
Jika dia bilang aura mungkin saja itu ada sangkut pautnya dengan skill tujuh dosa milikku. Aku tidak peduli dengan itu, jikapun bajak laut itu muncul aku hanya harus mengalahkannya atau sebagainya.
Saat kemunculan Harty dan Hualing wanita kafe ini berjalan kembali ke tempatnya dan kembali melayani beberapa pelanggan yang bermunculan.
"Lion, apa ada yang terjadi?" tanya Hualing.
"Tidak ada, kita harus melanjutkan perjalanan kembali setelah selesai di sini."
"Um."
Setelah dua jam kami naik ke atas perahu, tidak banyak yang bisa kami lakukan jadi kami menghabiskan waktu dengan memancing. Kupikir jika kembali dari pulau Siren aku tidak ingin menggunakan perahu lagi.
Semua jelas membosankan.
Sesampainya di pulau ke dua kami menyewa penginapan murah, satu kamar untuk tiga orang merupakan hal kami lakukan sekarang.
Harty dan Hualing tidur di atas ranjang sementara aku menggunakan tempat tidur tambahan di lantai.
"Selamat tidur kalian berdua."
"Selamat tidur Lion," X2
Masih tersisa dua hari untuk kami pergi, esok paginya sebuah kegaduhan membangunkan kami. Aku melirik ke arah jendela di mana tampak asap ke luar dari sudut kota berbeda.
Harty dan Hualing mengikuti pandanganku.
"Siapa mereka?"
__ADS_1
"Mereka bajak laut, apa boleh buat kita akan bertarung."
Hualing dan Harty mengangguk mengiyakan sebelum mengikutiku untuk keluar penginapan, beberapa orang berusaha menyerangku dengan sebuah pedang dan aku hanya menebas mereka dengan mudah.
"Harty pergi ke sana, Hualing ke sana dan aku akan pergi ke sini."
"Aku mengerti."
"Um."
Aku mengambil jalanku dan tampak ada seorang yang hendak melukai seorang wanita dan anaknya, sebelum itu terjadi aku menusuk jantung perompak itu hingga dia mati dalam sekejap.
"Pergilah ke tempat aman."
"Ba-baik."
Aku mengarahkan tanganku ke arah para perompak yang mendekat, dengan mengirimkan tanganku aku menciptakan lingkaran sihir api lalu berkata.
Dalam sekejap mereka terbakar dan hanya menyisakan satu orang pria rambut panjang dengan penampilan bajak laut sesungguhnya.
Dia membawa pedang di tangannya.
"Ada seorang penyihir di pulau ini sungguh keberuntungan, kau pasti kuat bukan."
"Siapa kau?" tanyaku selagi menunjukan bilah pedang padanya.
"Kami adalah bawahan bajak laut Corgan, yang disebut sayap timur namaku Desvito."
__ADS_1
Belakangan ini orang sering memasukan nama arah sebagai nama kelompok.
"Jika kau sayap timur berarti tidak aneh bahwa ada sayap barat, Utara dan Selatan."
"Sepertinya kau pintar juga... benar sekali, Corgan memerintah kami untuk membunuh siapapun yang ada di pulau lalu mengambil hartanya, anggap saja ini balasan untuk masa lalu."
Mereka sebelumnya menghilang saat keberadaan iblis lautan, jadi ada sesuatu yang terjadi dengan Corgan maupun iblis lautan saat itu.
Aku hanya harus menanyakannya secara langsung nanti.
"Sudah cukup bicaranya, matilah."
Desvito melompat di depanku selagi mengirim tebasan padaku. Dia melakukannya dari atas ke bawah kemudian dari samping hingga percikan tercipta di setiap benturan yang terjadi.
Aku menebas dari samping di luar dugaan Desvito membungkuk rendah untuk menghindarinya lalu mempersempit jarak dengan sebuah tusukan.
Aku menahannya dengan samping pedangku membuatku sedikit terdorong ke belakang.
Dia bukan ahli pedang sembarangan.
"Ini pertama kalinya seseorang mampu menahan tusukanku, jelas sekali pertarungan ini akan menarik."
"Kekuatanmu masih lemah belum bisa melawanku."
"Lihat saja nanti."
Desvito menyelimuti pedangnya dengan aura gelap, saat dia kembali menusukkannya padaku, pedangnya bertambah panjang mendorongku menembus beberapa rumah lalu membiarkanku mendarat kasar di dinding.
__ADS_1
"Bagaimana, kuat bukan... ini adalah sebuah pedang sihir, aku bisa memanjangkan pedangku lalu mengendalikannya semauku."
Aku menyeringai dari dalam topengku, sepertinya aku memiliki lawan yang bisa menguji pedang baruku sekarang.