
Setelah kedua belah pihak sepakat kami siap untuk menjalankan rencana Lena.
Di atas genteng itu aku bersama anggota partyku menatap puluhan orang yang sedang menyusun peledak.
Karena lokasi tembok yang jauh dari perumahan hal itu tidak akan membuat seseorang terluka.
Valentine yang sedikit penasaran bertanya padaku, hari ini cuaca cukup mendung meski begitu ia sama sekali tidak berniat untuk menutup payungnya.
"Ngomong-ngomong Lion, aku baru mengenal Lena tapi kenapa dia sampai sejauh itu ingin menyatukan wilayah ini?"
"Aku belum mengatakannya yah, orang tua Lena sebenarnya berasal dari kedua wilayah ini. Saat itu mereka menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun hingga akhirnya keduanya mendapatkan hukuman pengusiran, sebelum pergi mereka menitipkan Lena di wilayah ini."
"Ada peraturan seperti itu lalu kenapa mereka malah meninggalkan Lena?"
"Karena cukup sulit untuk membawa balita keluar kota ini, apalagi hidup tanpa tujuan akan tambah menyulitkan jadi selama itu dia hanya tinggal bersama neneknya di sini. Lena berfikir bahwa jika wilayah ini bersatu maka kedua orang tuanya bisa kembali ke sini."
"Begitu, jika demikian aku akan membantu juga."
"Jangan terlalu memaksakan diri.. lawan kita sangat banyak jadi jika sudah lelah cepat mundur."
"Baik."
"Bagaimana denganku Lion?"
"Kau harus bertarung tanpa henti dan pastikan tidak memakan tubuh mereka."
__ADS_1
"Kejamnya."
Rion menyela.
"Sepertinya mereka sudah selesai."
"Aku ingin melihat peledakan sesungguhnya."
Lena melompat ke sampingku bersama si Receptionis sexy.
"Persiapan sudah selesai, siap merobohkan."
"Aku sendiri yang akan melakukannya," ucap Lena.
Aku mengalihkan pandangan ke bawah di mana ada sumbu yang telah dipersiapkan di sana, dengan sedikit api sumbu mulai dinyalakan lalu mulai menjalar sesuai rute yang telah ditentukan.
Receptionis meniup suling dari daun dan dalam sekejap pasukan yang kami siapkan menerjang ke depan.
Itu juga tanda untuk kami bergerak, lawan kami hanya para penjaga dan tentunya raja yang bersembunyi di kastilnya.
"Mari pergi."
Aku melesat di atas reruntuhan bersama anggota partyku. Harty mengangkat batu raksasa yang mana dia lempar begitu saja pada tentara musuh hingga berhamburan ke segala arah.
Di saat yang sama Valentine menciptakan bunga mawar raksasa yang mengeluarkan serbuk hingga mereka semua pingsan sementara aku menjatuhkan beberapa dengan pedang milikku.
__ADS_1
Bagi pedang Rion armor mereka hanyalah sebatas kertas tipis. Salah satu penjaga melompat dari belakangku yang kemudian terkena tendangan si Receptionis.
"Nice."
Aku mengangkat jempolku padanya.
Ketika ada dua penjaga lain yang mendekat kepala mereka diinjak oleh Lena yang tiba-tiba muncul dari atas.
Aku juga mengacungkan jempol untuknya.
"Nice."
"Tolong jangan bercanda di saat seperti ini, mari bergegas."
"Baik."
Setiap jalan yang kami lewati dihiasi oleh pertumpahan darah, beberapa mayat terlihat berjatuhan diantara kedua belah pihak, selain sihir yang bermunculan bunyi lengkingan dua logam yang bertubrukan semakin terdengar jelas.
"Cukup sampai di sini, hari ini aku akan menghentikan kalian semua."
Seorang berdiri di depan kami semua, dia adalah pria botak yang kulawan kemarin malam bernama Galendo.
Tanpa basa-basi Lena melompat ke atas, ia menekuk kakinya untuk menghantamkan kedua lututnya tepat di wajahnya hingga dia tumbang.
Dalam waktu singkat Galendo dikalahkan.
__ADS_1
"Serangan yang bagus," gumamku dalam hati.