Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 380 : Mata Ilahi


__ADS_3

Hari ini aku bersama Rion untuk berlatih sihir miliknya, di masa lalu Rion telah banyak membaca buku sihir dan menciptakan sihirnya sendiri.


Berbeda dengan tujuh dosa, sihir ini tidak bisa diturunkan pada orang lain dengan mudah.


Kedua mata Rion membentuk pola lingkaran bintang dan di sekelilingnya tercipta petir berwarna putih yang menyebar ke sekelilingnya.


"Ini adalah sihir dunia yang terakhir, elemen petir yang digabungkan dengan mata ilahi."


Itu jelas sesuatu yang luar biasa.


"Dan bagaimana caranya aku bisa menggunakannya?"


"Mudah saja, mari berciuman aku akan menyalurkan semuanya pada Lion."


"Kenapa harus seperti itu?"


"Ini sudah aturan, sudahlah tidak ada yang melihat di tempat ini."


"Yah sebenarnya aku melihatnya dan kalian melakukannya sangat lama."


Aku terkejut karena ada Kizuna di sampingku.


Charlotte juga bersamanya dalam bentuk pedang dan mengeluh soal pelecehan di tempat umum atau sebagainya.


"Sebenarnya Rion yang memintaku datang kemari juga, waktu mereka menyeretku dia bilang cobalah untuk membantu Lion nanti."


Rion mengangguk mengiyakan dan aku menarik pipinya.


"Perlu cara untuk membuat Lion terbiasa menggunakan teknik ini, karena itu aku mengundang Kizuna untuk melatihmu juga."

__ADS_1


"Jadi begitu."


"Aku tidak akan menahan diri."


"Bagus Kizuna gunakan seluruh kekuatanmu."


Aku melihat tujuan berbeda dari perkataan Charlotte namun jelas aku tidak bisa mengatakannya. Kizuna mengambil dua katana yang dia berikan padaku sementara dirinya menggunakan pedang Charlotte.


Rion berada di pinggir untuk memperhatikan saat petir menyelimuti tubuhku, aku yakin bahwa mata kiriku sudah berbentuk pola bintang.


"Aku mulai."


"Tolong bantuannya Kizuna."


Kizuna melesat maju dan kami saling membenturkan pedang kami, Kizuna dalam posisi menyamping ketika dia berhasil mendorongku.


"Yamata no Orochi... tebasan pertama."


Aku berhasil mengalirkan petir ke kedua pedangku namun itu masihlah lemah hingga aku terdorong jauh ke belakang dan menghancurkan pepohonan di sana.


Aku bangkit dan mencoba sekali lagi.


"Tolong lakukan lagi."


"Baiklah."


Aku terus menahan tebasan milik Kizuna, dari tebasan pertama, kedua sampai ke sembilan dimana aku sekaligus menahan sembilan kepala ular.


Kedua mataku berubah menjadi pola bintang dan saat itu tubuhku tak bisa digerakkan kembali dan tumbang. Charlotte yang mendapatkan kesempatannya berubah ke bentuk dirinya dan lalu menginjak punggungku.

__ADS_1


"Aku selalu menunggu kesempatan ini, rasakan ini."


"Terima kasih sudah memijatku."


"Apa?"


Dia tidak sadar dengan berat tubuhnya.


"Hentikan Charlotte itu tidak sopan menginjak kepalanya."


"Aku juga ingin melakukannya."


"Jangan ikut-ikutan," kataku pada Rion.


Padahal aku benar-benar babak belur sekarang. Selama dua hari aku habiskan untuk berlatih dengan Kizuna setelah terbiasa aku melanjutkannya berlatih dengan Ireta.


Kizuna membuatku untuk meningkatkan ketahanan pada serangan sementara Ireta menekankan pada kecepatan, jika aku bisa melihat sabitnya maka aku bisa sedikit mendekat untuk mengalahkan Solomon ataupun Nightmare.


Rion kini mengundang beberapa orang di mansion juga untuk melihat.


"Aku tidak akan menahan diri, jadi pastikan untuk tidak terpotong Lion."


"Aku mengerti."


Ireta mengenakan topengnya dan seketika seluruh tubuhnya diselimuti aura gelap, dia bergerak seolah menghilang dan muncul di depanku seperti sebuah lompatan.


Aku menahannya dengan tepat, jika sedetik saja aku terlambat tubuhku akan terpotong. Ireta bersalto ke belakang dan kembali menyerangku dengan gerakan yang terus dipercepat.


Walau hanya setengah dari kekuatannya itu sudah cukup membuatku kelelahan, Ireta juga menahan sabitnya agar tidak memotong pedangku.

__ADS_1


Selama seminggu barulah aku terbiasa dengan kecepatannya dan menjadi akhir dari pelatihanku.


__ADS_2