Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 55 : Sebuah Dungeon


__ADS_3

Keesokan paginya aku dan Harty pergi ke salah satu dungeon di pesisir pantai, di sini banyak petualang yang berlarian keluar hingga aku bertanya-tanya seberapa menakutkan tempat ini.


Salah satu wanita terlihat seperti petualang sempat jatuh di depanku hingga aku segera memeganginya dan membantunya berdiri.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku tak apa hanya saja tempat ini sangat berbahaya, aku tidak ingin masuk ke dalam lagi."


Dia segera melarikan diri kembali.


Harty memiringkan kepalanya.


"Tempat ini jelas sangat sulit ditaklukkan, kau yakin akan masuk ke dalamnya.. Lion bahkan tidak membawa senjata juga."


"Jika kau punya naga kau bisa melakukan apapun."


"Jangan melimpahkan hal berat padaku."


"Mari masuk."


"Baiklah."


Dungeon ini memiliki tiga area, pertama area atas, area tengah dan area bawah. Setiap area memiliki kesulitan paling tinggi kendati demikian uang yang akan kami dapatkan jelas akan sepadan.


"Ngomong-ngomong Lion, apa yang akan kita cari di dalam?"


"Apapun yang bisa kita jual."


"Sulit untuk menentukannya jika begitu, tapi aku yakin kita akan menguras seluruh isi dalam dungeon ini."

__ADS_1


"Tepat sekali."


Kami mulai dengan langkah pertama, ada seekor keong raksasa di depan kami, bukannya takut Harty berlari mengejarnya.


Kini monster yang takut olehnya.


"Jangan lari makanan."


Naga memang bisa diandalkan.


Di saat Harty mengejar monster yang kami temui aku mengambil barang apapun yang terlihat mahal, ada perhiasan jatuh ataupun barang berharga yang ditinggal pemiliknya yang sudah menjadi tulang belulang.


Aku sedikit tidak enak mengambilnya tapi orang mati tidak memerlukannya lagi karena itu aku akan memasukannya ke dalam sihir penyimpananku.


"Bagaimana Harty?"


"Aku sudah makan dengan kenyang."


Kecuali keong aku tidak melihat apapun yang benar-benar mengancam, keong ini akan bersembunyi di dalam cangkang saat diserang lalu setelah itu balik menyerang dengan cepat karena itulah banyak petualang yang mati.


Bola air menembus cangkang sekaligus tubuhnya.


Harty buru-buru mengambilnya dan memasukannya ke dalam penyimpanannya.


"Aku akan menyimpannya untuk nanti."


Itu akan membantu jika Harty memiliki cadangan makanan di sana.


Di pertengahan lantai, keong yang kami lawan berukuran raksasa, kakinya yang berselaput memunculkan jari-jari yang sangat panjang mirip tentakel yang berguna sebagai pertahanan diri.

__ADS_1


Ada petualang di sini juga dan mereka terkapar tak berdaya.


"Harty, bisa kau ledakan.. aku akan sibuk menambang bebatuan di sini, kurasa harganya akan mahal dibandingkan benda yang kita pungut di jalanan."


"Dimengerti."


Di saat aku menambang Harty di sana sedang bertarung habis-habisan, aku bisa mendengar ledakan sesekali.


"Hey tunggu, anggotamu bertarung sendirian kau tidak membantunya."


"Dia sangat kuat, aku malah akan mengganggunya."


Tiba-tiba saja tubuh Harty jatuh di depanku hingga menghancurkan batu yang sedang kuhancurkan.


"Aduh, sakit sekali.. keong ini akan merasakan akibatnya telah menyakitiku."


"Kerja bagus, sekarang aku tidak perlu menghancurkannya."


"Khawatir sedikit napa?" para petualang itu berteriak di dekatku.


Mereka hanya ada empat orang dengan satu pria dan sisanya wanita.


"Aku sedang sibuk kalian bisa pergi sekarang."


"Orang ini."


Ketika aku mengalihkan pandanganku Harty sudah mengalahkan keong tersebut, dia berdiri di atas cangkangnya selagi melambai ke arahku.


"Mari beristirahat di sini sebentar."

__ADS_1


"Aku mengerti."


__ADS_2