
Aku ingin mengandalkan pasukan dari benua iblis sayangnya hal itu tidak memungkinkan, mengingat bahwa mereka juga sedang disibukkan dalam pembangunan negara.
"Dari semuanya aku yakin bahwa raja dan ratu dari kerajaan ada di sini."
Ratu menunjuk tempat di pegunungan yang terselimuti salju tebal.
"Di sini tanah milik kerajaan Borman, di sini merupakan penjara terbesar di sana, jika ingin mengurung banyak tahanan perang aku yakin di sini tempatnya."
"Di sana kah? Aku bisa menyelinap malam nanti untuk menyelamatkan mereka. Namun ketika aku menyelamatkan mereka apa yang akan kita lakukan? Kita bisa membawa para raja itu kemari meski begitu, bukan berarti pasukan musuh akan langsung berubah menjadi teman bukan."
"Soal itu aku akan menggunakan benda ini untuk membuat sebuah pengumuman ke seluruh benua ini."
Ratu menunjukan sebuah cermin kecil yang biasa digunakannya, bagiku itu hanya cermin biasa tapi bagi gadis loket itu suatu hal yang mengejutkan.
"Bukannya itu cermin yang bisa membuat wajah maupun suara kita di dengar siapapun di benua ini."
Ratu menjawab dengan anggukan kemudian menjelaskan.
Singkatnya apapun benda yang memantulkan wajahmu maka cermin ini akan langsung terhubung layaknya sebuah pemutar video.
Sepertinya sisanya hanya bergantung padaku, setelah rapat aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota lalu berhenti di sebuah tempat yang disebut pemandian air panas.
__ADS_1
Aku yakin Rion dan yang lainnya berada di dalam sana, jadi khusus hari ini aku memilih ingin tenang dan hanya melewatkannya begitu saja menuju sebuah kafe sederhana yang menyediakan makanan manis.
Seorang gadis pelayan bertelinga kucing memberikan menu padaku.
"Silahkan tuan."
"Aku pesan kue ini dan minumnya teh pahit."
"Saya mengerti mohon tunggu sebentar."
"Gadis dengan tubuh bagus adalah tipeku, bagaimana bisa mereka memiliki pelayan seperti itu dengan jumlah cukup banyak," seorang duduk tanpa tahu malu di depanku selagi berkata demikian.
"Siapa kau?"
"Tinggalkan aku."
"Itu sedikit sulit, kau tahu tempat ini jarang dikunjungi pria seperti kita, aku dan kau mungkin bisa berbagi meja untuk hari ini."
Jika melihat sekeliling kurasa itu memang benar.
"Jadi Thomas kenapa tempat ini jarang dikunjungi pria?"
__ADS_1
"Kau benar-benar masuk tanpa mencari tahu alasannya... kudengar kafe ini dibuat untuk memenuhi hasrat wanita yang menyukai makanan manis tanpa diganggu lawan jenis, kafe ini cenderung membenci pria jadi mereka memasukan racun secara diam-diam ke dalam makanan saat pria yang memesannya karena itulah pria lebih sering menghindari tempat ini."
Aku memegangi kepalaku.
"Harusnya mereka menulis kafe hanya untuk wanita."
"Kurasa kau benar tapi sayangnya di negara ini memiliki dua peraturan utama, pertama loli sangat dilindungi dan aturan lainnya dilarang ada diskriminasi gender karena itu mereka tidak bisa melakukannya, kurasa tak perlu khawatir juga racun yang mereka gunakan hanya sebatas membuat pria sakit perut."
Harusnya itulah yang kukhawatirkan terlebih orang di depanku tahu hal itu namun dia masih saja datang kemari.
Saat aku menanyakan alasannya dia berkata.
"Tentu saja di sini banyak wanita bahenol, aku pikir suatu hari aku akan bisa mendapatkan salah satu dari mereka."
Dia orang sableng.
Tak lama pesananku datang.
"Silahkan tuan."
"Terima kasih, kuharap kalian tidak memasukan racun atau sebagainya."
__ADS_1
Pelayan segera mengalihkan pandangannya.
Sudah jelas dia meracuninya.