
Aku menerima segelas air putih tersebut, tidak berbau dan berasa inilah yang kubutuhkan. Setelah meneguknya aku menyimpannya di meja.
Hampir seluruh ruangan ini beraroma rokok, walau aku terganggu sepertinya wanita di depanku sama sekali tidak demikian dia mengambil kursi untuk dirinya sendiri lalu duduk di depanku selagi menyilakan kakinya yang jenjang.
"Bernegosiasi denganku, kuingatkan aku sudah tidak tertarik dengan uang.. aku hanya menciptakan tempat ini demi tujuanku."
Setelah menghembuskan asap dari mulutnya, wanita di depanku mengangkat satu tangannya lalu menciptakan emas dengan mudahnya.
"Alkimia kah? Kudengar kemampuan seperti itu terikat dengan hukum pertukaran yang setara."
"Owh..kau membuatku terkejut, kau mengetahuinya hal seperti ini."
"Tentu saja tapi aku bukan bernegosiasi tentang itu mari paparkan tujuan kita berdua tanpa harus menyembunyikan kebenarannya.. pertama kita mulai dari nama masing-masing, namaku Lion seorang petualang serba bisa."
"Bukannya lebih baik kau membuka topengmu dulu."
"Maaf soal itu."
Aku melepaskan topengku dengan sedikit gaya tentunya.
"Hoyah, kau pria tampan."
Aku memilih mengabaikan perkataan tersebut untuk mendengarkan perkataan selanjutnya.
"Namaku Lena seperti yang kau lihat aku pemilik tempat mengerikan ini."
"Kurasa tempatmu tidak seburuk itu."
"Apa kau mau menyewaku?"
"Langsung saja, aku ingin kalian semua bekerja untukku mulai sekarang."
__ADS_1
Wanita di depanku sedikit cemberut tapi aku sama sekali tidak peduli.
"Itu pemintaan yang terlalu arogan kami tidak bekerja dengan siapapun, organisasi ini tercipta karena anggotanya memiliki tujuan yang sama yaitu."
"Menghancurkan tembok pembatas yang memisahkan kedua wilayah," potongku bersamaan pernyataan Lena.
"Kau benar-benar menarik."
"Ada yang aneh tentang wilayah ini jadi jika kalian membantuku maka tembok yang ingin kalian hancurkan itu akan terjadi dalam waktu singkat, tapi kurasa bukan hanya itu saja bukan?"
Lena menghisap cerutunya lalu menghembuskan asapnya ke samping.
"Hanya tembok kami sudah bisa melakukannya sejak awal, yang membuat kami kesulitan adalah langkah selanjutnya untuk mencari pemimpin yang baru, jujur saja kami ingin membuat wilayah ini bersatu dan menjadikan seseorang yang lebih pantas menjadi pemimpin."
"Aku sudah menduganya, ada dua negara di satu wilayah adalah sesuatu yang tidak bisa diterima tapi soal pemimpin aku ingin menyerahkannya pada Huang Lien."
"Wanita itu," perkataan Lena diselimuti kemarahan.
"Apa ada yang salah?"
"Jadi begitu... tapi kurasa apa yang dia lakukan tidak terlalu salah?"
"Apa maksudmu."
"Aku juga tidak tahu, karena itulah sebagai langkah awal mari kita selidiki."
"Kau sangat berbelit-belit."
"Aku tidak mengatakannya jika tidak ada bukti."
Receptionis yang sebelumnya mengantarkanku kemari mengetuk pintu lalu masuk untuk menyerahkan kertas yang dia berikan pada Lena.
__ADS_1
"Kau sangat cepat," kataku ringan.
"Tentu saja, ini termasuk keahlianku juga... tak kusangka kau benar-benar mengerikan kau adalah orang yang seharusnya tidak berada di daftar musuh kami."
"Kuanggap itu pujian."
Lena mengutarakan pertanyaan padaku.
"Apa ini?"
"Coba perhatikan dengan seksama."
"Ini? Hanya dalam waktu singkat kau bisa mendapatkan informasi sebanyak ini."
"Aku mengalahkan beberapa pasukan bersama wanita receptionis dan meminta mereka membongkar beberapa informasi rahasia tentang wilayah ini."
"Bagaimana bisa?
Receptionis berbisik.
"Mustahil?"
"Jangan khawatir aku tidak sejahat dewi itu, tapi akan menjadi keributan jika semua orang mengetahuinya jadi tolong rahasiakan semua ini."
"Aku sangat terkejut, kau bisa menggunakan skill tujuh dosa mematikan."
Lena hanya bisa terduduk lemas.
Ekpresinya cukup manis menurutku.
"Jadi apa jawabanmu?"
__ADS_1
"Aku bodoh jika menolak tawaran seperti ini. Kami sepakat."
"Senang akhirnya semua orang bisa cepat mengerti."