu yang mewah ini benar-benar makanan khusus bangsawan, setiap meja di sekelilingku di duduki oleh orang-orang ternama, mereka mengenakan gelang, anting serta pakaian terbuat dari emas. Ada juga yang hanya mengenakan bra emas dan celana panjang.


Dia seperti seorang bandit.


Mungkin dia orang jahat yang berusaha merampok toko ini. Yah mari kesampingkan hal itu... menilai seseorang dari penampilannya merupakan kejahatan tak tertulis. Aku akan kembali menikmati makananku yang merupakan kue coklat yang diatasnya ditaburi bubuk emas.


Teksturnya begitu lembut dan saat kau mengunyahnya perpaduan antara manis dan asam dari buah buahan menyatu dengan baik, sirupnya juga dihasilkan dari fermentasi yang jarang dibuat orang lain.

__ADS_1


Cita rasa dari makanan mewah sangatlah berbeda.


"Enak sekali," ucap Livia menarik nafas puas.


"Kau boleh memesan lagi," kataku.


"Tidak perutku sudah kenyang.. aku makan udang goreng emas, ayam goreng emas serta kentang emas goreng."


Perkataan yang terakhir itu pasti salah pengucapannya.


"Kalau begitu sudah waktunya pergi."


"Um."


Aku membayar makanan kami seharga sepuluh kali lipat dari harga biasanya, emas memang membuatnya semakin mahal. Selagi berjalan di gang kami berbelok dan saat seseorang muncul dari arah belakang kami pedang Livia telah berada di leher seorang wanita yang sebelumnya aku sangka sebagai bandit.


"Kenapa kau mengikuti kami? Aku yakin kami tidak punya masalah denganmu."


"Bisakah kau menurunkan pedangmu dulu?"


"Tergantung jawabanmu aku akan langsung menusukannya ke dalam tenggorokanmu."


Livia sekejam yang kuingat saat menjadi musuh.


Wanita itu melirik ke arahku seolah meminta bantuan.

__ADS_1


"Livia tolong turunkan pedangmu, kurasa dia bukan orang jahat."


"Benar."


"Jika tuan bilang begitu."


"Kau sangat mengejutkan bahkan kita sesama Titan kau benar-benar tanpa ampun."


Aku maupun Livia cukup terkejut dengan itu, sementara wanita di depan kami hanya tertawa canggung.


"Namaku Julie, seperti yang kukatakan aku seorang Titan."


"Bagaimana kau tahu bahwa kami berdua Titan."


"Aku memiliki kemampuan untuk mengenali rasku, di tempatku berasal masih ada Titan yang lainnya."


Ini baru pertama kalinya aku mendengar hal itu.


"Aku sebenarnya dikirim ke wilayah ini untuk menyelidiki raksasa yang lainnya, kudengar peperangan telah selesai dan manusia telah hidup damai... kupikir mereka telah dihabisi karena itulah aku datang kemari untuk memastikannya."


Aku melirik ke arah Livia yang sebelumnya adalah salah satu pemimpin yang memulai penyerangan tersebut.


Mengetahui pandanganku Livia membuka mulutnya.


"Aku juga baru tahu, dia bukan dari fraksi Ranger ataupun Lu Shang... aku tidak pernah mendengar bahwa ada Titan sepertimu."

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti seorang makhluk asing... jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang kami ikuti saja aku, aku akan membawa kalian ke rumahku."


Aku maupun Livia mengangguk mengiyakan.


__ADS_2