Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 213 : Rencana Pembangkitan


__ADS_3

Selang beberapa waktu Harty maupun Valentine terlempar ke arahku, tubuh mereka tampak babak belur.


Meski begitu mereka masih bisa bangkit.


Orang-orang ini benar-benar kuat.


"Kau cukup santai bukan?" kata Kuno yang muncul di belakangku selagi mengayunkan pedangnya yang mana kutahan dengan katana Rion.


"Sebentar lagi aku selesai menyembuhkannya, bisakah kau menunggu dulu."


"Memangnya kau pikir kami apa, habisi dia Evila."


"Okay."


Evila bersiap mendaratkan pedangnya dan aku menahan dengan pedang Aira, sungguh orang-orang merepotkan. Kugunakan sedikit energi sihirku hingga keduanya terlempar menjauh.


"Valentine, Harty kalian tak apa?"


"Kami tak apa Lion, tapi mereka sungguh kuat... tubuh mereka tidak normal."


"Aku juga bisa merasakan itu," balasku pada Harty.


Jika Solomon memang berada di belakangnya, hal itu wajar saja. Dia adalah seorang jenius dari teknik Alkimia membuat formula semacam itu merupakan hal mudah seperti membalikan telapak tangan.


"Tolong jaga Selena, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat."


"Kau sungguh angkuh, satu lawan dua jelas bukan situasi menguntungkan bagimu," ucap Evila mengangkat sedikit bahunya.

__ADS_1


"Satu lawan dua kah?"


Saat kedua musuhku mengalihkan pandangan ke sekelilingnya, diriku yang lain bermunculan, tentu itu hanya ilusi meski begitu aku membuatnya sedikit berbeda dari biasanya.


"Kau kira kami takut," teriak Kuno.


"Coba saja jika kau berani."


Mereka telah membantai seluruh penduduk Dark Elf, padahal sebelumnya mereka sangat senang ketika diajarkan bagaimana cara memasak maupun berternak lebah.


Tapi sekarang.


Hal ini tidak bisa kumaafkan, suara Rion dan Aira memotong dalam pikiranku.


"Untuk saat ini aku bisa membuat pengecualian, dewi dilarang ikut campur soal kematian tapi kami bisa mengajari Lion untuk menghidupkan seluruh penduduk ini kembali."


"Bagaimana caranya?"


"Aku mengerti."


Kuno memiringkan kepalanya.


"Kenapa kau hanya diam, apa kau merasa takut?"


"Tidak, aku hanya berfikir bagaimana cara menghabisi kalian berdua."


"Sialan... Evila."

__ADS_1


"Mari habisi."


Keduanya bergerak saat seluruh diriku yang lain menyerang secara serempak, mereka memang ilusi namun saat tubuh itu dihancurkan itu menghasilkan ledakan.


Tubuh Kuno dan Evila terlempar jauh.


"Mustahil, bagaimana bisa ilusi meledak?" teriak Kuno.


Aku jelas tidak akan memberitahukannya, pada dasarnya ilusi ini dibuat dari energi mana yang berasal dari tubuhku, energi mana itu keluar ke udara dan dengan sedikit mantra membuatnya seperti bayanganku.


Aku bisa menggunakan ilusi dengan sihir tujuh dosa mematikan namun sekarang aku menggunakan sihirku sendiri, sebelum kurubah menjadi diriku yang lain aku meletakkan beberapa lingkaran sihir peledak di sana sehingga saat dihancurkan mereka juga akan meledak.


Ini hanya sebuah gertakan saja.


"Kita tidak bisa membuang waktu di sini, biarkan yang satu itu, kita harus kembali."


"Baik."


Atas perkataan Evila, keduanya segera lari ke belakang. Aku memang kesal tapi bukan waktunya untuk mengurusi keduanya.


Rion dan Aira berubah kembali menjadi manusia, Aira mengeluarkan sebuah guci kecil yang terlihat pas untuk di pegang satu tangan.


Ketika dia menutup matanya, tak lama kemudian bola-bola kecil bercahaya berhamburan ke udara kemudian terhisap ke dalamnya.


"Kita sudah menyegel rohnya, tinggal mengumpulkan seluruh penduduk yang terbunuh agar mudah mengatasinya."


"Apa kita bisa segera menghidupkannya?" atas pertanyaanku Aira maupun Rion menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Rion menjelaskan.


"Paling tidak kita harus menyembuhkan tubuh mereka dulu, hal itu bisa dilakukan namun bagian tersulit adalah memasukan roh mereka ke dalamnya."


__ADS_2