
Lantai tiga dan empat tidak jauh berbeda dengan lantai sebelumnya, di sini kami beristirahat di sebuah rumah sederhana yang kubuat menggunakan sihir kayu milikku.
Farida, Dalius, Theo dan Siel hanya terdiam dengan wajah terkejut.
"Sihir apa itu?" teriak Dalius.
"Sihir biasanya, ini bukan hal aneh."
"Tidak, tidak, mana mungkin seorang bisa membuat rumah hanya dalam waktu beberapa detik saja terlebih ini rumah permanen."
Sihir kayu memang sangat berguna saat digunakan untuk ini. Siel memegangi kepalanya.
"Kepalaku pusing dengan ini bahkan saat berpergian jauh kita tetap mendapatkan rumah yang hangat dan nyaman."
Aku hanya menaikan bahuku sebagai jawaban, bukannya kami selalu tidur di rumah terkadang kami juga mencoba tidur di luar untuk merasakan bagaimana menjadi petualang sesungguhnya.
Yang terpenting untuk malam ini kami punya tempat beristirahat. Pagi berikutnya kelompok Dalius menambang kristal besar yang berada di tengah hutan, tingginya menyamai tinggi bukit besar.
"Tuan, bukannya mereka malah memperlambat kita?"
"Yah... tak masalah, kita juga tidak perlu terburu-buru, mari kita juga mengambilnya."
__ADS_1
"Aku mengerti."
Harty dan Valentine juga mengikuti dari belakang untuk menambang, kristal ini terlihat transparan tanpa warna apapun, itu mirip sebuah cermin yang jernih namun saat dihancurkan ternyata sangat keras.
Perlu tenaga ekstra untuk menghancurkannya, jika kau memiliki naga itu bukanlah masalah.
"Harty hancurkan semua ini, kupikir saat kembali kita bisa menjualnya dan membelanjakan setengahnya untuk makanan."
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, serahkan padaku."
Harty mengirimkan satu pukulan dan itu menciptakan retakan yang melebar keseluruhan areanya, di pukulan kedua semuanya hancur berserakan.
Party Dalius hanya bisa terkejut lagi.
"Ini mudah bagiku, apa kalian butuh bantuan?" Harty menawarkan bantuan pada Dalius dengan wajah sombongnya.
"Tolong lakukan."
Mereka jelas sangat senang.
Saat mereka keluar dari sini mereka jelas akan menjadi orang kaya.
__ADS_1
Di lantai lima semua pemandangan telah berubah secara drastis tempatnya sendiri terasa lebih lembab di mana ada sebuah danau yang luas berada di tengahnya dengan kumpulan katak berwarna merah cerah di dalamnya, mereka mengirim sebuah bola air dari mulutnya dan itu mampu menghancurkan batu dengan mudah.
"Mereka terlihat enak, aku ingin memakannya kalau bisa."
Mari abaikan perkataan Harty tersebut.
Setiap monster yang berada di dalam sini akan berubah jadi batu sihir karena itu dia tidak bisa melakukannya jikapun dia mau. Livia mengayunkan pedangnya membunuh lima dalam satu tebasan, yang lain juga berjuang melakukan hal sama.
Siel mengirim tebasannya yang memotong katak di depannya, Dalius turut membantu dan Theo berada di belakang melindungi Farida yang menggunakan sihir penguat serta pelindung pada kami.
Mereka bekerja semestinya seorang petualang, jika melihat anggotaku benar-benar sangat jauh berbeda.
Livia menebas musuhnya, Harty mengamuk tanpa arah sementara Valentine membunuh mereka dengan jeratan leher.
"Jangan mendekat, aku membenci katak," teriak Valentine.
Karena kuat kerja sama mereka sama sekali tidak dibutuhkan.
Aku melapisi pedangku dengan sihir air dan ketika aku menebaskannya itu menciptakan naga air yang menyapu semuanya.
Menurut Dalius kita tidak bisa membiarkan batu sihir itu berserakan jadi setelah pertarungan kami memungutnya, selain memperlambat monster lain muncul, batu sihir ini juga cukup memiliki harga tinggi di guild.
__ADS_1
Aku sekarang masih banyak memiliki uang untuk keluargaku maupun negara, tapi bukan hal salah juga jika aku mengumpulkan uang untuk di masa depan.
Anggap saja seperti sedia payung sebelum hujan.