Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 53 : Lion Dan Bisnis Barunya


__ADS_3

Itu adalah sebuah kedai yang ramai dikunjungi pelanggan.


Ini sudah masuk jam makan siang jadi tidak heran suasananya seperti ini.


"Tolong pesan satu gelas lagi."


Sementara Rion memesan minuman untuk dirinya sendiri kami bertiga sedang memikirkan apa yang sebaiknya kami lakukan ke depannya.


Harty datang dengan sebuah ide.


"Kita hancurkan saja seluruh kota ini dan rampas semua uang yang kita inginkan."


"Kau ingin membuatku di penjara yah," teriakku padanya.


"Penjara hanya diperuntukan untuk penjahat kelas teri bagi kita yang penjahat kelas atas hal itu mustahil."


Naga ini lebih sesat dari dewi di sana itu, yang dengan bahagia tertawa dengan makananku.


"Enak sekali, tambah lagi."


"Aku juga tambah," ucap Harty menyusul.


Di sini yang masih normal hanya Valentine saja walaupun dia masih menggunakan payungnya di sini.


"Hari ini langit terlihat mendung."


Kutarik perkataanku, jika kau ingin menjadi model payung, di luar sana.


Kelompokku bisa dibilang paling eksentrik dibandingkan semua orang di sini.


"Tuan, teh Anda."


"Terima kasih."

__ADS_1


Aku mengucapkan hal itu pada pelayan yang mengantarkan pesananku.


"Jadi apa yang akan kau lakukan Lion?"


"Kupikir kita akan memulai bisnis."


Ketiganya mengalihkan pandangan ke arahku.


"Itu ide buruk, jika kau memulai jadi pedagang budak maka tolong hentikan."


"Benar, aku tahu bahwa itu bisnis menggiurkan tapi menjual kesucian wanita itu adalah sesuatu yang biadab."


"Kurasa itu ide bagus."


"Aku penasaran bagaimana kalian melihatku? Maksudku kita akan berbisnis makanan. Menjual makanan pada warga kota ini dan mendapatkan uang darinya."


"Aku tidak ingin mengecewakanmu Lion, tapi mendapatkan uang satu juta koin emas adalah hal mustahil," sela Rion dan mendapatkan anggukan setuju dari Valentine.


"Aku tidak keberatan pergi ke sana."


Aku melanjutkan.


"Lawan kita adalah pangeran, aku khawatir bahkan dengan uang satu juta itu belum cukup untuk bisa mengalahkannya, paling tidak aku harus memiliki uang setara negeri ini."


"Lion itu berlebihan? Pangeran juga tidak mungkin akan mengeluarkan jumlah uang sebanyak itu demi hanya membeli budak," kata Valentine.


"Kau yakin?"


"Mungkin."


"Pria itu terkadang akan mempertaruhkan segalanya demi wanita maksudku hawa nafsu, Valentine masih terlalu polos untuk sampai ke tahap itu."


"Aku tidak polos."

__ADS_1


Kuharap Rion bisa sedikit lembut dalam perkataannya. Dia melanjutkan.


"Jadi bisnis apa yang kau pikirkan?"


"Kita akan berjualan gorengan."


"Gorengan apa itu semacam daging bakar?" tanya Harty.


"Daging bakar jidatmu. Kebanyakan gorengan dibuat dari sayuran."


"Ah, aku tidak suka sayuran."


"Aku juga."


"Aku tidak yakin itu ide bagus."


"Ini hanya penasaran meskipun tidak laku itu bukan masalah... untuk sekarang mari beli bahan-bahannya tapi sesudah aku menghabiskan makanan...ku."


Aku berhenti di sana.


"Kalian mencuri makananku dan hanya menyisakan sayurannya saja."


"Yah, kudengar hari-hari ini kubis cukup digemari banyak orang, aku memberikan bagian terbaiknya padamu," alasan Rion.


"Kau tahu kubis sangat baik untuk pria dan juga wortel ini juga, jadi aku mengalah untuk tidak memakannya," alasan Valentine.


"Naga tidak makan sayuran, jadi jangan paksa aku memakannya," alasan Harty.


Aku hanya bisa menatap mereka dengan pandangan bermasalah.


Lain kali aku akan memaksa kalian memakan sayuran termasuk banyak gorengan.


Sayang jika dibuang karena itu aku menghabiskan semua sayuran yang ada di piring.

__ADS_1


__ADS_2