Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 208 : Rasa Ketakutan


__ADS_3

"Tepat sekali, aku adalah penyihir gak... gak... menurutmu apa itu kematian?"


Aira dan Rion menarik semua orang menjauh saat aku melompat ke udara selagi berhadapan satu sama lain dengan Aspalta.


Aku bahkan ragu untuk menyebutnya sebagai manusia.


"Kematian hanya sesuatu yang datang tanpa pemberitahuan."


"Gak... gak... kau takut dengan kematian?"


"Kenapa aku harus takut."


Aku mengarahkan tanganku dan pedang muncul di tanganku.


Berbeda dengan aku yang menatap datar, Aspalta terlihat sangat terpengaruh dengan perkataanku.


"Semua manusia takut kematian, bahkan orang-orang ini... mereka meminta pengampunan untuk nyawaku bahkan mereka memohon-mohon dengan menyedihkan, gak.. gak.. aku sangat terhibur, mereka akan melakukan apapun hanya agar dibiarkan hidup, tentu aku memberikan harapan kecil itu pada mereka lalu membunuh mereka setelah, dan kuabadikan seperti ini.. sungguh menyegarkan."


"Itu memang menyegarkan, bagaimana jika kau juga bergabung dengan mayat-mayat di sekelilingmu dan merasakan seperti apa yang dirasakan mereka sebelumnya."


Aku muncul di depan Aspalta sembari mengayunkan pendangku, para mayat berkerumun di depannya untuk melindunginya.


Tentu aku tidak perlu menghentikan serangannya karena itu tebasanku memotong para mayat tersebut bersamaan tubuh Aspalta sekaligus.

__ADS_1


Para mayat berjatuhan sementara tubuh Aspalta terpotong walau masih mengambang di udara.


Darahnya tidak jatuh dan hanya melayang dan bicara dengan tubuh terbelah.


"Kau sangat dingin gak... gak... mereka semua orang baik tapi kau membunuhnya."


"Mayat tetaplah mayat, itu tidak berarti apapun."


Aku memanggil lingkaran sihir dari telapak tanganku, saat aku berkata, "Hellfire," api tercipta di sana. Seberapa tubuhnya abadi jika tubuhnya dihancurkan hingga tak bersisa mereka tetap akan mati.


Konsep ini berlaku pada zombie juga.


Aku hanya menyaksikan tubuh Aspalta hancur lebur, saat aku mengalihkan pandanganku ke arah salah satu mayat, dia membuka matanya lalu meluncur ke arahku.


"Jadi begitu, mayat-mayat ini juga berfungsi sebagai tubuhmu."


"Gak...gak... benar sekali, inilah konsep keabadian, menarik bukan."


Menjadikan mayat sebagai tubuh diri sendiri hanya mengundang rasa menjijikan di dalam mulutku.


Tanpa menjeda seranganku aku terus menyerang Aspalta di tubuh siapapun dia muncul, tanpa ragu aku juga membakar mayat yang tidak bergerak.


Ketika aku bertanya-tanya kemana lagi dia masuk, sosok Aspalta telah berdiri di atasku, penampilannya seperti sebelumnya dengan mata tertutup serta mulut ikan hiu dan tubuh dililit rantai.

__ADS_1


Di sekelilingnya lingkaran sihir dengan jumlah luar biasa bermunculan.


"Kukira kau juga penyihir, bagaimana kau akan mengatasi hal ini?"


"Jangan remehkan aku."


"Tentu saja, aku tidak pernah meremehkan siapapun lawanku."


Para mayat mulai memegangi seluruh tubuhku, seperti yang kutahu tidak ada kehangatan diantara mereka.


"Aku bisa menyediakan tubuh baru sebanyak yang kumau, matilah bersama mereka."


Dari lingkaran sihir itu masing-masing mengeluarkan bola api dengan jumlah mengagumkan, menghujaniku layaknya hujan namun kecuali aku seluruh mayat telah lenyap.


"Gak.... gak... gak... sudah kuduga kau ini memiliki kemampuan luar biasa."


Meski dia melawanku penyihir ini tidak sedikitpun gentar, aku telah membunuhnya beberapa kali namun tidak ada sedikitpun ketakutan di wajahnya.


Jika mengasumsikan hal ini kata 'rusak' adalah sesuatu yang cocok dengannya.


Sebelum dia mulai serius aku harus membunuhnya, aku mengalihkan pandanganku ke bawah kota dan semua orang tampak menengadah melirik ke arahku.


Rion dan Aira telah menciptakan sihir pelindung jadi aku bisa bertarung sebebas yang kuinginkan.

__ADS_1


__ADS_2