
Menyeimbangkan diri bukanlah sesuatu yang sulit, aku membiarkan Ricol duduk di bahuku sementara aku berjalan dengan pelan-pelan.
Ricol sama sekali tidak ingin membuat bulu ekornya terkena lumpur butuh waktu lama untuk membuat ekornya kembali mengembang seperti sekarang.
Beberapa peserta mengutarakan banyak keluhannya
"Sial... ada lintah di dalam kolam lumpur ini."
"Keluarkan, aku takut lintah."
"Emak, emak."
Yang berteriak itu pria kekar dengan wajah menyeramkan.
Aku dan Ricol berhasil melewatinya menuju halangan ketiga yang merupakan ayunan kawat berduri di mana kami harus merangkak untuk melewatinya, tiba-tiba saja semuanya jadi malah seperti pelatihan militer.
"Emak, emak."
Pria besar itu masih memanggil ibunya.
"Berhenti memanggilku, aku ada di sini."
Ternyata dia juga ada dibarisan pertama.
"Maju dengan kekuatan penuh."
"Bukan waktunya diam suamiku, cepat kita juga."
"Ah baik."
"Kenapa kau mengalihkan pandanganmu."
__ADS_1
Aku tidak tahu harus melihat kemana karena sejujurnya Ricol ada di depanku.
Kami melewatinya dengan baik, begitu juga pria besar yang berlari bersama emak. Selanjutnya tidak ada halangan namun jelas semua itu hanya jebakan agar kita lengah.
Jarak lari sejauh 5km dan jika bolak-balik itu sekitar dua kali lipatnya, sungguh ini perlombaan yang melelahkan pantas saja istriku yang lain tidak mau ikut dan memilih bermalas-malasan di rumah.
Rubah memiliki ketahanan hebat dalam berlari kaki mereka serta kecepatan mereka tidak bisa diremehkan, jika tidak halangan semuanya akan lebih mudah bagi mereka.
Sekarang kami harus melewati sungai, beberapa orang yang sebelumnya terjatuh di kolam memilih membersihkan dirinya sesaat sebelum berlari kembali, aku menggendong Ricol agar dia tetap kering.
"Yos maju suamiku."
"Ah, ada ikan hiu di sungai ini.. cepat keluar."
"Kenapa ada ikan hiu di sungai," teriakku menimpali peserta lainnya yang buru-buru bergerak ke tepian.
Melihat kami, beberapa peserta yang baru datang melewati sungai dengan melompat di atas batu.
"Emak, emak."
Ibunya pasti preman.
Ujung lomba sudah sampai, kami diberikan stempel oleh panitia yang duduk di sini dengan santai dan mengarahkan kami untuk kembali lewat jalur berbeda, aku yakin ada jebakan baru juga di sana.
Ada tulisan "Tanah hisap," di depan rintangan selanjutnya, hingga orang-orang naik ke pohon untuk berayun tapi aku yakin bahwa di Elfdian tidak ada tanah seperti itu.
"Suamiku kita harus bergegas naik juga."
"Tidak usah."
Aku mengambil batu lalu melemparkannya ke tengah-tengah dan itu tak terjadi apapun.
__ADS_1
"Heh."
"Tidak ada tanah hisap di Elfdian."
"Kepala desa sampai melakukan ini, akan kuhajar nanti dia."
Sepertinya semua orang yang telah naik memiliki dendam yang sama.
Untuk sekarang mari lanjutkan perlombaan lari ini, kami melewati semak belukar yang dipenuhi ular.
"Emak aku digigit ular."
"Semua ular ini tidak beracun cepat jalan."
"Ba-baik."
Sampai sekarang kenapa mereka selalu ada di belakangku. Kami melewati sungai yang sama lalu melewati jebakan lubang yang sama, saat sore hari kami bisa melihat orang-orang yang telah menunggu di garis finis.
Beberapa orang menjadi lebih semangat untuk menyelesaikan ini semua, tak terkecuali Ricol yang berlari disampingku.
Jika melihat posisi kami, kami akan berakhir di posisi ketiga, aku jelas tidak akan membiarkannya jadi kulemparkan Ricol lewat pergelanganku dan pria besar juga melakukan hal sama dengan ibunya.
"Dan sekarang siapa yang akan menang, Ricol atau si nenek," teriak kepala desa mengumumkan.
Dan yang keluar pemenangnya adalah Ricol.
"Mama menang."
"Menang Yeay."
"Jangan khawatir ada hadiah untuk juara dua dan tiga juga."
__ADS_1
Itu melegakan, orang-orang yang memiliki dendam kepada kepala desa mulai menginjak-injaknya sampai bonyok.