
Di depan hutan Ricol mengambil tiga lembar daun ke tangannya, ia menggunakan sedikit sihir dan ketiga daun itu berubah menjadi gerobak yang bisa dinaikin satu orang.
"Naiklah, dari sini kita tidak perlu berjalan.... apa ada sesuatu?"
"Kau bisa membuat apapun dengan sihir, apa kau bisa membuat ini juga?"
Aku menggambar sebuah sepeda di atas tanah dengan ranting dan dengan mudahnya Ricol menirunya serta menjadikannya nyata lewat sebuah daun.
"Memangnya benda apa itu?" tanya Ricol penasaran.
"Akan kutunjukan caranya."
Aku menaikinya lalu mengayuhnya dengan mudah berkelok-kelok diantara pepohonan.
"Hoh, menarik sekali... ini pertama kalinya aku melihatnya."
"Melihat apa?"
Aku membiarkan Atlas untuk merabanya dan dia tersenyum kecil.
"Heh, benda apa ini?"
"Jika kau mengayuh pedalnya maka kau akan berjalan dengan cepat."
"Aku akan mencobanya."
"Tunggu, kau perlu latihan."
"Jangan khawatir aku pasti langsung bisa melakukannya hanya sekali lihat."
Baru saja dia mengayuh beberapa kali Nicol menabrak pohon, sementara sepeda tersebut berubah menjadi daun Ricol terjatuh terbalik dengan kepala di bawah.
"Hehe ternyata sulit juga."
__ADS_1
"Rokmu, rokmu."
"Cuma rok, aku wanita dewasa yang tidak malu meski dilihat oleh seorang pria."
"Kenapa kau bangga dengan hal itu."
Aku membantunya berdiri.
"Jika membentuk benda seperti barusan berapa lama bisa bertahan?"
"Sekitar satu jam tapi jika mengalami benturan keras akan langsung kembali berubah."
Bagiku itu sihir yang praktis.
Kami menaiki gerobak dan gerobak itu mulai bergerak sendiri melintasi beberapa pepohonan besar, bukit dan akhirnya menembus sebuah semak-semak hingga sampai di depan desa sederhana yang semuanya dihuni oleh setengah rubah dan setengah manusia.
Beberapa wanita tampak sedang menimba air untuk cucian mereka sementara para pria tampak sedang bertani. Apa yang digambarkan dari suasana ini adalah sebuah kedamaian.
"Ah, Ricol... bagaimana pekerjaanmu?'
"Seperti biasanya tidak ada yang berubah."
Yang menjadi lawan bicara Ricol adalah pria besar bertelanjang dada yang gemar menunjukan otot di tubuhnya.
"Begitu, lalu siapa yang ada di sampingmu... pria bertopeng mencurigakan dan juga ugh."
Dia bereaksi terlalu berlebihan pada Atlas seolah baru menyadari sesuatu, saat kusadari semua orang telah bersujud padanya.
"Nona sudah kembali ke desa."
"Nona? Apa itu maksudnya aku tuan Lion?"
"Sepertinya begitu."
__ADS_1
"Hey Ricol, apa yang kau lakukan cepat bersujud beliau adalah ratu kita."
"Ra-ratu?"
Walau terlambat dia juga melakukan hal sama seperti apa yang semua orang lakukan.
"Kalian bangunlah, aku bukan ratu. Aku hanya gadis biasa."
"Itu tidak benar, ekor sembilan itu adalah buktinya.... ekor tersebut hanya dimiliki oleh turunan ratu kami yang merupakan garis keturunan dewi."
"Tolong bangun," Atlas semakin tidak nyaman dengan apa yang diterimanya sekarang.
"Jika ratu bilang begitu."
Aku memotong saat mereka bangun kembali.
"Maksudmu ibu Atlas seorang dewi?"
"Bukan, tapi nenek moyangnya. Kami berada di desa berbeda dengan kelahiran Nona Atlas tapi kami tidak akan salah mengenalnya. Pertemuan ini memang sudah ditakdirkan."
"Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanyaku.
"Benar juga, aku Dondon kepala desa yang memimpin semua orang di sini semenjak meninggalkan kekaisaran, aku sangat terharu."
Terharu sih tidak masalah tapi jangan berpose otot juga kali.
"Tidak sopan mengobrol di sini mari ikuti aku ke tempat yang lebih nyaman."
"Apa kau selalu berpose saat selesai berbicara?"
"Itu memang ciri khasku haha."
Muncul lagi orang aneh.
__ADS_1