Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 158 : Pembagian Wilayah


__ADS_3

Aku mulai menjelaskan.


"Ini adalah peralatan sihir yang telah kubuat sendiri, walau aku selama ini bersantai di akademi aku terus bekerja mengembangkan peralatan ini, pertama aku akan menjelaskan bagian sepatunya... di sepatu ini aku memasang beberapa kristal sihir yang mampu membuat penggunanya melompat di udara dalam waktu tertentu pakaian ini juga tahan serangan sihir."


Gracia menambahkan.


"Kurasa lebih baik menunjukkan caranya."


"Mari mengujinya di luar."


Aku menciptakan deretan pepohonan tinggi yang bisa dijadikan oleh Gracia sebagai contoh, berhubung dia memiliki pedangnya sendiri jadi aku tidak memberikan senjata padanya tapi jika itu orang lain aku juga sudah menyiapkan senjata yang mampu menghancurkan baju besi para Titan.


Gracia melompat di udara dengan cepat lebih tinggi dari yang pohon aku buat, dari rompi yang dia pakai dua pengait yang terikat dengan tali tipis menembak layaknya peluru menancap di pohon lalu menariknya dengan kecepatan tinggi. Aku membuat empat namun yang kedua hanya digunakan jika mereka benar-benar sudah terlatih.


Dengan gerakan mudah Gracia menebas pohon itu lalu menumbangkannya dengan mudah.


Semua alat itu digerakkan dengan pikiran jadi semuanya terlihat seperti otomatis.


"Hebat, itu terlihat luar biasa."


Kizuna mendekat ke arahku selagi menyikut perutku.


"Bukannya itu mirip seperti yang ada di manga."


"Mana mungkin aku bisa menirunya, aku hanya membuat dengan bahan seadanya."

__ADS_1


Kizuna menyilangkan tangannya di belakang.


"Biarlah, lagipula jika sama kau juga akan dituntut karena mengambil properti mereka."


"Aku tidak ingin hal itu terjadi."


Semua orang sudah memilih wilayahnya karena itu aku juga harus pergi ke wilayahku sendiri, aku meminta dua pohon raksasa bernama Agil dan Anil untuk membantu di sini untuk membangun jembatan bagaimana pun negara yang kubuat berada di daratan luas di tengah danau yang sangat lebar.


Para elf sebelumya bermata pencarian nelayan karena itu mereka lebih suka tinggal di sini. Sampai negara Nibela dibangun dia juga akan tinggal di sini bersama ibunya sementara waktu.


Untuk Atlas dia menjadi asistenku.


Aku memiliki tiga pelayan elf juga di sini mereka adalah Friella, Laina dan juga Misa.


Misa yang mengetahui kedatanganku melompat ke arahku dan aku memang harus menangkapnya, dia memiliki bentuk tubuh hampir menyamai Rion jadi semuanya terasa lembut.


"Hentikan Misa."


"Aku sudah menahan diri selama ini jadi izinkan aku melakukannya."


Anggota partyku yang terdiri dari Valentine, Rion dan Harty hanya menatapku dingin.


"Sepertinya kita terlambat datang Rion?"


"Sepertinya begitu, mereka sedang melakukan hal mantap-mantap."

__ADS_1


"Kalian semua benar-benar tak bermoral," ucap Harty demikian.


Aku hanya bisa menarik nafas lega saat berhasil keluar dari situasi sulit seperti ini. Wanita kadang benar-benar menakutkan dan juga jika aku menikahi mereka secara bersamaan itu hanya terasa sulit saja.


Maka dari itu aku akan menikahi Rion lebih dulu dan berikutnya yang lainnya secara bergiliran.


Di ruangan itu Rosvalia menunjukan keberatannya.


"Kenapa harus Rion dulu .. bukannya yang harus diutamakan adalah aku."


"Jika mengingat apa yang terjadi, Rion adalah orang yang ditemui pertama kali oleh Lion jadi sudah sewajarnya, kemudian disusul Valentine lalu kalian," ucap Harty menjelaskan.


Dia tidak tertarik denganku jadi dia bisa menjadi penengah semua ini.


Misa mengutarakan pendapatnya.


"Aku tidak keberatan siapa yang duluan, lagipula itu sama saja."


"Aku juga," tambah Valentine hingga Rosvalia hanya mengerenyitkan alisnya.


"Kalau begitu setelah Rion adalah aku."


"Sepakat."


Mereka benar-benar mengendalikanku.

__ADS_1


__ADS_2