Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 431 : Pahlawan Yang Terpilih


__ADS_3

Saking terkejutnya aku berdiri dari kursiku, itu adalah sebuah pernyataan yang sulit aku bayangkan, dilihat bagaimana pun Estelle hanyalah gadis biasa yang tidak memiliki kemampuan bertarung, tangannya lembut seolah belum pernah memegang senjata apapun kecuali pisau di dapurnya.


"Melawan raja iblis adalah sesuatu yang berbahaya, aku tidak mungkin..."


"Ini adalah kemauanku, aku punya alasannya sendiri tolong dengarkan dulu penjelasanku."


"Baiklah, tapi sebelum itu mari makan dulu."


Estelle meletakan berbagai masakan yang terlihat sangat enak, semuanya dibuat dari bahan berkualitas baik terutama dengan dagingnya.


"Pemilik toko yang sering aku kunjungi memberikannya secara gratis, jadi jangan sungkan."


"Dia pasti sangat bersyukur melihatmu datang ke tokonya setiap hari."


"Mungkin begitu."


Aku melirik ke arah dadanya, jelas karena itu.


Setelah makan malam Estelle menjelaskan banyak hal, singkatnya sejak kecil Estelle tinggal di sebuah desa terpencil dari sini, dia hidup normal di sana namun suatu hari ketika pasukan raja iblis menyerang semuanya berubah.


Pahlawan yang dikatakan memiliki kemampuan luar biasa tidak pernah datang di saat semua penduduk itu membutuhkannya, Estelle secara kebetulan terjatuh ke dalam sumur dan saat dia keluar dari sana semua orang yang dikenalnya telah meninggal termasuk kedua orang tuanya.


Ia bertekad ingin menjadi pahlawan namun seiring waktu akhirnya dia menyadari bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan impiannya.


Di umur 18 tahun akhirnya dia memutuskan untuk menjadi pekerja guild, meski dia tidak turun langsung ke medan perang paling tidak ia ingin menyemangati banyak orang yang mampu melakukannya dan dengan kemunculanku impian itu telah datang kembali padanya.


"Aku mohon, tolong latih aku menjadi seorang pahlawan."


"Kau tahu ini bukan main-main, bahkan jika kau ingin menyerah aku tidak akan membiarkannya."

__ADS_1


"Aku siap."


Beberapa detik kami saling bertatapan dan akhirnya aku mendesah pelan lalu menunjuk ke arahnya.


"Mulai sekarang aku Lion, seorang dari dunia lain menunjukmu jadi pahlawan kau akan mengemban misi untuk menyelamatkan dunia, tidak ada kata mundur saat kau memutuskannya hanya ada dua kondisi yang bisa kau terima, satu mati karena gagal atau bahagia karena memenangkan pertarungan ini."


"Aku mengerti, aku menerima misi itu."


Dalam sekejap tubuh Estelle bersinar terang, cahaya menyelimutinya sesaat sebelum menghilang setelahnya.


"Apa yang barusan?"


"Itu sebuah berkah dewi, sama seperti pahlawan lainnya kau diberikan beberapa kemampuan, jika di duniaku mereka menyebutnya sebuah cheat."


"Sebuah cheat?"


"Lalu cheatku apa?"


"Kau memiliki kemampuan untuk menggerakkan benda tanpa menyentuhnya serta mana yang berlimpah."


"Akan kucoba."


Estelle menggerakkan tangannya, dalam sekejap pisau yang sebelumnya dia gunakan memasak terbang padanya.


Ia menangkapnya dengan baik.


"Bolehkah aku menggunakan pisau dapur sebagai senjata?"


"Aku tidak masalah tapi apa kau yakin akan menggunakannya untuk membunuh seseorang atau monster?"

__ADS_1


"Ah benar."


"Mari kunjungi pandai besi dan lihat senjata seperti apa yang cocok denganmu."


"Baik."


"Ngomong-ngomong di mana aku tidur malam ini?"


"Aku hanya memiliki satu kamar karena itu kita akan berbagi ranjang mulai sekarang."


"Tidak, aku akan tidur di sofa saja."


"Eh?"


Godaannya terlalu besar untuk pria normal sepertiku, memilih untuk tidak memunculkan adegan fan service adalah sesuatu yang kuputuskan di dunia ini.


Meskipun.


"Oi, Estelle.. jangan tidur di atasku, cepat kembali ke kamarmu."


"Aku sangat mengantuk."


"Guakh."


Wajahku tenggelam di dadanya.


Dunia ini tidak pernah berhenti membuatku terkejut.


Amnesty sudah menjelaskan keadaanku pada Rion jadi semua orang di Elfdian tidak akan khawatir denganku yang tiba-tiba menghilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2