
Itu adalah sebuah kota besar yang seluruh pemandangannya dipenuhi kanal-kanal luas. Di sekeliling kota gunung-gunung batu mengelilinginya dan dari sana sebuah air terjun mengalir indah dan berakhir di tengah kota.
Seperti namanya ini adalah kota Air Terjun Ester, jika diperhatikan sekilas nama Ester tidak jauh berbeda dengan Estelle.
Itu karena namanya memang diambil dari kota ini, dengan kata lain, ini adalah kampung halaman ibunya.
Kami datang untuk melindungi kota ini namun berada di sini sebagai turis bukanlah sesuatu yang salah, seorang kurcaci wanita dengan gaun biru dan topi bundar berdiri di depan kami, ia memiliki kulit putih sedikit pucat dengan ransel melekat di punggungnya.
"Salam wahai turis, namaku Nunu, aku seorang pemandu.... kalian hanya perlu membayarku 5 koin emas maka aku akan memberikan tur yang menyenangkan."
Kami sepakat untuk mempekerjakannya seharian ini.
"Kalau begitu mari ikuti aku, akan kuperlihatkan keindahan dari kota ini," katanya selagi tersenyum sebelum membentangkan peta lalu membagikannya pada masing-masing kami.
Aku cukup menyukainya di mana model di halaman depannya adalah wanita cantik seksi dengan ekor ikan serta telinga sirip.
"Apa ini putri duyung?"
"Tidak, yang di sana berasal dari ras Siren, putri duyung itu botak dan mereka memilih kulit licin mirip menyerupai singa laut atau semacamnya."
"Apa kau sedang membicarakan soal makhluk bernama Dugong."
__ADS_1
"Dugong?"
Anggota partyku juga tampak kebingungan dengan istilah asing dariku.
"Lupakan saja apa yang kukatakan, jadi siapa dia."
"Ia adalah ikon di kota ini, setiap sore hari ia akan muncul di air terjun di sana dan menghibur para turis yang datang."
Senang mendengarnya. Jelas mereka sengaja memunculkan pada sore hari agar orang-orang tetap berada di kota ini untuk menghabiskan uang mereka.
Aku tidak membenci ide itu.
"Pokoknya ikuti aku, kita akan memakai perahuku untuk menyusuri pelosok kota, jika kalian ingin singgah jangan sungkan untuk mengatakannya."
orang-orang sepertinya juga turut membimbing pendatang yang lain.
Mereka juga sepakat untuk tetap menghargai apapun dengan angka 5.
Mengunakan perahu yang sederhana kami mulai menyusuri luasnya kanal, Nunu tidak sendiri, yang menggerakkan perahu ini adalah seorang pria besar dengan tongkat panjang.
Dia mungkin rekannya.
__ADS_1
Semua pemandangan ini sangat kental dengan gaya Eropa yang sering kulihat di televisi atau internet.
Varlia menyentuhkan ujung tangannya di permukaan air.
"Dingin sekali."
Dan Nunu mulai menjelaskan.
"Air di kota ini sebenarnya bukan tercipta secara alami, semua air ini dibuat dari batu sihir raksasa yang berada di dalam gunung-gunung sekeliling kota, semua ini murni dibuat oleh manusia dalam jangka waktu lama hingga menjadi kota sebesar ini."
"Jadi begitu, lalu kemanakah semua air ini pergi?" tanya Mamia.
"Air sudah memiliki sifat untuk pergi ke daratan yang lebih rendah, kami hanya mengalirkannya ke sungai-sungai yang kemudian pergi ke laut."
Air dalam jumlah sebanyak ini sangatlah luar biasa, batu sihir yang mereka gunakan jelas sama seperti item dewa atau sebagainya.
Jika kota ini sampai dihancurkan begitu saja oleh pasukan raja iblis itu akan menjadi pemandangan yang tidak ingin dibayangkan semua orang.
"Apa di dalam sungai ini ada ikannya?" giliran Estelle yang bertanya, dan Nunu mengangguk mantap.
"Jika kalian menjatuhkan makanan ke dalam kanal akan ada ikan yang muncul untuk memakannya, kalian bisa mencobanya hanya saja saya menyarankan untuk menggunakan makanan baik agar menjaga keberlangsungan ikan di dalam sini, ngomong-ngomong harganya 5 koin perak."
__ADS_1
Dia malah berubah menjadi pedagang.
Tak ada salahnya untuk membeli beberapa kantong.