
Berayun di bawah bangunan kota yang hancur, dia---Ryker, menggunakan seluruh tenaganya untuk mengayunkan pedang demi mengoyak daging raksasa yang muncul untuk menghadangnya.
Setiap gerakannya memiliki kecepatannya luar biasa seolah dia menari-nari di udara tanpa hambatan, sensasi daging yang terkoyak jatuh pada tangannya namun itu bukanlah sesuatu yang dipikirkan.
Dia menggunakan bahu Titan yang baru dia kalahkan sebagai pijakan berikutnya kemudian memutar pedangnya untuk memenggal kepala Titan lainnya. Di saat yang sama Kizuna dan pasukannya telah menjatuhkan sisi raksasa yang lain dan bergabung dengan pasukan Ryker.
"Titan di sini sangat banyak dan cukup ganas, anak buahku ada beberapa yang mati."
"Itu tidak bisa dihindari, pokoknya jangan lengah."
"Dimengerti, aku akan mengincar yang kiri kau yang kanan."
"Aah."
Keduanya berpencar untuk menghadapi Titan berbeda bersama pasukannya, Ryker memberikan arahan ke setiap pasukannya untuk melukai betis raksasa yang dilawannya kemudian mereka bersama-sama menghabisi semuanya saat mereka terduduk jatuh.
Ryker mendaratkan kakinya di tanah untuk menatap sekelilingnya yang dipenuhi darah. Semuanya berjalan lancar namun dari jalan yang dilaluinya seorang wanita berjalan dengan anggun selagi memeluk sebuah katananya, dia menebas tubuh Titan yang menghalangi membalutnya menjadi potongan kecil bahkan saat dia menarik pedangnya tidak jelas sama sekali.
Tubuh Ryker gemetar, itu bukanlah sensasi dari sebuah ketakutan melainkan sebuah insting bertahan hidup yang menyuruhnya untuk segera meninggalkan tempat ini.
Yang jelas, orang di depannya bukan seorang yang bisa dihadapi.
"Orang ini berbahaya, mundur."
"Kenapa kau mengatakan itu, kita seharusnya membunuhnya? Itu tugas kita."
"Sungguh di sayangkan tapi orang ini bukan sesuatu yang bisa kita kalahkan."
Dalam sekejap wanita itu telah berpindah tempat di depan mereka. Rambut hitam yang diikat bergaya ekor kuda berkibar tertiup angin dengan indahnya.
"Jangan repot-repot, aku akan membunuh kalian."
__ADS_1
SRAK.
Seluruh tubuh pasukan Ryker terbelah menjadi dua bagian, Ryker yang tidak berbicara di tendang jatuh ke bawah membuatnya tak berdaya. Di saat yang sama wanita itu jatuh selagi mengarahkan ujung pedangnya, sebelum mengenai Ryker Kizuna telah muncul untuk memberikan serangan balasan.
Di percobaan pertamanya dia melempar wanita itu menabrak dinding.
"Kau tak apa Ryker?"
"Terima kasih."
"Kau ini kenapa, hanya melawan orang barusan kau sampai tidak bisa bergerak," tambah Charlotte.
"Dia bukan lawan biasa, saat kau menghadapinya kau akan tahu."
"Begitukah."
Wanita itu bangun selagi menepuk pakaiannya.
"Kau cuma beruntung karena barusan aku lengah, akan kuyakinkan bahwa hal yang barusan tidak akan pernah terjadi lagi."
"Sesuai permintaanmu."
Wanita dengan katana itu melesat maju begitu juga Kizuna yang menggunakan pedang serupa, keduanya menunjukkan kekuatan hebat, penggunaan pedang yang terlalu cepat sulit untuk dilihat dengan mata telanjang.
Ketika mereka berhenti bergerak untuk saling menatap satu sama lain, seluruh bangunan di sekeliling mereka hancur terpotong-potong.
"Kizuna orang ini sangat hebat."
"Aku tahu tapi aku tidak akan menyerah, dia bahkan bisa membunuh pasukan kita hanya seorang diri," bisik Kizuna lalu melanjutkan.
"Siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
"Namaku Livia, kau bisa memanggilku Titan Pedang."
"Julukanmu terdengar jelek... aku juga harus memperkenalkan diri namaku Kizuna, panggil saja begitu."
"Nah Kizuna apa kau tidak merasakan sesuatu?"
"Sesuatu?"
"Aku sudah memotong tanganmu."
Kizuna melirik ke arah pedang yang tidak berada di tangannya lagi, dalam waktu singkat tangannya telah terputus.
Kizuna menatap Ryker dengan air mata.
"Tanganku."
"Ugh..."
Livia terdiam untuk melirik ke arah tempat lain dan bergumam.
"Rumia berhasil dikalahkan, sungguh di sayangkan... aku lebih baik melaporkannya."
"Tunggu sebentar "
Tubuh Livia perlahan berubah menjadi kabut.
"Lain kali aku akan membunuhmu, Kizuna."
Charlotte berubah menjadi seorang gadis saat Kizuna memungut tangannya sendiri.
"Bagaimana ini Charlotte?"
__ADS_1
"Itu bisa tumbuh lagi kan."
"Mana mungkin, aku ini bukan kadal" tepat saat Kizuna mengatakannya Lion muncul di dekatnya.