
Dihadapkan dengan sosok Genjitsu yang merubah dirinya menjadi iblis sepenuhnya, Shiramaru maupun Kaori hanya terdiam tanpa ekspresi, udara yang mereka rasakan terus menjalar menjadi lebih panas setiap menitnya.
Di sisi lain sebuah mata muncul di kening Genjitsu saat dia melesat maju.
Pedang di tangannya terayun menciptakan derittan yang membelah udara, Shiramaru menahannya sekali kemudian berputar untuk menahan serangan selanjutnya.
Ingatan masa lalu mengalir deras dalam ingatannya.
Bagaimanapun mereka bertiga adalah rekan yang saling menolong satu sama lain dalam misi dan sekarang mereka harus saling membunuh untuk membuat yang lainnya tetap hidup.
Shiramaru menggunakan tekni IAI tepat saat Genjitsu muncul di depannya, tebasan itu hanya memotong bangunan yang terbakar di belakangnya membuatnya roboh lebih cepat.
Genjitsu mempersempit jarak menggunakan tebasannya dia mampu membuat tubuh Shiramaru terlempar jauh ke samping dengan ledakan besar, jika pun harus dibunuh pertama kali adalah Kaori.
Dia telah membuka gerbang iblis tingkat dua miliknya menjadikannya menyerupai seekor makhluk laba-laba, dia merangkak dengan kedua kaki dan tangannya selagi menembakan jaring emas dari mulutnya yang membungkus tubuh Genjitsu.
Jaring itu tidak mempan dibakar.
Shiramaru yang mendapatkan kesepakatannya telah bangkit dengan posisi berlari dengan tangan memegang katananya.
Dia menebas leher Genjitsu akan tetapi pedangnya sendiri yang patah, menyadari hal itu dia buru-buru melompat mundur, tubuhnya mengeluarkan bercak hitam dan sedikit demi sedikit merubah dirinya menjadi iblis sempurna dengan empat mata di wajahnya.
__ADS_1
Pedang yang patah digantikan pedang yang dilemparkan oleh Kaori padanya. Jaring yang menyelimuti Genjitsu pun telah dihancurkan.
Sebagai iblis keduanya saling membenturkan pedang, semakin banyak mata yang dimiliki mereka maka semakin kuat saat mereka bertarung. Namun disisi lain kekuatan hanya sebatas kekuatan tanpa bertarung dengan mempertahankan emosi serta memperhatikan gerak musuh semuanya hanya sia-sia.
Tak hanya kalah dalam jumlah mata Genjitsu lebih bertarung dalam kemarahan, setiap kemarahan yang dia buat menjadi api yang membungkus dirinya.
Shiramaru tahu hal itu, Genjitsu tidak menggunakan pernafasannya dengan benar, ia mengambil kesempatan dengan tebasan cepat disusul dengan tekniknya yang mematikan selagi menghindari api yang ditembakkan dari musuhnya.
Saat dia berdiri di belakang Genjitsu dia menyarungkan pedangnya, bersamaan itu suara aneh muncul dari tubuh yang menyemburkan darah.
"Kenapa kalian berdua melakukan ini semua?"
"Mari kembali Kaori."
"Echidna pasti akan marah jika kita tidak membawanya juga."
"Biarlah, kurasa orang itu juga akan melakukan sesuatu nantinya."
Keduanya berjalan pergi meninggalkan tubuh musuhnya yang telah mati, sejak menyusup kekaisaran mereka telah mencari tahu tentang Hime sayangnya Hime selalu menyembunyikan dirinya sebagai Rin dan saat dia kembali dia malah diambil oleh bawahan Henos, yang mereka dapatkan hanyalah sebuah kegagalan.
Tak lama kepergian keduanya Wisteria dan Yukisa telah sampai di istana, mereka hanya mendapatkan tubuh tengkorak yang telah kehilangan kepalanya dan juga Genjitsu.
__ADS_1
Yukisa menggigit ujung bibirnya.
Saat kepala iblis dipenggal mereka akan seutuhnya mati.
"Dia sudah mati."
Wisteria yang menyelidiki sekitar menemukan potongan pedang milik Shiramaru yang mana ia tunjukkan pada yukisa.
"Lihat ini."
"Ini?"
"Orang yang menebas keduanya pastilah Shiramaru, aku yakin dia juga bersama Kaori."
"Maksudmu bahwa keduanya pengkhianat?"
Atas pernyataan Yukisa, Wisteria mengangguk mengiyakan.
Dia melirik ke tangan Genjitsu yang telah menulis nama Echidna dengan darahnya, setelah membacanya pandangan Wisteria tertuju ke arah di mana rekannya berada.
"Lion sebenarnya siapa Echidna yang kau cari?" pertanyaan tersebut tak mendapatkan jawaban apapun.
__ADS_1