
Aku dengan yang lainnya hanya diam selagi menatap nisan itu dari dekat, tidak ada yang aneh dari itu bahkan sejujurnya semuanya tampak biasa.
"Kita sama sekali tidak memiliki petunjuk lagi, bagaimana sekarang Lion?"
"Kita akan melanjutkan perjalanan kalau begitu."
"Bukannya desa ini masih dalam bahaya?" tambah Mamia sementara aku menjawab dengan gelengan kepala.
Dan begitulah kami meninggalkan desa tersebut keesokan paginya, namun tidak benar-benar pergi melainkan menyelinap dan menemukan seseorang tengah berjalan-jalan di sekitar desa pada tengah malam.
"Kau sedang mengincar mereka lagi?" kataku mengagetkannya.
"Kalian, bukannya kalian sudah pergi dari sini."
Wajahnya tampak syok tapi aku sudah menduganya sejak awal bahwa dia adalah orangnya. Dia adalah orang yang memanggilku kisanak saat pertama kali.
Varlia menarik pedangnya untuk mencegahnya melarikan diri, begitu juga Mamia serta Estelle.
"Bagaimana kau tahu?"
"Sejak awal aku merasa aneh karena mencium aroma darah darimu dan juga saat kau menyerang anak-anak ada salah satu anak yang mengenalimu."
"Karena inilah harusnya aku membunuh mereka sekaligus, siapa sangka ada segerombolan serigala di sana yang menggangguku."
Serigala yang dia maksud telah dia bersihkan sendiri karena itulah meski kami menjelajahi hutan serta danau kami tidak bisa menemukannya.
Aku membalas.
__ADS_1
"Tidak hanya itu kau melupakan sesuatu yang paling penting diantara semuanya."
Dia tersenyum masam seolah menggeretakkan giginya.
"Semua kejadian yang terjadi di sini bertepatan saat kau tinggal di desa ini, bukan tidak aneh bahwa kaulah yang membunuh kepala desa."
"Haha aku benar-benar lengah, seharusnya aku menyelinap ke kota agar sulit untuk diketahui tapi kurasa semuanya terlambat."
Varlia mengayunkan pedangnya untuk memenggal kepalanya namun tangan dari pria itu menangkapnya dengan mudah, kuku dari tangan rampingnya mulai memanjang seiring taring yang menyeruak dari mulutnya.
Mamia dan juga Estelle melayangkan senjata mereka juga dan secara bersamaan ketiganya terhempas ke belakang. Dengan keributan ini orang-orang mulai berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Anak-anak tampak bersembunyi di punggung orang tua mereka selagi menunjuk ke arahnya.
"Dialah pelukannya."
"Apa boleh buat, akan kuhabisi kalian semua."
Dia melompat ke arahku selagi memamerkan kukunya, mengayunkannya dengan diimbangi kecepatan tinggi darinya, dia menyerangku dari segala sisi menciptakan percikan saat berbenturan dengan pedang milikku.
"Legenda tentangmu telah menghilang, kenapa kau malah muncul lagi."
"Selama ini aku terkurung di reruntuhan dan pahlawanlah yang membuatku keluar dari sana."
"Pahlawan itu kah?" kataku santai.
"Sebagai balasan, aku hanya harus membunuh setiap anak laki-laki dan menyisakan wanita saja agar ketika mereka dewasa mereka akan dikirim ke istana dan menjadi mainannya, tapi aku lebih suka membunuh keduanya.... dibanding aku, dialah monster yang sesungguhnya."
__ADS_1
Aku menangkis serangan darinya ke samping sebelum menusukan pedangku melewati garis wajahnya.
Sebelum dia bereaksi aku mengayunkan pedangku secara diagonal memotong kedua tangannya.
"Pahlawan itu, akan kubunuh."
Ini adalah pertama kalinya aku benar-benar ingin membunuh seseorang, semua orang terduduk ke tanah dengan aura yang menarik mereka dalam ketakutan.
"Ka-kau, sebenarnya kau sia..."
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya aku melesatkan tebasan terakhir memotong kepalanya hingga dari leher itu terdengar suara darah yang menyembur ke udara.
Pahlawan ini benar-benar membuatku kesal, akan kuselesaikan ini semua dan menantangnya nanti di ibukota.
Orang-orang hanya terdiam mematung, mereka mungkin ketakutan atau merasa hal seperti itu. Saat aku berbalik Varlia melompat ke arahku dari belakang, untuk Mamia dan Estelle mereka melekatkan lengan mereka di lenganku sambil menyeretku pergi.
"Tolong menjauhlah dariku."
"Tidak bisa, sebagai anggota party kami harus terus melekat seperti ini, benarkan Varlia."
"Yang dikatakan Estelle benar, ini namanya kedekatan dalam hubungan anggota."
Aku jelas meragukan hal itu dan Mamia melanjutkan.
"Jangan melawan Lion, ini agar kau tidak dianggap monster oleh seluruh penduduk."
"Itu bukan masalah.. lagipula kita akan pergi sekarang."
__ADS_1
Meski aku mengatakan itu, para penduduk hanya membungkukan badan mereka tanpa mengatakan apapun lagi.