
Tak hanya aku yang mencoba berubah Siel yang duduk di sebelahku selagi meredamkan kakinya di air sungai juga berfikiran sama.
Dia menatap kakinya kemudian berkata.
"Aku tidak percaya dengan pria, namun kurasa aku akan sedikit mencoba mempercayainya setelah melihat Lion... kukira pria tidak selalu jahat, ada juga pria baik di luar sana."
"Siel?"
"Aku mengatakan sesuatu yang aneh, maafkan aku."
"Tak apa, kau bisa menceritakan semuanya padaku."
"Terima kasih."
Ini adalah lantai 75 yang merupakan area luas tanpa monster kecuali padang rumput serta bunga di sekelilingnya.
Siel melanjutkan.
"Dulu aku memiliki seorang pasangan yang akan menikahiku, saat itu aku adalah putri dari seorang pedagang terkenal yang kaya raya, namun saat ayahku ketahuan menggelapkan banyak uang dia dihukum mati dan bangkrut.. ibuku bunuh diri sementara pria yang akan menikahiku malah mencampakanku, untuk terus hidup akhirnya aku menjadi petualang seperti ini dan akhirnya aku mulai tidak mempercayai pria lagi."
Aku memeluk Siel secara spontan.
"Tak apa, sekarang semuanya baik-baik saja, setelah ini kita bisa hidup normal di kota."
"Um... aku sangat menyukai kucing, aku ingin membuat kafe kucing atau sebagainya."
"Itu sepertinya menarik, aku akan mendukungmu."
"Terima kasih, aku juga akan melakukan hal sama untukmu."
Kami saling mengaitkan jari kelingking kemudian tertawa bersama, Lion yang entah sejak kapan berada di belakang kami hanya mengangguk kecil lalu berjalan pergi.
Dia mungkin meminta kami untuk melanjutkan perjalanan namun berniat untuk memberikan kami waktu lebih lama.
__ADS_1
Lantai 90 bos area Salamander.
"Yos, semuanya kepung dia dari segala arah.. Farida jangan gunakan sihir pendukungmu cukup penyembuh saja."
"Baik."
Monster yang kami lawan adalah seekor kadal raksasa berwarna merah, monster ini memiliki kemampuan untuk memindahkan sihir buff musuh padanya kecuali sihir penyembuhan karena itulah Lion memberikan instruksi demikian.
Livia melompat untuk memenggal kepalanya namun gerakan kadal tersebut sangat cepat hingga tubuhnya lebih dulu terhantam mulut musuhnya.
Untuk Harty dia tampak berada dipunggung kadal tersebut selagi menancapkan mulutnya.
"Apa yang kau lakukan Harty, jangan bermain-main."
"Aku ingin memakannya sebelum dia berubah jadi batu sihir."
"Kau memakan sejenismu."
"Lion kami ini naga jangan samakan dengan kadal atau tokek."
"Kemarilah akan kugigit kau dan kuperlihatkan perbedaannya."
"Tuan bukan waktunya bercanda, kita dalam situasi gawat."
"Maafkan aku."
Valentine menciptakan sulur untuk mengikat pergerakan kadal tersebut dan di saat yang sama Siel memberikan tebasan, memotong tubuh kadal tersebut menjadi dua bagian sebelum terkapar dengan nafas tersenggal-senggal.
"Aku akan menyembuhkanmu."
"Tolong yah."
Aku tidak pandai bertarung hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu semuanya.
__ADS_1
"Kerja bagus, kita bisa beristirahat di lantai berikutnya."
"Baik."
Livia mendekat setelah menyarungkan pedangnya.
"Tuan saat di lantai terakhir."
"Aku mengerti."
Aku bertanya pada keduanya.
"Apa maksud kalian?"
"Sebenarnya saat di lantai terakhir aku ingin kalian tetap berada di lantai 99, kalian tak perlu bertarung lagi, Harty dan juga Valentine pun."
"Kami sudah sejauh ini tapi kau melarang kami bertarung?" protes Siel.
"Kalian sejauh ini pasti telah mengalami banyak hal sulit aku tidak ingin melibatkan sampai tahap yang membahayakan."
Aku jelas merasakan hal janggal.
"Kenapa kau melarang kami bertarung, apa kekuatan kami tidak cukup."
"Bukan begitu, aku maupun Livia tidak meragukan kalian, hanya saja."
"Tolong beritahu kami apa yang ada di lantai terakhir."
Lion dan Livia saling mengangguk sebelum beralih ke arah kami, Lion yang membalas.
"Lawan yang akan kita hadapi selanjutnya adalah seorang Titan Legendaris.. aku dan Livia adalah Titan juga."
Mendengar itu aku teringat soal para raksasa yang menyerang kerajaan ortodoks suci. Seolah bisa membaca pikiranku Lion melanjutkan.
__ADS_1
"Tapi jangan khawatir kami bukan titan jahat semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman, nanti kalian bisa mendengar semua ceritanya dari Harty atau Valentine."
Keduanya mengangguk mengiyakan.