Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 515 : Akhir Pertarungan


__ADS_3

Bahkan jika kau memiliki nyawa ribuan melawan orang sepertinya sangat mustahil, kakiku tiba-tiba saja membeku kemudian hancur hingga kehilangan keseimbangan, sebelum aku tahu kepalaku sudah terpenggal.


Sial, bagaimana cara mengalahkan iblis seperti ini. Ini berbeda dari lingkaran Algoritma milik Venus, salju ini akan terus aktif selamanya.


Sementara tubuhku mencoba untuk kembali sedia kala, Nightmare menyerang sendiri, dia memberikan tebasan yang mampu sedikit memberikan luka di wajah musuhnya.


Pedangnya terlempar jauh sementara wajahnya di cengkeraman oleh Asteroid sebelum dilemparkan ke tanah hingga kepalanya berputar dan tewas.


Iblis ini benar-benar kuat.


Di saat aku mencoba mencari akal, Amnesty, Harfilia, Aira, Ringbel dan juga Venus menyergapnya dari segala arah.


Dalam waktu singkat mereka semua terpotong-potong hingga hujan darah menggenang di permukaan lantai. Aku yang melihatnya hanya bisa terdiam dengan wajah pucat.


Mereka tidak mati hanya saja melihatnya itu benar-benar mengerikan.


Aku melirik ke arah Nightmare dan di sana ada Clarisa yang mencoba membantunya.


"Guru, kenapa kau ada di sini?"


"Dasar murid bodoh, tentu saja aku mencoba membantumu juga, yah kurasa aku hanya bisa melihat dari kejauhan."


"Terima kasih untuk semuanya guru."


"Kenapa kau mendadak mengatakannya."

__ADS_1


"Bukan apa-apa, tolong mundurlah biar kami yang melawannya sekarang."


"Um... Lion."


"Jangan khawatir meski harus mati ribuan kali, makhluk ini harus dibunuh."


"Kalian benar-benar keras kepala, jika membunuh kalian sulit aku hanya harus membekukan kalian," balas Asteroid.


Amnesty berteriak.


"Pokoknya serang terus, kecuali Nightmare kita bisa saling membunuh jika terkurung esnya."


Kami mengangguk mengiyakan sebelum menerobos maju. Venus menggunakan pedang cahaya di tangannya sementara itu Ringbel menggunakan bel di tongkatnya. Aku yakin keduanya menggunakan buah Yggdrasil untuk menggunakan kekuatan mereka sementara waktu.


Harfilia mengirim pukulan bersama Aira, kami benar-benar bertarung seperti orang gila menyerang sedemikian rupa tanpa henti.


"Kalian benar-benar menjengkelkan."


Dia menutup matanya aku menarik kerah pakaian Amnesty.


"Lion."


"Serang dia."


Aku melemparkannya ke atas hingga hanya kami yang terbunuh dengan tatapannya, di saat kami hendak bangkit Amnesty menembakan peluru yang dari atas dan itu mengenai mata Asteroid.

__ADS_1


"Gaaaakh."


"Kau bersenang-senang saat membunuh kami, sekarang bagaimana jika kau yang mati."


"Sialan."


Amnesty menendang tubuh Asteroid dan menembakan peluru untuk melukai satu matanya lagi. Di saat yang sama aku telah menerobos maju menggunakan pedangku lalu aku memenggal kepala Asteroid.


Bayangan hitam yang kini kulihat sebelumnya hendak masuk ke dalam buku namun Amnesty segera menangkap bukunya.


"Kau?"


"Dengan ini, inilah akhirnya."


Venus melemparkan sebuah pisau pada Amnesty yang mana dia tusukan berkali-kali pada buku tersebut, bayangan itu berteriak kesakitan.


"Tidak, tidak, sialan kalian para dewi, aku..."


Tubuhnya hancur tak tersisa, setelah Embrio dihancurkan maka buku itu bisa dihancurkan semestinya. Semua orang terduduk lemas dengan perasaan lega, jika makhluk barusan berada di dunia fana hampir mustahil mengalahkannya.


Meski mengerikan kami berhasil setelah mati beberapa kali, untukku sudah ratusan kali. Harfilia dan Aira memelukku dan aku membalas pelukan mereka.


Amnesty berdiri dengan senyuman di wajahnya.


"Kita semua telah berhasil."

__ADS_1


"Syukurlah."


Nightmare berdiri di depan gurunya dan lalu saling berpelukan.


__ADS_2