
Setelah 10 menit ke sana kemari, aku akhirnya bisa bersantai di kursi panjang, aku mengangkat tanganku ke atas berharap meraih langit biru di tanganku.
Rion yang diam-diam mengawasi dengan eskrim di tangannya dengan jahil menempelkannya di pipiku.
"Dingin."
"Kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak ada, aku hanya berfikir langit itu sangat indah."
Padahal dia bisa membaca pikiranku dengan mudah.
Aku hendak mengusap bekas eskrim dengan lengan bajuku namun Rion segera menahan tanganku.
"Biar aku saja yang membersihkannya... Ahm."
Otakku langsung membeku.
Bukannya menggunakan sapu tangan atau tisu Rion memilih untuk membersihkan pipiku dengan lidahnya.
Apa hal seperti ini memang lumrah dilakukan.
"Jangan malah bengong, pakai lagi topengmu.. akan jadi masalah jika para perempuan liar itu menemukanmu."
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kemudian menutup wajahku kembali sebelum berkata.
"Kau sudah bersenang-senang jadi mari kembali ke tempat pertandingan."
"Heh, tapi masih ada beberapa menit lagi. Aku ingin berduaan lebih lama lagi dengan Lion."
Dia mengatakannya dengan ekpresi imut, jika bukan aku, aku bisa yakin semua pria akan terjerat dan akhirnya uang mereka akan raib setelahnya
"Aku bukan cewek seperti itu, aku tidak memikat siapapun dengan pesonaku."
"Berhentilah membaca pikiranku."
"Tidak akan."
Orang-orang berlalu lalang di depan kami dan itu menjadi pemandangan yang menghangatkan hati.
Di dunia lamaku aku tidak bisa bebas seperti ini dan cenderung dilarang untuk pergi ke kota kecil atau daerah kumuh tapi di sini aku bisa pergi kemanapun yang kusukai serta bertemu banyak orang asing.
__ADS_1
Aku berkata ke arah Rion.
"Soal kekuatanmu, kenapa mereka semua malah menjadikannya hadiah? Bukannya harusnya benda itu disegel."
"Karena kejadiannya sudah berlangsung lama aku rasa orang-orang mulai sedikit demi sedikit melupakanku, pada dasarnya walau bola itu terlihat indah tidak ada siapapun yang bisa mengambil kekuatannya.. barang kali ada beberapa orang yang mencurinya lalu menjualnya di penadah hingga akhirnya diperlakukan sebagai barang tidak berharga."
"Jadi begitu... yah, dengan itu kita bisa mendapatkannya dengan mudah tanpa harus menerobos penjaga atau bertarung dengan kerajaan ini."
Rion hanya tersenyum sebagai balasan.
"Kurasa sudah waktunya pergi."
Ketika aku berdiri untuk melangkahkan kakiku Rion menghentikan tanganku lalu menatapku dengan mata sedikit memelas.
Situasi ini terasa aneh bagiku.
"Apa kau masih meragukanku?"
"Soal apa?" aku balik bertanya.
"Soal perasaanku."
Rion menggelengkan kepalanya lalu mengambil topengku dengan tangan kiri.
"Aku baik-baik saja, aku ini mencintaimu," tepat saat Rion mengatakan itu burung merpati putih yang sejak tadi berkumpul di sekeliling alun-alun ini berterbangan ke udara.
Aku bisa mendengar suara orang-orang yang berjalan melewatiku saat mataku dan Rion saling memandang dalam keheningan.
"Tapi bukannya kau bilang... meski aku menggodamu kamu bilang dewi tidak bisa menikah dengan makhluk di dunia fana."
"Aku mengatakan itu hanya sedikit jual mahal, kudengar pria suka perempuan seperti itu."
"Rion?"
"Larangan itu memang benar tapi sejak aku dibuang ke dunia ini aku bukanlah dewi lagi, aku hanya elf tidak lebih dan tidak kurang."
"..."
"Dewi mudah sekali jatuh cinta pada manusia karena itu larangannya dibuat, dunia akan tidak seimbang jika turunan setengah dewa lebih banyak dari manusia itu sendiri... tapi sekarang aku elf."
Ketika aku kebingungan Rion menjatuhkan topengku untuk merangkul punggung leherku sebelum menempelkan bibirnya di bibirku.
__ADS_1
Kami berciuman.
Walau hanya berlangsung beberapa menit rasanya dunia seketika berhenti berputar.
Tubuhku tidak bisa merasakan apapun kecuali kehangatan yang diberikan oleh Rion, benar dia bukan dewi dia hanya ras Elf yang hidup di dunia bersama ras lainnya.
Setelah itu kami menjaga jarak.
Rion memegangi kepalanya sedikit frustasi.
"Ahh, aku merasa buruk, yang barusan ciuman pertamaku?"
Perkataannya diselimuti kegelisahan.
"Itu juga ciuman pertamaku, tapi aku tidak tahu apa aku juga menyukai Rion sebagai lawan jenis atau hanya sebagai teman saja... aku bingung."
Rion memiliki ekpresi jahil sekarang.
"Aku tidak mengkhawatikan soal itu, entah kau menganggapku teman, pacar, kekasih ataupun istri bagiku sama saja, hal yang terpenting adalah bahwa kita akan selalu bersama.. di dunia ini banyak sekali pernikahan politik jadi aku tidak keberatan jika pun ini hanya perasaan sepihak."
Semenjak aku datang ke dunia ini, aku tidak pernah menduga ada hal seperti ini yang akan terjadi.
Aku merasa orang di depanku bukanlah dewi jahat, elf atau sesuatu yang ditakuti orang lain.
Bagiku.
Dia hanya seorang gadis pada umumnya.
"Jangan melamun saja, ayo pergi... pertandingan akan dimulai."
Benar.
Suatu hari aku ingin membalas perasaannya dengan sebaik mungkin. Entah aku memperlakukannya sebagai teman atau aku memang menyukainya juga.
"Apa kau sedang memikirkan hal mesum tentangku?"
"Tidak."
"Tapi kau belum menceritakan mimpimu yang waktu itu."
Membayangkannya hanya akan membuatku malu jadi aku bergegas pergi.
__ADS_1