
Wilayah ini telah memasuki musim tanam.
Musim tanam adalah musim di mana seluruh hasil perkebunan penduduk mulai tumbuh, dan beberapa tunas telah muncul dengan baik.
Di musim ini para slime yang berada di hutan akan turun ke pemukiman untuk memakan hasil kebun para penduduk, karena itulah kami mengambil quest untuk melindunginya selama satu minggu.
Biasanya setelah selama itu mereka akan kembali ke hutan.
Tak perlu menggunakan pedang, kami bisa melukai mereka dengan sebatang kayu. Satu slime melompat ke arah Aira dan ia mengayunkan tongkat miliknya hingga slime itu meledak.
Cairan tubuhnya memuncrat ke arah pakaiannya yang mana melarutkannya seperti sebuah zat asam.
"Kyaaa... pakaianku."
Diam-diam aku mengacungkan jempol selagi bergumam.
Slime.
Good job.
Rion juga melakukan hal sama namun dia sedikit lebih gesit untuk menghindarinya, Valentine berkata ke arahnya setelah menghabisi slime dengan payung sakti miliknya.
"Rion di tanganmu ada lendir."
"Bukan masalah, aku sudah biasa.... Lion juga sering menghasilkan hal serupa."
Apa yang ingin kau coba katakan Dewi?
Valentine diam memikirkannya.
"Hentikan Valentine lupakan apa yang dia katakan? Nanti kepalamu botak."
Sementara Harty melahap para slime dengan wujud naganya, aku mengalihkan pandangan ke arah para petualang wanita yang mengambil quest yang sama.
__ADS_1
Armor bahkan pakaian mereka juga telah rusak parah.
Aku kembali mengangkat jempolku.
Slime.
Good job.
Dua Slime melompat ke arahku dan aku menghindarinya dengan mudah sebelum menebas keduanya.
Setelah cukup lama berkemelut dengan slime akhirnya kami bisa beristirahat saat petang tiba, slime memiliki waktu malam juga sepertinya.
Aku telah membuat beberapa tenda termasuk membuatkan satu untuk para petualang yang tidak kuketahui namanya, benar. Mereka adalah kelompok wanita yang telah kehilangan armor mereka.
Karena mereka sudah tahu apa yang mereka lawan mereka telah lebih dulu membawa baju ganti.
Satu slime mudah di tangani namun jika lebih dari 10 itu benar-benar sangat sulit walaupun mereka tidak memberikan damage berarti.
Kami duduk secara melingkar di depan api unggun sementara aku telah mengaduk sup untuk kami semua dan membagikannya secara merata.
"Terima kasih, walau level satu Lion pandai memasak."
"Yah, itu sama sekali tidak berpengaruh," kataku lemas.
Kami menghabiskan malam dengan mengobrol bersama seperti rekan pada umumnya, kehidupan petualang memang harusnya seperti ini, Ini baru dunia fantasi yang kuimpikan.
"Lion tolong lakukan dengan lembut."
"Ah iya."
"Haa... haaa..haaa.....Mnnn."
"Apa itu? Aku mendengar suara aneh barusan ketua?"
__ADS_1
"Anggap saja kau tidak mendengarnya."
"Apa itu suara monster?"
"Monster mesum lebih tepatnya."
"Jenis baru kah?"
"Tidur saja."
Pagi berikutnya kami kembali mengalahkan beberapa slime dengan bantuan petualang lain, sekitar 50 slime telah dihabisi dengan mudah.
Saat kita memukulnya slime itu akan meledak jadi agar memudahkan kami, aku membuat sebuah alat yang disebut ketapel di mana amunisinya merupakan sebuah kerikil.
Hanya menarik tali yang terbuat dari karet maka batu kerikil akan terlempar dan menghancurkan tubuh mereka dari jauh.
"Luar biasa, alat ini sangat hebat."
"Aku juga berfikiran sama."
Padahal bagiku itu hal biasa.
Selama seminggu kami melakukan hal demikian sampai akhirnya kembali ke guild untuk melaporkan keberhasilan quest kami.
Saat mereka menjelaskan soal ketapel orang-orang mengerumuniku khususnya para wanita yang kebetulan berada di ranking paling bawah atau bisa dibilang para pemula.
"Tolong jual benda itu pada kami juga, aku mohon."
"Selama ini kami kesulitan untuk mencari quest paling mudah tapi dengan ketapel ini kami bisa melakukanya tanpa perlu khawatir."
Ada quest membunuh para slime jadi kurasa mereka ingin mengambilnya.
"Aku mengerti, aku akan membuatnya."
__ADS_1
"Terima kasih banyak."
Karena tidak ada yang berburu slime jumlah mereka terlalu banyak di alam liar, dengan ini kurasa habitat mereka akan terkendali.