Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 330 : Terbang Ke Kota Berikutnya


__ADS_3

"Capek sekali."


Baru beberapa kota Wisteria sudah mencapai batasnya dikarenakan semakin banyak orang yang bertanya padanya, karena itu juga kami kini menempelnya secara diam-diam saat tidak ada terlalu banyak kerumunan, ini sudah tengah hari jadi waktunya untuk beristirahat.


Ngomong-ngomong bayaran setiap prajurit itu bervariasi tapi UMKI-nya cukup tinggi juga.


UMKI \= upah minimum karyawan iblis.


Sungguh semuanya membuatku terkejut, kami masuk ke sebuah kedai sederhana yang menjual kue dango dan teh hijau. Tempat yang penuh keheningan adalah sesuatu yang cocok untuk kami sekarang.


Akan tetapi Wisteria menggebrak meja, pelayan yang diam beberapa waktu sangat terkejut hingga berteriak.


"Ayam, ayam, ayam."


"Aaah... maafkan aku."


"Tak apa, tolong jangan mengagetkanku seperti itu lagi."


"Aku menyesal."


Aku juga mengangkat tanganku.


"Kaget, kaget, kaget."


"Telat oi," protes Wisteria selagi meminum tehnya.


"Jadi kenapa kau begitu marah?" tanyaku.


"Orang-orang itu terus bertanya, aku tidak keberatan jika soal menyangkut pendaftaran tapi yang mereka tanyakan seperti apa kau mengenakan bra, berapa ukuranmu? Dan pantatmu sangat indah, berapa harga sejamnya?"


Oi bukannya itu tindakan kriminal, teriakku dalam hati.


"Dan beberapa wanita mempunyai pertanyaan berbeda, kau operasi plastik di mana, make up yang kukenakan sepertinya tidak terdapat di badan makanan resmi dan juga pakaianmu sangat murahan."

__ADS_1


Itu kejahatan yang lainnya.


Make up memangnya makanan, sesuai yang diharapkan dari dunia bawah.


Aku menatap dengan pandangan ikan mati, ini dunia bawah sudah sepantasnya iblis bersikap seperti itu. Mari kesampingkan hal itu.


"Apa kau mendengarku? Berhentilah memakan kue dango dengan ekpresi suram seperti itu."


Aku menghela nafas panjang sebelum meminum tehku kembali. Teh bisa membuatmu rileks meskipun dalam keadaan apapun. Aku sering terkena serangan batin oleh istriku jadi aku sering meminum dan itu sangat ampuh.


"Minumlah duku tehnya sebelum dingin."


"Aku mengerti."


Wisteria melakukan apa yang kuminta dan ekpresinya mulai berubah.


"Aku tiba-tiba merasa jadi tenang, kenapa?"


"Teh selalu memiliki khasiat seperti itu, ngomong-ngomong berapa kota lagi yang harus kita kunjungi?"


"Aku mengerti."


Setelah membayar kami keluar kota dan kembali naik burung Nasar.


Burung ini melewati hutan serta pemandangan hijau lainnya.


Aku ingat bahwa hutan ini sebelumnya hutan yang disebut hutan kesunyian, sebelumnya itu hanya pohon-pohon mati tapi sekarang mereka menjadi hijau serta banyak hewan-hewan yang hidup di dalamnya.


Wisteria yang menyadari tatapanku berkata.


"Semuanya berkatmu, aku benar-benar berterima kasih untuk segalanya."


"Kau terlalu banyak mengatakannya, aku tidak melakukan apapun yang serius."

__ADS_1


"Kau selalu merendahkan dirimu."


Aku hanya tersenyum ragu.


Aku melakukan ini sebagian besar karena bosan dan untuk alasan menyelamatkan dunia berada di posisi dua, jadi sebenarnya aku bukanlah orang baik atau seseorang yang pantas disebut pahlawan.


Aku hanya melakukan semua ini hanya untuk kepuasan sendiri.


"Di belakang gunung itu adalah kota berikutnya."


"Yos, aku akan bekerja dua kali lipat."


"Aku akan menambah kecepatannya."


Karena spontan aku memeluk pinggang Wisteria.


"Kau terlalu cepat."


"Ini bukan apa-apa, dan jangan menggosokan dadamu padaku."


"Wanita selalu melakukan ini aku hanya ingin mencobanya tapi rasanya beda."


"Tentu saja akan beda, aku bisa nafsu loh."


Itu bukan perkataan yang dikatakan wanita.


Kami mendarat di luar kota, Wisteria mengusap sayap burungnya.


"Kami akan kembali sandra, tolong jangan pergi terlalu jauh."


Sandra nama burungnya.


"Kwaak."

__ADS_1


Dan dia juga bersuara seperti gagak.


__ADS_2