Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 166 : Keluar Dari Bahaya


__ADS_3

"Ada sedikit kekeliruan dengan informasimu... aku bukan berusaha membangkitkan dia, melainkan mencuri kemampuannya untuk diriku sendiri, aku adalah ras persilangan antara elf dan naga karena itu..."


Sebelum Nightmare menyelesaikan perkataannya 12 lingkaran suci algoritma muncul di atas langit, melihatnya aku sudah tahu bahwa Venus berada di sana.


"Celaka, orang itu ada di sini."


Nightmare juga sedikit ketakutan dengannya.


"Teleportasi Gate."


Saat pilar cahaya dijatuhkan aku menghilang dan muncul tepat di dalam sebuah hutan, aku terduduk menghela nafas lega sementara Rion dan Aira dalam wujud manusia mereka sendiri.


"Di mana ini?"


"Aku juga tidak tahu."


Wajar untuk mereka kebingungan, aku berpindah tanpa melakukan persiapan mungkin kami telah tersesat di hutan.


Paling tidak kami bisa keluar dari sihir besar milik Venus, aku sudah bisa menggunakan sihir suci karena itu aku melapisi Teleportasi Gate dengan sihir tersebut agar bisa digunakan.


Tidak ada pertentangan antara sihir suci dengan sihir suci lainnya.


Jika menanyakan orang bernama Nightmare aku yakin orang itu tidak bisa dibunuh, dia telah memakan jantung manusia yang mana membuatnya bisa hidup abadi sesuai jumlah jantung yang ia lahap.


Bukannya dia tidak memiliki kelemahan sayangnya batas dari jantungnya adalah 500 jantung dengan kata lain aku harus membunuhnya sebanyak itu agar bisa menang.


Tak lama kemudian Rion memperingatkan.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang mendekat."


Aku melirik ke arah seekor Rusa yang muncul tiba-tiba dari semak-semak, dia menatap kami sebagai musuh, dia mungkin penguasa wilayah ini.


Dengan cepat dia menerjang ke depan, sayangnya dia tidak beruntung karena aku yang harus dilawannya.


Kugunakan Magic Tree untuk mengikat tubuhnya lalu menggunakan skill tebasan angin untuk memotong kepalanya.


Aira berteriak selagi mengangkat kedua tangannya.


"Ini makanan, aku sudah lama terkurung di menara, pasti dagingnya sangat enak... hore, hore."


Rion tersenyum senang sementara aku sedikit heran, yah... baru sekarang aku melihat seseorang begitu senang saat melihat daging.


Pertama mari kita buang darah dari tubuh rusa tersebut dan membersihkan dagingnya, setelah mengolahnya menjadi daging panggang kami menikmatinya dengan senang.


"Kita masih banyak daging jadi makanlah sepuasnya," kataku demikian.


"Aku ingin tinggal di sini semalaman, apa boleh? Karena selalu berada di menara, kurasa aku sangat senang bisa berada di alam bebas."


Aku melirik ke arah Rion dan ia mengangguk kecil.


"Baiklah, besok pagi kita kembali ke wilayahku."


"Lion sangat baik," balasnya terus menggigit daging yang kuberikan padanya.


Rion yang sudah menghabiskan porsi miliknya bertanya ke arahku.

__ADS_1


"Jadi ujian apa yang kau lalui?"


"Cuma ujian sederhana yang dibuat ratu para dewi."


"Jadi Amnesty, sekarang kau pasti tahu."


"Iya... aku sedikit heran saat Rion dan Amnesty bertemu kalian berdua tidak langsung berdebat sebagai musuh."


"Saat kau berduel semuanya akan selesai saat itu juga."


Aku cukup terkejut mendengar hal itu dari mulutnya, bukannya dewi ini selalu jahat?


"Jangan mengejekku."


Ah, dia masih membaca pikiranku.


Aku menggunakan sihir kayu untuk menciptakan dua buah tenda yang bisa kami kugunakan, walau Aira mengeluh karena harus tidur sendiri kami tetap menolaknya.


Bagaimana pun ada hal yang tidak boleh dia lihat untuk sekarang.


Pagi berikutnya aku meregangkan tanganku untuk menarik udara segar memasuki paru-paru, Rion dan Aira muncul beberapa saat kemudian.


"Sudah waktunya kembali mari pergi."


"Um."


Aku menciptakan kembali Teleportasi Gate dan kami muncul di negaraku Elfdian.

__ADS_1


__ADS_2