Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 449 : Sebuah Legenda


__ADS_3

Sore hari selepas latihan di tengah sungai yang airnya mengalir jernih aku mengumpulkan beberapa harmis dari dasarnya.


Harmis adalah nama siput dari dunia ini ukurannya tidak jauh berbeda dengan kerang pada umumnya hanya saja mereka memiliki cangkang hijau yang sulit ditemukan saat menyatu dengan lumut.


Aku telah mengumpulkan satu ember penuh sementara para gadis hanya berdiam diri di bawah pohon selagi menempelkan bongkahan es yang dibuat dari sihir Estelle.


"Nyaman sekali."


Mereka telah latihan keras jadi biarkan aku yang membuat makan malam untuk kami, menu daging sudah biasa kami santap, sekarang mari buat sesuatu yang jarang diolah banyak orang.


Aku memasukan setiap harmis ke dalam panci dengan air mendidih, agar rasanya enak aku memasukan beberapa rempah-rempah yang cukup familiar dari duniaku.


Aku mendapatkan beberapa kepiting juga, agar lebih mudah mengolahnya aku hanya memasukannya ke dalam panci, menggabungkannya dengan ikan kecil serta beberapa udang juga.


Ini benar-benar terlihat seperti makanan mewah yang sulit didapatkan di alam liar.


Aromanya menarik ketiganya untuk mendekat.


"Aromanya harum."


"Aku tidak sabar untuk mencobanya."


"Varlia air liurmu."


"Aku tidak bisa menahan diri."


"Aku membuatnya banyak jadi jangan sungkan untuk tambah."


"Baik "


Aku memberikan sup pada masing-masing orang, sebelum makanan ini habis mereka tidak akan pernah berhenti untuk tambah.


"Enak sekali, aku sangat kenyang."

__ADS_1


"Perut kalian kini sangat besar loh."


"Besok pagi akan kembali normal koq."


Metabolisme kalian sebenarnya seperti apa, ketika aku memikirkannya sebuah teriakan terdengar dari arah hutan, ini malam hari jadi aneh jika banyak penduduk desa berbondong-bondong turun ke hutan dengan obor di tangan mereka.


Menyadari keberadaan kami mereka berjalan mendekat.


"Maafkan aku kisanak, apa kisanak melihat ada anak kecil datang kemari?'


Kisanak itu maksudnya aku.


Aku hanya harus menjawabnya saja.


"Tidak, kami sudah berada di sini siang hari tapi tidak ada siapapun kecuali kalian yang datang kemari."


"Begitu."


"Apa terjadi sesuatu?"


"Kami seorang petualang kami akan membantu."


"Terima kasih banyak."


Aku dan Estelle mengambil jalan berbeda dengan yang lainnya, dengan hanya menggunakan obor di tangan kami mulai menyusuri semak-semak.


Estelle memiliki pemikiran buruk di dalam kepalanya.


"Mungkinkah anak-anak itu diculik Monster? Atau mungkin Lolicon, padahal mereka sangat muda untuk menerima hal seperti itu."


Aku benar-benar tak tahan mendengarnya.


Kami menemukan sebuah gua kecil yang cukup mencurigakan, ada jejak kaki kecil di sekitarnya yang mana membuatku harus memeriksanya.

__ADS_1


Setiap langkah demi langkah kami susuri, tidak berlebih jika mereka dimakan monster atau sebagainya tapi yang kulihat sekarang lima anak tersebut tampak sehat dan hanya duduk di pinggir api unggun.


"Kalian semua baik-baik saja?"


Entah kenapa mereka semua lalu berlari ke arah kami seolah sedang ketakutan.


"Kakak."


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu tapi ada seorang pria mencoba membunuh kami, teman-teman kami telah."


"Pria?"


"Dia pasti Monster?" potong Estelle yang tidak mendapat balasan.


Mereka terlalu ketakutan untuk menjelaskan karena itu mari temui yang lainnya lebih dulu, kami semua kembali ke tempat sebelumnya dan melihat Varlia dan Mamia tengah memasang wajah suram di dekat mayat yang hanya ditutupi kain.


Mereka mayat anak-anak.


Beberapa penduduk yang melihatku datang bersama anak-anaknya merangkul mereka dengan kuat.


"Ayah, ibu."


"Kalian, syukurlah."


Masih banyak anak yang tidak terselamatkan.


"Lion, sepertinya kau harus melihat ini," ucap Varlia.


Aku membuka kain tersebut dan melihat bahwa darah dari mayat itu telah dihisap sampai kering.


"Ini."

__ADS_1


"Di kerajaanku ada legenda dracula, dia adalah makhluk yang menghisap darah korbannya sampai kering, aku tak menyangka bahwa hal itu benar-benar ada."


__ADS_2