Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 241 : Situasi Dalam Peperangan


__ADS_3

Saat aku membuka mataku, aku menyadari bahwa aku sedang berbaring di pangkuan Rion.


"Berapa lama aku tertidur."


"Cuma beberapa menit, Aira sedang mengecek seluruh kota untuk memastikan bahwa ada yang masih selamat."


"Begitu."


Aku hendak bangun namun Rion menahanku.


"Kau terlalu memaksakan diri jadi beristirahatlah lebih lama lagi."


Aku melirik ke arah Rion yang hanya menatapku dengan pandangan lembut.


"Lion sudah bekerja keras, biarkan istrimu yang cantik ini memanjakanmu."


Aku hanya bisa membalas dengan senyuman pahit sebelum mengalihkan pandanganku ke samping dan melihat bagaimana kota ini dihancurkan, aku telah membuat hubungan dengan kota ini termasuk orang yang tinggal di dalamnya namun hanya dalam sehari itu bisa dihancurkan dengan mudahnya.


Apanya menyelamatkan dunia? Aku telah gagal melindungi hal yang berharga untukku sendiri.


Tak lama kemudian Aira muncul dengan gadis loket yang berjalan selagi memegangi tangannya yang terluka, tampaknya dia baik-baik saja. Syukurlah.


"Lion, kau tak apa?"

__ADS_1


"Bukan masalah."


Aku menutupi wajahku yang hendak menangis.


"Kalau saja aku tidak terlambat kalian tidak perlu mati."


"Lion jangan salahkan dirimu sendiri.... kalau bukan karenamu, mungkin akan jauh lebih buruk lagi," ucap gadis loket menenangkan.


Setelah menenangkan diriku aku berdiri di depan makam seluruh pejuang yang telah dimakamkan.


Glory berdiri di depanku selagi mengepalkan tangannya dengan air mata mengalir di wajahnya.


"Walau singkat, aku senang bisa mengenal kalian... aku benar-benar bersyukur."


Aku berkata pada Glory.


Sebelum aku menyelesaikan perkataanku sebuah tinju menerbangkan diriku jatuh di tanah.


Glory menduduki perutku selagi mencengkeram kerah bajuku. Wajar jika dia begitu marah, jika dia memukulku aku hanya bisa menerimanya.


Mereka semua mati karenaku jadi aku tidak akan mengelaknya. Ketika aku bersiap-siap menerima pukulannya yang datang adalah pelukan yang hangat yang dibarengi tangisan yang lebih mirip teriakan.


"Aku akan membalas mereka, aku akan membuat perjuangan mereka tak sia-sia, aku berjanji."

__ADS_1


Jadi begitu, Glory memilih untuk terus berjuang meskipun dengan apa yang telah dia lalui.


Aku membalas pelukan Glory dan menepuk punggungnya.


Keheningan hanyalah satu-satunya yang mewarnai kejadian ini.


Dua kota telah dihancurkan dan kekaisaran telah menargetkan kerajaan Frames sebagai target berikutnya


Di ruangan tertutup yang hanya ada aku, ratu dan juga gadis loket kami mendiskusikan langkah yang akan kami ambil berikutnya. Selama peperangan terjadi kami memutuskan untuk tinggal di ibukota demi merencanakan peperangan melawan kekaisaran.


Seperti yang kita ketahui seluruh kerajaan sudah jatuh begitu saja dan kini hanya menunggu waktu sampai dunia benar-benar dikuasai satu orang.


Bukan hal aneh jika kekaisaran bisa menaklukkan semuanya maka benua iblis ataupun benua enam wilayah akan dalam bahaya.


"Situasinya benar-benar mengerikan, karena kaisar menggerakkan seluruh pasukannya secara serempak maka mereka membutuhkan istirahat sebelum memulai lagi serangannya ke kerajaan Frames."


"Berapa lama itu?" tanya gadis loket.


"Cuma tiga hari."


Itu jelas tidak masuk akal, dalam waktu sesingkat itu kami harus menyerang mereka untuk mengulur waktu.


Saat pasukan mereka berkurang mereka akan berfikir dua kali untuk menyerang Frames sehingga mereka akan mencoba membuat strategi yang berbeda.

__ADS_1


Yang menjadi masalah di sini bukanlah soal itu melainkan bahwa yang ikut serta dalam peperangan ini tidak hanya pasukan kekaisaran melainkan pasukan kerajaan yang mereka taklukan juga.


Mereka menyandera raja dan ratu sebelumya untuk menggerakkan para pasukan tersebut, sungguh perbuatan yang pengecut.


__ADS_2