
Tiga hari berikutnya aku pergi ke alam dewi bersama Aira, Harfilia dan juga Rion, tampak dua orang telah mendahului kami untuk duduk di kursi taman kediaman Aira.
Dia adalah Venus yang tetap tak mengenakan apapun di tubuhnya dan satu lagi adalah Ringbel yang sebelumnya pernah kuselamatkan dari dunia bawah.
"Lama sekali, kami sudah menghabiskan dua cangkir teh," ucap Venus.
"Kenapa kalian berada di sini, terlebih ini hanya akan menjadi acara pergi bersama keluarga."
Aira juga tampak sepakat dengan perkataan Rion namun Venus sama sekali tidak terganggu akan hal itu.
Lebih parah dari semuanya orang yang tidak diharapkan kehadirannya muncul, dia berjalan seolah tak peduli keributan yang terjadi.
"Lion, kau datang kemari... mari pergi ke kediamanku saja, di sana pemandangannya lebih bagus."
Dia adalah Amnesty yang telah melekat padaku hingga dikepung dewi lainnya.
Aku sebenarnya tidak ingin menjalani hidup Harem seperti ini.
Ringbel berkata paling awal.
"Aku telah banyak berhutang pada Lion yang telah menyelamatkanku, biar aku yang merawatnya."
"Tidak, tidak, di masa lalu aku pernah menghajar Lion maka sebagai permintaan maaf biar aku yang merawatnya."
"Di sini aku istrinya kalian tidak berhak mengatakan itu."
"Aku juga setuju, Rion, Harfilia dan aku yang paling berhak."
__ADS_1
"Itu benar," tambah Harfilia.
"Sebenarnya kalian membicarakan apa?" kataku lemas.
Ngomong-ngomong aku tidak mengenakkan topeng melainkan hanya berpenampilan seperti biasanya sebagai siswa SMA dengan jaket olah raga. Belakangan pakaian ini cukup populer di Elfdian.
Amnesty menjelaskan.
"Cara mengembalikan kondisi Lion adalah dengan mandi di kolam dewi, agar khasiatnya dapat diterima oleh Lion harus ada dewi yang menemani."
Aku memiliki ekpresi sulit sekarang.
Rasanya alasan yang terakhir itu dibuat-buat.
Setiap dewi memiliki kolamnya sendiri kebetulan milik Aira lebih luas dan lebih bagus.
"Mandi dengan pria pasti sangat memalukan."
"Lalu kenapa kau bersikeras ikut?" teriakku pada Amnesty.
"Aku juga malu."
"Sebelum mengatakan itu malulah karena tidak memakai pakaian kemanapun kau pergi," balasku pada Venus.
Setelah membasuh diriku, akhirnya aku bisa berendam di kolam yang sepenuhnya tertutup uap air, kolam ini memiliki penyembuhan di mana saat aku menyatukan kembali tanganku itu menempel sedia kala.
Aku jelas sangat terkejut seolah rasanya aku ini terbuat dari lilin.
__ADS_1
Venus, Aira, Harfilia, Rion, Ringbel dan juga Amnesty masuk ke kolam setelahku, mereka saling bertengkar dan kemudian bermain bersama dengan saling mencipratkan air ke wajah mereka.
Sejauh ini aku sama sekali tidak mengerti hubungan antar dewi itu seperti apa, mereka terkadang bertengkar satu sama lain kemudian akur, mereka juga tidak saling membenci satu sama lain setelah apa yang terjadi.
Memikirkan hanya membuang waktu jadi mari nikmati kolam ini dengan santai.
Aku masih memiliki tujuan besar lainnya namun aku ingin memastikan dulu kapal yang telah dibangun di ortodoks suci sebelum pergi. Di depan dermaga aku bisa melihat kedatangan kapal yang dimaksud.
Ini adalah pelayarannya yang pertama jadi itu adalah momen yang luar biasa.
Tidak hanya kru para petinggi dari kerajaan pun ikut untuk melihat seberapa besar perubahan pada benua iblis yang baru, semua hal telah kuserahkan pada semua petugas untuk memandu mereka semua.
Aku sudah mengatakan bahwa di benua iblis tidak ada diskriminasi apapun bahkan terhadap iblis dan para titan, jadi mulai sekarang mereka harus terbiasa.
"Menaiki kapal terlihat menyenangkan, lain kali aku akan mencobanya," ucap Harty di sebelahku kemudian disusul Valentine.
"Aku pikir itu tidak sehebat seperti terbang dengan naga."
"Apa itu pujian padaku?"
"Bisa dibilang begitu."
Aku, Livia, Harty dan juga Valentine akan pergi bersama.
"Kita akan pergi sekarang tuan?"
"Iya, kita juga punya tujuan yang berbeda, mari pergi ke Labirin Besar."
__ADS_1