
Setiap orang yang terbaring aku sembuhkan dengan sihir air, jika mereka dikutuk aku bisa menggunakan sihir suci namun sepertinya sihir air sudah lebih dari cukup.
Perlahan rasa sakit dari mereka mulai dihilangkan dan tubuh keunguan yang timbul dari racun sedikit demi sedikit kembali sedia kala.
Aku terduduk di lantai setelah aku yakin bahwa semuanya telah sembuh.
Para penduduk mengucapkan banyak terima kasih dan aku hanya mengangkat tanganku dengan ringan sebagai balasan.
Monster kaki seribu akan kembali, sampai saat itu aku harus beristirahat malam hari ini dan mencoba mencarinya esok pagi.
Kepala desa memberikan kami ruangan luas untuk bisa kami pakai berempat, putri mungkin tidak terlihat nyaman jika harus tidur dengan alas seadanya jadi aku menciptakan sebuah ranjang yang bisa mereka pakai bertiga.
"Kau benar-benar misterius Lion?"
"Aku hanya orang biasa," balasku pada Laurenta sebelum membaringkan tubuhku di atas futon, ada anak kecil di sini jadi aku harus memisahkan diri dengan Rion maupun Aira untuk mencegah hal yang diinginkan terjadi.
Tepat pagi itu seorang mengetuk pintuku.
"Tuan Lion?"
"Ada apa?"
"Makhluk itu datang kembali, kami berusaha mencegahnya masuk ke desa sekarang."
Dia malah muncul sendiri.
Akan berbahaya jika mereka berhadapan secara langsung jadi aku memutuskan bergegas pergi setelah mengambil pedangku.
__ADS_1
Di luar sana aku melihat makhluk kaki seribu setinggi 20 meter telah menyerang penduduk, salah satunya hendak dimakan dan aku tepat waktu untuk menyelamatkannya.
"Kalian semua cepat mundur."
"Ba-baik."
Mengikuti arahanku mereka telah bergerak seperti apa yang kukatakan, kaki seribu menyemburkan cairan beracun padaku dan aku menahannya dengan baik menggunakan sihir tanah kemudian berguling ke samping lalu melesat maju dengan membawa pedang di tangan.
Kaki seribu tidak membiarkanku untuk bergerak secara leluasa, dia berusaha mengenaiku dengan mulutnya yang berjeruji.
Setelah menahannya dengan pedang aku mendorongnya ke belakang lalu memberikan sihir api untuk membutakan penglihatannya.
Ketika dia meraung kesakitan aku melompat ke atas, menusuknya tepat di kepala hingga tubuh monster itu tumbang dalam sekejap.
Bisa aku pastikan bahwa dia benar-benar telah mati, teriakan kegembiraan penduduk pecah hingga pada akhirnya sebuah perayaan di adakan. Tubuh kaki seribu dibakar sebagai api unggun dan para penduduk menari-nari di sekelilingnya.
"Buka mulutmu Lion."
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Sudahlah."
"Ah iya."
Rasanya malu saat semua orang menatapku selagi tersenyum aneh.
Putri Laurenta tampak mengembungkan pipinya.
__ADS_1
"Bukannya kalian tidak seperti anggota party pada umumnya, kalian berdua terlalu dekat."
Aku lupa mengatakannya mereka pasti salah paham sampai sekarang, aku meletakkan tanganku di kepala Rion dan Aira untuk mengelusnya dengan lembut.
"Maaf karena belum mengatakannya, tapi Rion dan Aira itu istriku."
Mendengar itu semua orang berteriak terkejut. Beberapa mengutarakan komentarnya.
"Aku satu juga tidak punya tapi tuan Lion punya dua."
"Ini tidak adil."
Sebenarnya aku memiliki banyak istri yang menunggu untuk dinikahi juga, kebetulan saja aku sudah menikah dengan Rion, Rosvalia dan Aira lebih cepat dari yang lainnya.
"Aku sangat penasaran dengan wajah Tuan Lion."
"Dia sangat tampan," potong Laurenta hingga pada akhirnya penduduk desa mengejarku demi melepaskan topengku.
Mereka bahkan tampak antusias dengan mata bersinar mereka. Jika aku berada lebih lama lagi mereka pasti akan berusaha menyelinap ke dalam kamarku hanya untuk memastikan wajahku.
"Walau tidak seberapa tolong terima ini sebagai ucapan terima kasih."
"Ini sangat membantu, kalau begitu kami permisi."
"Kalau ada kesempatan tolong mampir lagi kemari, tuan Lion dan rekannya akan selalu diterima baik di sini."
Aku melambaikan tangan ke arah mereka sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Semua penduduk ini memberikan banyak sayuran, aku ragu bahwa anggota partyku akan memakannya.
__ADS_1