
Salah satu pria memperkenalkan dirinya dengan nama Ernos sementara sang gadis memperkenalkan diri sebagai Erna.
Mereka berdua saudara kembar dengan haori dan hakama bermotif sakura.
Ernos berkata.
"Apa tak masalah jika kami bertarung bersama?"
"Aku tidak keberatan tapi kau yakin hanya menggunakan perisai."
"Jangan khawatir, aku tahu senjata apa yang cocok denganku," kata si pria santai.
Untuk Erna dia pengguna tombak.
Tombak dan perisai mengisyaratkan bahwa mereka memiliki pertahanan kuat dan serangan hebat, sepertinya akan jauh lebih menarik.
"Wisteria, pinjamkan pedangmu."
"Baiklah... tolong hati-hati menggunakannya."
Wisteria melemparkan pedang tersebut dan aku menangkapnya di tangan kiriku.
"Dua orang, dua pedang cukup adil bukan."
"Kalau begitu kami mulai."
Aku mengangguk saat keduanya melesat ke arahku kemudian berlari ke arah berbeda.
Mereka cepat.
Ernos mengayunkan perisainya yang mana kutahan dengan baik oleh pedang Wisteria. Sementara itu Erna sudah siap dengan tombaknya yang sama-sama kutahan dengan pedang.
"Mustahil, serangan kita ditahan kakak."
"Orang ini pasti monster."
"Kalian terlalu berlebihan."
__ADS_1
Aku menghempaskan keduanya ke belakang, pertama akan kuhadapi sang adik.
Aku mengayunkan kedua pedangku maju memaksa Erna dalam posisi bertahan selagi kakinya hampir kehilangan keseimbangannya. Tepat ketika ada celah aku menendang perutnya hingga dia terlempar menabrak dinding di belakangnya.
Ernos muncul di belakangku dengan wujud perisai yang berbeda, kini bentuknya menyerupai kepala iblis, ketika mulutnya terbuka itu mengeluarkan rantai yang mengikatku dengan sempurna.
Prang.
Aku dengan mudah menghancurkannya lalu berputar selagi mengirim tendangan saat dia masih di udara, tubuhnya terlempar menuju ke arah Erna hingga keduanya saling bertubrukan.
"Kerja sama kalian hanya saling mengalihkan lawan satu sama lain, cobalah untuk bertarung bersama saat melawanku."
"Baik."
Tak kusangka mereka menurut.
"Ayo Erna."
"Baik kak."
Ketika mereka kelelahan aku masih berdiri tanpa kehilangan nafas.
"Kalian mau menyerah."
"Tidak, kami akan terus berjuang... kami tidak akan kalah," balas Erna.
Sementara sebagian penonton mencibir mereka sebagai seorang tak tahu malu, padahal merekalah yang berada di posisi itu.
"Kenapa kalian masih bertarung apa kalian sebegitunya ingin jadi pasukan elit?" tanyaku demikian.
"Kami ingin menjadi kuat, sebelumnya desa kami diserang oleh para bandit dan untuk membalaskan dendam semua orang kami harus bergabung dengan Kekaisaran," balas Ernos sehingga aku melirik ke arah Wisteria yang panik selagi mengibas-ngibaskan tangannya.
Dia sepertinya tidak tahu apapun, sepertinya ada orang-orang yang memanfaatkan kekacauan di negara ini dengan membuat kejahatan saat para pasukan disibukkan dengan pemberontakan.
Aku melanjutkan.
"Jadi kalian ingin bergabung untuk menjadi pembunuh."
__ADS_1
"Bukan, kami hanya ingin menangkap mereka dan mengadili mereka semestinya," potong Erna.
Dalam perkataannya tidak ada kebohongan.
Aku menyelimuti diriku dengan kegelapan hingga semua orang kecuali Wisteria terduduk di tanah dengan keringat membasahi wajah mereka.
Ini hanya menggunakan energi sihir sebagai sebuah tekanan intimidasi, karena selama ini lawanku sangatlah kuat mereka tidak terpengaruh dengan cara ini namun untuk mereka adalah sesuatu yang mudah.
"Kakiku gemetaran... apa ini kekuatan iblis tingkat atas?"
"Aa.. semua pasukan elit pasti monster."
Semua penonton melirik ke arah Wisteria yang memiringkan kepala kebingungan.
"Apa yang terjadi, kenapa kalian terduduk lemas?"
Mereka semua pasti mengira bahwa itu sebuah ejekan.
"Jadi apa kalian mau menyerah setelah melihat perbedaan kekuatan kalian."
Keduanya mengatupkan gigi mereka lalu berusaha mati-matian untuk berdiri.
"Kami tidak akan menyerah, kami akan melindungi mereka yang lemah dan membuat perdamaian tetap terjadi di negara ini."
"Aku juga."
"Kalau begitu."
Aku mengangkat pedangku.
"Oi, oi... Lion, kau berlebihan."
Saat semua orang berfikir aku akan menebas mereka, tekanan dariku menghilang.
"Dengan ini kalian berdua lulus dan akan dipromosikan ke pasukan elit."
Wisteria tampak menghela nafas lega sementara kedua kakak beradik itu terduduk lemas dengan perasaan senang.
__ADS_1