Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 199 : Pertarungan Raksasa


__ADS_3

Iblis Titan adalah sesuatu yang diciptakan oleh Solomon, tidak berlebih bahwa semua ini adalah rencananya yang lain.


Nightmare sebelumnya mengendalikan iblis Titan untuk menyerang Menara Aira dalam upaya aku membebaskan Aira, tidak salah lagi mereka berdua benar-benar bekerjasama untuk ini.


Asap mengepul dari tubuhku.


"Hey tubuhmu berasap?" ucap Laurenta.


"Jangan khawatir, aku akan mengatasi ini."


Aira menyela.


"Titan setinggi 80 meter terlalu mencolok Lion, lebih baik mengalahkannya dengan aku atau Rion."


"Aku sudah bisa mengendalikan kekuatan ini, aku bisa berubah setinggi apa yang kumau."


"Tunggu, apa yang sedang kalian bicarakan?" Rion yang menjawabnya.


"Lion juga adalah Titan."


"Kalian bercanda."


Aku melompat dari kereta, bersamaan itu tubuhku membesar menjadi raksasa dengan zirah besi menyelimuti tubuhku, aku pernah berfikir untuk merubah bentuknya seperti robot tapi itu akan terlihat aneh.


Aku memasang kuda-kuda saat Iblis Titan Menyeruduk ke arahku dengan cepat, tinggi kami hampir setara karena itu aku dapat menangkap bahunya layaknya berhadapan dengan seekor banteng.

__ADS_1


Kakiku sedikit terdorong beberapa meter sebelum akhirnya bisa berhenti seutuhnya. Aku memusatkan kekuatanku di kedua tangan untuk mengangkat tubuh raksasa ini lalu membantingnya ke belakang, akibat dari bantingan itu tanah terangkat ke udara setinggi beberapa meter.


Aku tidak membiarkan makhluk ini kembali bangkit jadi kupegang ekornya kemudian memutar-mutarnya beberapa kali sebelum melesatkannya ke udara.


Aku belum pernah mencoba menggunakan sihir dalam bentuk Titan jadi tidak ada salahnya mencobanya.


Aku mengulurkan ke dua tanganku menciptakan lingkaran sihir raksasa.


"Fire Bolt."


Dengan wujudku seperti ini sihir yang diciptakan juga meningkat beberapa kali lipat dari seharusnya, saat itu menghantam iblis Titan dia meledak dahsyat menyisakan serpihan daging yang berjatuhan tanpa sisa.


Aku kembali ke wujudku semula dan mengambil topeng yang terjatuh di tanah, Laurenta yang terkejut hanya bisa menelan ludahnya.


"Ka-kau, wajahmu sangat tampan."


"Bisakah putri merahasiakannya, tentu dengan perubahanku barusan."


"Aku mengerti, aku sama sekali tidak menyangkanya... sekarang aku tahu kenapa kau menyembunyikan wajahmu."


Aku hanya tersenyum pahit sebelum kembali naik ke atas kereta untuk melanjutkan perjalanan, bermalam di luar cukup berisiko karena itu kami memutuskan untuk singgah di sebuah desa kecil.


Beberapa orang langsung menghentikan kami sebelum memasukinya, perwakilan dari mereka mendekat.


"Maafkan kami, tapi desa kami sedang terkena musibah sebaiknya anda segera pergi dari sini."

__ADS_1


Aku melirik ke arah desa dan melihat bahwa seluruh bangunannya memang sedikit rusak, aku menuntut penjelasan.


"Apa ada yang terjadi?"


"Belakangan ini desa kami diserang monster kaki seribu, penduduk desa berhasil menghalaunya namun makhluk itu mengeluarkan racun sehingga sebagian kami hanya bisa terbaring kesakitan."


"Apa kalian sudah meminta pihak guild untuk membantu?"


Dia menggelengkan kepalanya.


"Kami hanya penduduk desa miskin, sulit untuk memberikan imbalan pada mereka."


Aku bisa mengerti itu.


"Baiklah, aku seorang petualang biarkan aku membantu."


"Tapi kami?"


"Jangan khawatir pelayananku gratis."


"Terima kasih banyak, tak kusangka ada petualang baik di dunia kejam ini."


Dia malah menangis.


Para penduduk tidak menyadari bahwa aku bersama putri jadi itu melegakan, kami dibawa ke sebuah ruangan luas dan di sana puluhan orang dibiarkan terbaring begitu saja.

__ADS_1


Ada beberapa orang yang turut membantu dengan memberikan obat, sayangnya itu hanya obat penghilang rasa sakit saja. Jika dibiarkan mereka cuma menunggu kematian yang menyakitkan.


__ADS_2