
Armor besi yang kukenakan hancur berserakan dan beberapa luka bisa kurasakan di tubuhku, singkatnya aku kesulitan untuk bergerak dari sini.
Raksasa seperti ini sangat mengerikan, pantas saja benua iblis bisa diratakan dan dihancurkan dengan mudah.
Apa yang sebaiknya aku lakukan?
Ketika aku memikirkannya sebuah lingkaran sihir api muncul di bawah kaki raksasa tersebut, aku melihat bahwa orang yang telah melakukannya adalah wanita pahlawan yang selamat dari ledakan.
"Aku tidak akan memaafkanmu, rasakan ini... HAAAAAAAA.."
Dalam sekejap tubuh raksasa itu terpanggang oleh sihir luar biasa, membalutnya dengan kerusakan luar biasa sampai akhirnya roboh ke depan.
Orang-orang yang melihatnya tampak berteriak senang namun tanpa mereka ketahui, sihir barusan..
Rion melompat dengan indah ke dekat wanita tersebut dan berkata saat tubuhku kembali sedia kala.
"Dia sudah meninggal."
Dia membakar jiwanya untuk menghasilkan sihir, kurasa dia memang benar-benar seorang pahlawan. Tanpa menunggu lama-lama lagi aku maupun Rion masuk ke dalam menara Aira.
Menara ini semuanya berwarna putih dan juga memiliki arsitektur yang luas, kami juga harus menaiki tangga berbentuk spiral yang rasanya sulit untuk didaki.
"Menara ini akan terus berubah setiap harinya, terkadang walau tidak terlihat dari luar itu bisa menjadi sangat jauh atau pendek, luas atau sempit bahkan terkadang tidak ada tangga."
"Semacam berada di dimensi lain?"
"Benar, jadi jika seseorang menghancurkan menara ini, maka seluruh tempat ini akan terlempar ke ruang hampa dan terjebak di dalamnya... ini hanya mekanisme dari pertahanan dewi."
__ADS_1
"Tapi kenapa kita bisa dengan mudah memasukinya?"
"Itu karena kita mendapatkan izin dari Aira, sama seperti sebuah rumah jika kita tidak menerima izin pemilik rumah maka kita tidak bisa masuk."
"Aku bisa mengerti."
Kami membuka sebuah ruang kamar di mana di dalamnya diisi ranjang dan seorang wanita yang duduk di atasnya.
Jika berbicara penampilannya dia dewi jadi tidak aneh dia cantik juga, ia memiliki rambut panjang abu-abu dengan hiasan sayap angsa di kiri kanannya.
Sementara gaunnya tampak terlihat sederhana tapi masih terlihat cocok untuknya, dia berkata dengan tersipu malu.
"Terima kasih sudah mau datang untuk menyelamatkan aku, walau ini pertama kalinya kita bertemu aku akan berusaha."
Aku berbisik ke dekat Rion.
"Apa yang dia katakan?"
"Mungkinkah?"
"Benar, kau harus menidurinya... jangan khawatir kita sering melakukannya jadi aku sudah mengajarimu banyak hal tentang itu."
Wajahku memucat.
"Anu, apa kita masih belum mulai?"
"Hentikan dewi Aira, tolong jangan lepas pakaianmu," teriakku.
__ADS_1
"Eh? Apa kau menolakku."
"Bukan begitu.."
Rion berjalan di depan Aira.
"Tak kusangka kau bisa berkata itu Aira padahal di alam dewi banyak para dewa yang melamarmu tapi kau menolak mereka semua tapi sekarang.... apa kau yakin ingin menerima manusia sebagai suamimu?"
"Kenapa tidak, sepertinya Riona juga sudah menikah dengannya," balasnya mengembungkan pipi.
"Itu memang benar, tapi Lion hanya melakukan itu saat menikah... sayang sekali bahkan aku setiap hari menggodanya tapi dia baru melakukan itu saat kami menikah."
"Kalau begitu aku tidak bisa keluar dari sini?"
"Kurasa tidak juga."
Keduanya melirikku ke arahku yang masih kebingungan.
"Sebelumnya Rion bilang bahwa melakukan itu adalah cara termudah maka aku berfikir bahwa ada cara sulit juga untuk bisa mengeluarkan Dewi Aira."
"Lion memang memiliki pikiran tajam, cara sulitnya adalah menantang ujian yang dibuat oleh dewa.. tapi entah itu merebut keperawanan Dewi Aira atau menantang ujian, pada akhirnya kau juga harus menikahi Aira... bagaimana pun saat dia keluar dari sini, ia sudah tidak bisa naik ke alam dewi lagi.. apa kau mau melakukannya Lion?"
Sepertinya Rion sudah mengetahui kesulitan yang dialami dewi Aira. Dia sedikit mendorongku untuk menikahinya.
"Tentu saja, aku sudah berjanji pada Ryker jadi akan kulakukan lagipula mungkin dewi Aira sudah menderita terlalu lama di sini."
"Terima kasih banyak, tapi tolong panggil aku Aira saja."
__ADS_1
"Baiklah."
"Kalian berdua kenapa malu-malu seperti itu?" tanya Rion tanpa mendapatkan jawaban apapun.