
Venus yang telah sadar menarik pedang dari kepalanya lalu melemparkannya ke arah samping, luka yang diterimanya sedikit demi sedikit telah pulih dan ia memaksa dirinya untuk bangkit.
Nightmare telah pergi ke pulau naga dan sekarang dia lebih memutuskan untuk menyusul Ringbel bagaimanapun tidak ada banyak yang bisa dia lakukan saat berhadapan dengan Nightmare. Dalam perjalanannya ia menaruh batang pohon di jalanan sebelum bersembunyi di balik pepohonan.
Tepat saat sebuah kereta berhenti karena ulahnya, dia diam-diam masuk dari belakang, mengambil beberapa pakaian untuk dia kenakan lalu bersembunyi sampai akhirnya kereta kembali berjalan.
Saat kereta memasuki kota ia turun lalu berjalan seolah tak terjadi apapun. Kini kekuatannya telah hilang dan ia harus pergi ke benua iblis, mengingat dimana ia berada dia hanya perlu menaiki sebuah perahu uap untuk pergi ke tempat tujuannya yaitu Elfdian.
Bagaimanapun dia beruntung bahwa telah berada di dermaga di kerajaan Ortodok suci yang dulu pernah ia pimpin sebelumnya. Yang hanya ia butuhkan hanya uang untuk sebuah perjalanan singkat tapi bagaimana caranya dia mendapatkan uang selayaknya manusia biasa.
Venus melirik sesaat ke arah tubuhnya sebelum menggelengkan kepalanya, jelas dia tidak akan melakukan hal itu. Sebagai gantinya Venus akan membuka praktek peramal dengan biaya satu koin perak saja.
Dia seorang dewi jika soal ramalan itu bukanlah hal sulit, begitulah yang dipikirkannya namun sejujurnya orang-orang tidak terlalu peduli dengan yang namanya ramalan, mereka malah cenderung ke arah sesuatu yang disebut curhatan hati hingga Venus hanya bisa tersenyum masam saat seorang wanita, laki-laki, anak-anak datang hanya untuk meluapkan emosi serta kekesalannya.
"Tolong tambah uangnya maka aku akan mendengarkannya lebih banyak dan lihat apa aku punya solusi untuk masalahmu."
"Baik."
__ADS_1
Setelah cukup lama akhirnya Venus bisa menaiki perahu, dia duduk di sebuah kursi panjang dengan kacamata serta payung yang sedikit menutupi tubuhnya.
"Kuharap aku tidak terlambat, apa perahu ini tidak bisa lebih cepat lagi."
"Nona minuman anda."
"Terima kasih banyak."
Sesampai di pelabuhan Elfdian Venus buru-buru berlari ke arah ibukota, baru mencapai setengah perjalanan sebuah angin kuat sedikit berhembus melewatinya, memaksanya untuk melindungi wajahnya dari debu.
Dari pepohonan yang tumbang ia bisa melihat Lion yang masih mengenakan topeng sedang bertarung dengan sosok Ringbel.
"Venus kau ada di sini?"
"Mengobrolnya nanti saja, kita harus menghentikan Ringbel sebelum tubuhnya meledak."
"Meledak?"
__ADS_1
"Dia memaksa memakai energi dewinya untuk bertarung denganmu, dia jelas kesakitan."
"Aku memang merasakan energi yang tidak normal darinya."
Keduanya mendarat di pohon kemudian melompat saat sebuah getaran suara meledak di tempat pijakan mereka. Di sisi lain Ringbel hanya berjalan layaknya mayat hidup.
Venus melanjutkan.
"Satu cara untuk menyelamatkannya hanyalah dengan membunuhnya, kami para dewi tidak akan mati dan dalam beberapa saat kami akan hidup lagi tapi aku tidak yakin bahwa kutukannya akan lenyap."
"Jika begitu lebih baik aku menghilangkan kutukannya tanpa perlu membunuhnya."
"Kau bisa melakukannya."
"Tentu saja, aku akan menggunakan sihirmu."
"Dua belas lingkaran suci Algoritma."
__ADS_1
Lion mengangguk mengiyakan.