
Pagi berikutnya di luar perkarangan aku dan Estelle melakukan sparing dalam pertarungan, menggunakan sarung pedang aku menangkis setiap serangannya yang melesat padaku.
"Perhatikan juga kakimu."
"Kyaa."
Aku menendangnya dan dia tersungkur jatuh.
"Pantatku sakit, Lion tidak ada ampun."
Lebih baik seperti ini daripada dia mati di tengah medan perang, aku memintanya bangkit kembali dan aku menusukan sarungku pada perutnya kemudian memukulkannya ke bahu hingga dia terduduk lemas.
"Kurasa hari ini sudah cukup."
Berkat pelatihanku ia memiliki tubuh yang kuat, ada metode di mana semakin sering kau dipukul maka kau akan sedikit lebih kebal karenanya dan itu terbukti sedikit berhasil.
"Sekarang giliranku," suara itu berasal dari Varlia, karena sejak kemarin dia terus mengikutiku akhirnya aku menyerah dan membiarkannya bergabung dengan kami, aku memberikannya informasi yang sama yang kuberikan pada Estelle hingga dia pun setuju dengan syarat membiarkan raja iblis dikalahkan oleh Estelle.
Sebelumnya dia sempat ditawari untuk bergabung dengan party pahlawan namun jelas dia menolaknya bagaimana pahlawan itu bersikap kurang ajar padanya.
Pahlawan itu bersikap seolah dunia untuknya, dia memanggil gadis-gadis di penjuru kerajaan untuk menghiburnya di atas ranjang, uang yang didapatkannya dia habiskan untuk berfoya-foya serta kekuasaannya lebih tinggi dari raja.
Dia adalah gambaran dari semua dosa pada manusia.
Varlia berguling-guling di tanah selagi mengelus pantatnya dengan wajah hampir menangis.
__ADS_1
"Curang sekali, kenapa kau terus mengincar pantatku yang sensitif."
Karena itu saja bagian yang lembut darinya, dan dengan begitu dia bisa berhenti untuk ikut campur dalam pelatihan Estelle.
"Ah, Lion mungkin mengangumi pantatmu."
"Bukan," aku jelas memprotes pernyataan Estelle sampai terdengar sebuah lonceng dari pusat kota.
"Apa itu?" tanyaku demikian.
Itu bukan seperti sebuah lonceng jam yang selalu memberitahukan waktu ketika mencapai pukul dua belas bukan.
Mamia muncul secara tergesa-gesa.
"Gawat, para Orc terlihat berjalan ke kota ini."
Lonceng yang kami dengar merupakan sebuah piringatan tentang sebuah penyerangan, saat kami tiba di luar kota ada beberapa petualang yang lebih dulu tiba dan mereka terdiam saat sekitar 2000 pasukan Orc berdiri dengan perlengkapan mereka, siap bertarung.
Aku bergumam.
"Besar kemungkinan Orc yang tempo hari dikalahkan Estelle hanya seorang mata-mata yang mencoba mengawasi kota ini, Orc yang sesungguhnya adalah ini."
Dipimpin salah satu Orc yang disebut Jenderal Orc mereka mulai berlari dengan teriakan peperangan.
"Apa yang harus kita lakukan?" perkataan itu dipukul oleh Varlia yang berjalan maju.
__ADS_1
"Kenapa kau menanyakan sesuatu yang pasti, sudah jelas kita akan bertarung untuk melindungi kota ini."
"Jumlah mereka sangat banyak."
"Berhentilah mengeluh, karena inilah aku menjadi petualang untuk menyelamatkan semua orang apapun yang terjadi."
Nilai keadilan yang dimiliki oleh Varlia sangatlah tinggi mengingat dia sebelumnya memang seorang kesatria kerajaan namun di luar itu dia juga seorang putri raja.
Ibunya telah meninggal dan ayahnya suka sakit-sakitan, dialah yang menggantikan peran penting di kerajaan ini.
Karena kerajaan dikuasai pahlawan jadilah dia berakhir seperti ini.
Varlia melanjutkan.
"Ada keluarga bahkan orang-orang yang kita kenal di kota ini yang menunggu untuk diselamatkan, angkat senjata kalian, gertakan gigi kalian lalu hentakkan kaki kalian dan berikan nyawa kita untuk melindungi hal berharga itu."
"Baik."
Dia sangat tegas dari yang terlihat.
"Serang."
Seratus orang melawan 5000 Orc sama dengan bunuh diri saja, meski begitu itu lebih baik dari menunggu kematian saja.
Aku melesat di antara mereka di bagian depan.
__ADS_1
"Kalian semua ikuti aku," teriakku demikian dan Varlia menegaskan hal itu.
Pasukan Orc tidak berperang secara asal-asalan, mereka menggunakan taktik serta pola yang sering digunakan manusia pada umumnya, satu hal yang bisa membuatnya mudah untuk dikalahkan adalah menghancurkan formasi mereka dengan cepat.