
Di jalanan utama kota beberapa penjaga tampak disibukan dengan peperangan yang telah terjadi kemarin, di sebuah pagar kayu aku bisa melihat poster diriku di panjang dengan baik.
"Penculik calon selir raja, jika mendapatkannya akan diberikan 100 koin emas."
Rion di sampingku tertawa.
"Kau jadi daftar buronan kelas atas, terlebih namamu si penculik selir."
"Aku tidak bisa mengeluh soal itu, mari pergi."
"Iya."
Kami masih di ibukota negeri api tapi hari ini kami memutuskan untuk pergi ke negeri kayu yang menjadi tempat berikutnya yang menyegel kekuatan Rion.
Aku dan Rion mengenakan seragam alamater akademi Harfia agar tidak dicurigai.
"Lion kau belum memuji pakaianku bagaimana menurutmu."
"Seperti biasa Rion sangat cantik."
"Fufu benarkah."
Dia terlihat sangat senang dengan itu.
Di ibukota negeri kayu ada sebuah akademi terkenal dan kami ke sana untuk berkunjung sebagai siswa dari negeri api, kudengar dalam waktu dekat mereka akan mengadakan pertandingan akademi sebenua karena itu kami ditugaskan menjadi siswa perwakilan.
Selain menyelinap kami memiliki penyamaran yang sempurna.
Di luar kota itu aku mengarahkan tanganku dan berkata.
"Teleportasi Gate."
Sebuah gerbang hitam muncul dengan sempurna.
"Ibukota negeri kayu."
Ketika aku mengatakannya gerbang akan secara otomatis terbuka dan saat kami masuk dalam sekejap kami telah sampai di negara yang dimaksud.
"Uwaaah... lihat Lion, di sana, mereka punya patungku dengan kayu... bukannya itu hebat, mereka juga membuat dadaku lebih besar dari ukuran aslinya."
"Itu yang kau katakan saat melihatnya, tapi kenapa mereka rela-rela membuat patung dewi jahat.
"Apa maksudmu? Sebelum aku diusir dari alam Dewi aku bukanlah dewi jahat, aku dewi pada umumnya."
__ADS_1
"Begitukah."
"Um, kurasa mereka memilih tetap mengikutiku dibanding pindah ke dewi suci.. aku sangat terharu."
"Ingusmu, jangan mengelapnya dengan seragamku."
"Aku terbawa suasana."
Perbedaan patung Dewi Riona dan aslinya hanyalah terletak pada telinganya, saat ini Rion memiliki telinga runcing elf jadi kupikir tidak ada yang tahu tentangnya.
"Diriku sangat cantik."
"Berhentilah memuji dirimu sendiri."
Pengaruh dewi jahat tidak sampai ke negara ini jadi mereka tidak tahu bahwa dewi yang mereka sembah sebelumnya ikut ambil bagian dalam menghancurkan dunia.
Melihat ini hanya memotivasiku agar Riona bisa kembali ke alam dewi.
"Lupakan saja Lion, aku tidak senang jika aku kembali."
"Ah kau membaca pikiranku."
"Tentu saja, jika kau terus memikirkan hal seperti itu aku akan sedih."
Rion mencium pipiku.
"Ini hukuman untukmu lain kali jangan mengulanginya lagi, mari bergegas."
"Aku mengerti."
Setiap bangunan di sini dibuat dari pohon khususnya bagian istana yang berada di ujung kota. Tapi tujuan kami tidak ke sana melainkan akademi yang berada di sampingnya.
Salah satu pelayan yang sedang menyapu halaman bertanya ke arah kami berdua.
"Apa yang bisa aku bantu untuk kalian berdua?"
"Kami dari akademi Harfia datang kemari untuk menemui kepala sekolah akademi Dahlia."
"Ah, kalau begitu silahkan ikuti saya."
Kami memasuki akademi lalu naik ke ruangan paling atas, para murid di sini sedang belajar di dalam kelas jadi sepanjang jalan kami semuanya terasa sepi.
Si pelayan mengetuk pintu dan kami diperbolehkan masuk di mana yang menyambut kami seorang pria paruh baya dengan tongkat.
__ADS_1
"Akademi Harfia kah, apa yang bisa aku bantu untuk kalian?"
"Kami datang untuk latih tanding dengan murid di sini, ini suratnya."
Aku mengambil kertas dalam sihir penyimpananku lalu memberikannya padanya.
"Kalian diminta oleh nenek muda itu, baiklah kalian bisa bertarung melawan siswa terbaik kami tapi kalian yakin hanya berdua saja."
"Rion tidak ikut, aku sendiri."
"Nenek itu meremehkan kami, aku ingin lihat bagaimana kau bertarung."
"Tapi sebelum itu aku punya persyaratan. Jika aku menang bisakah anda memberikan bola yang ada di tongkatmu itu."
"Bola ini memang tidak membuat siapapun menjadi kuat akan tetapi aku sudah menyukainya saat aku mengambilnya di sebuah dungeon... jika kau ingin membuat taruhan sebaiknya kau juga menyiapkan sesuatu yang setara."
Aku mengeluarkan buku dari sihir penyimpananku, buku ini adalah buku yang diambil dari perpustakaan di akademi Harfia.
"Buku itu?"
"Di dalamnya terdapat sihir luar biasa yang hanya bisa didapatkan di negeri api, aku akan bertaruh dengan ini."
"Sepakat."
Aku mengembalikan bukunya lalu mengikuti kepala sekolah menuju ruangan latihan.
Setelah menunggu beberapa saat lima murid yang dikatakan paling kuat muncul di hadapanku.
Akademi melatih siswa-siswinya untuk menjadi pelayan jadi tidak aneh bahwa seluruh orangnya mengenakan pakaian pelayan.
"Apa keluarga kerajaan juga menjadi pelayan di sini?"
"Tidak, keluarga kerajaan maupun bangsawan lainnya memiliki akademi yang berbeda."
"Jadi begitu, negara kayu ini juga memiliki Hirarki."
"Begitulah... para keluarga menengah ke bawah masih diperbolehkan mengambil sekolah hanya saja mereka hanya bisa jadi pelayan dan para perempuan di sini biasanya hanya akan berakhir menjadi istri muda di rumah-rumah para bangsawan."
"Ini pasti salah dewi jahat."
Rion mencekik leherku dari belakang.
"Abaikan perkataannya, sekarang bertarunglah agar semuanya cepat selesai."
__ADS_1
"Ah, ya."