Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 278 : Negara Para Ras Iblis, Dersiva


__ADS_3

Di atas ranjang Misa mengambil sikap berani untuk memimpin, dia duduk di atasku selagi melompat-lompat kecil, keringat membasahi seluruh tubuhnya dan aku hanya diam dan berharap ini cepat selesai.


"Bukannya sudah waktunya kita pergi?" kataku.


"Satu ronde lagi, aku mohon."


Aku hanya memasang wajah bermasalah.


Aku dan Misa telah muncul di negara para ras Iblis yang dikelola oleh ratu Iblis bernama Isabela, aku pikir itu akan berbentuk neraka atau sebagainya namun itu jauh lebih baik dari yang kubayangkan, semua bangunan mengunakan arsitektur gaya manusia yang mengambil konsep abad pertengahan modern.


Misa meregangkan otot-otot lengannya dengan perasaan puas.


"Terima kasih atas benihmu tuan."


"Baik, baik, jangan mengatakan itu di tempat umum," kataku selagi menepuk rambutnya hingga dia merangkul lenganku.


"Aku sedikit sakit di dadaku."


"Maaf soal itu."


Kami berdua berjalan di jalanan utama kota untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang menarik atau tidak di sini, setiap pertokoan seperti pada umumnya, sampai seorang menyapaku.


Ras iblis memiliki tanduk di kepalanya jadi saat kedatanganku itu jelas sangat mencolok.

__ADS_1


Apa aku akan diusir karena aku manusia.


"Yo tuan Lion... apa ada memutuskan mampir ke sini? Apa terjadi sesuatu?"


Ternyata tidak.


"Yah... aku hanya berjalan-jalan bersama istriku sekarang."


"Begitukah, kalau begitu semoga kalian berdua bersenang-senang...tolong terima ini sebagai ucapan terima kasih."


"Terima kasih?"


"Kami sudah mendengar semuanya dari nona Isabela... Anda lah yang paling berjasa hingga kami bisa hidup damai di sini, ini hanya pemberian sepele tolong diterima."


Kami akhirnya menerima dua apel yang dia sodorkan, seiring kami berjalan bertambah juga barang bawaan kami seolah mereka tidak bisa membiarkanku menolaknya. Pada akhirnya aku menyimpan semua barang di dalam sihir penyimpananku lalu pergi ke alun-alun kota.


Itu hanya sebuah ingatan yang kuterima dari Harfilia saat dia tertidur di dalam es keabadian.


"Kita tidak menemui ratu Isabela?" tanya Misa.


"Di jam-jam seperti ini dia pasti sibuk, lebih baik kita tidak mengganggunya."


"Siapa yang mengganggu?"

__ADS_1


"Isabela."


Dia muncul dari belakangku secara ajaib atau sejujurnya aku tidak merasakan kehadirannya.


"Kudengar kau datang jadi aku bergegas untuk menemuimu."


"Tidak perlu seperti itu, aku hanya datang untuk berjalan-jalan."


Misa memutuskan duduk di pangkuanku dan memberikan tempat duduk sebelumnya pada Isabela.


"Tidak aku bisa berdiri."


"Tidak apa, duduk seperti ini cukup menyenangkan."


"Kalau begitu maaf."


Isabela duduk di sampingku selagi mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena kelelahan, aku yakin dia berlari kemari dengan terburu-buru.


"Kudengar kau juga pergi ke negara milik Kizuna, jadi aku tidak akan kalah darinya soal membangun."


Apa sudah terjadi persaingan diantara semua orang tanpa aku sadari? Aku bertanya-tanya hal itu namun aku tidak berani menanyakannya, lebih dari itu kurasa Isabela ingin mendapatkan ulasan dariku seolah aku seorang kritikus terkenal.


"Kota ini terlihat sangat maju dan nyaman untuk ditinggali."

__ADS_1


"Benar kan, ras iblis memiliki banyak pengetahuan tentang membangun.. kami membuat sistem irigasi untuk mengairi persawahan dan juga kami juga menyediakan tempat hiburan yang di dalamnya dikelola oleh Succubus... silahkan untuk mampir dan puaskan dirimu."


Ugh, iblis tak bisa dipandang remeh.


__ADS_2